Peran Aktifisme dan Gerakan Muda dalam Mendukung Perjuangan Palestina

Dalam berbagai perbincangan mengenai isu Palestina, sering kali kita dihadapkan pada kenyataan bahwa krisis adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Namun, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita merespons krisis ini dengan solusi yang sistematis dan berbasis pada gerakan ilmiah. Kepercayaan diri dalam membangun perlawanan menjadi elemen utama, terutama bagi umat Islam dan bangsa-bangsa bekas jajahan yang hingga kini masih berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme modern.
Menelaah Dinamika Aktivisme Mahasiswa
Dalam upaya menggerakkan solidaritas bagi Palestina, ada dua studi kasus yang menarik untuk direfleksikan. Pertama, ketika pada awal tahun 2024 pasca Pemilu di Indonesia, isu Palestina muncul secara dinamis namun kemudian tenggelam dalam berbagai perdebatan politik domestik. Saat itu, inisiasi untuk menjadikan isu Palestina sebagai isu strategis dalam gerakan mahasiswa progresif tidak mendapat sambutan yang kuat, bahkan layu sebelum berkembang.
Kasus kedua terjadi ketika seorang akademisi diundang menjadi pemateri dalam latihan kader tingkat madya organisasi mahasiswa besar di Indonesia. Ironisnya, sebelum materi disampaikan, peserta pelatihan justru menunjukkan sikap skeptis dan mempertanyakan relevansi pembahasan Palestina dengan kepentingan nasional Indonesia. Namun, setelah diskusi lebih mendalam yang menyoroti Palestina dalam konteks kolonialisme dan imperialisme, barulah kesadaran mulai tumbuh di kalangan peserta.
Dua peristiwa ini menunjukkan bahwa masih ada kendala dalam membangun kesadaran kolektif yang utuh terhadap isu Palestina. Hal ini menjadi dasar untuk merancang gerakan yang lebih sistematis dan terorganisir.
Sebagai respons terhadap stagnasi kesadaran ini, gerakan Free Palestine Network diinisiasi secara lebih sistematis pada 2 Mei 2024. Seruan dilakukan kepada mahasiswa untuk memulai camping solidaritas di berbagai kampus, sebagaimana telah dilakukan oleh mahasiswa di Amerika dan Eropa. Langkah ini bertujuan untuk menjadikan solidaritas terhadap Palestina sebagai gerakan yang masif dan berkesinambungan.
Momentum ini sempat mendapat respons positif, seperti yang terjadi pada 7 Mei 2024 ketika kampus-kampus Muhammadiyah menginstruksikan aksi serentak di seluruh Indonesia. Namun, seperti halnya gerakan-gerakan sebelumnya, aksi tersebut belum mampu berkembang menjadi gelombang yang lebih luas dan berkelanjutan.
Untuk memastikan keberlanjutan gerakan, tidak cukup hanya mengandalkan aksi-aksi temporer. Perjuangan membela Palestina harus dilakukan setiap hari, di setiap ruang diskusi, di setiap forum akademik, di setiap komunitas mahasiswa, dan di setiap kelompok pemuda. Isu ini harus dipahami sebagai bagian dari perjuangan global melawan kolonialisme dan imperialisme yang masih bercokol dalam berbagai bentuknya.
Menghilangkan Bias dan Polarisasi
Salah satu tantangan terbesar dalam membangun solidaritas terhadap Palestina adalah adanya bias dan polarisasi dalam masyarakat. Selama ini, isu Palestina kerap diklaim oleh kelompok-kelompok tertentu yang eksklusif dan reaksioner, sehingga menimbulkan kesan bahwa perjuangan ini hanya milik segmen tertentu. Akibatnya, sebagian masyarakat mulai mengalami keengganan untuk terlibat.
Oleh karena itu, penting untuk mendefinisikan kembali isu Palestina sebagai bagian dari perjuangan universal melawan ketidakadilan. Isu ini tidak hanya menyangkut umat Islam, tetapi juga merupakan masalah kemanusiaan yang melibatkan semua pihak, terlepas dari latar belakang agama atau ideologi mereka. Kesadaran ini harus dibangun dalam kerangka berpikir yang lebih luas dan berbasis pada analisis sistemik terhadap kolonialisme dan imperialisme.
Jihad Ilmiah sebagai Fondasi Perlawanan
Dalam konteks perjuangan ini, penting untuk membangun jihad ilmiah yang sistematis dan berbasis pada metodologi yang kuat. Tanpa pemahaman yang mendalam, gerakan solidaritas terhadap Palestina akan tetap mengambang dan hanya menjadi slogan atau sekadar retorika di webinar dan seminar. Oleh karena itu, Free Palestine Network telah menginisiasi serangkaian pelatihan dan workshop untuk membangun kesadaran kritis di kalangan pemuda dan mahasiswa. Hingga kini, sudah ada lima angkatan kader revolusioner yang dilatih dalam delapan sesi pelatihan intensif.
Hanya dengan pendekatan ilmiah dan metodologi gerakan yang terstruktur, kita dapat memastikan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak sekadar menjadi simbol, tetapi berkembang menjadi gerakan revolusioner yang berkelanjutan. Revolusi Iran pada 1979, misalnya, telah menjadi inspirasi bagi banyak negara bekas jajahan untuk melanjutkan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Demikian pula, perjuangan Palestina harus dilihat sebagai bagian dari agenda global untuk menumbangkan sistem yang menindas.
Tugas kita hari ini adalah merajut seluruh kekuatan yang peduli terhadap Palestina, tanpa melihat latar belakang agama atau ideologi mereka. Solidaritas ini harus menjadi gerakan multidimensi yang melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk akademisi, mahasiswa, dan aktivis dari berbagai latar belakang.
Kita tidak bisa hanya mengandalkan seruan atau aksi satu hari dalam setahun. Setiap minggu harus menjadi momentum perlawanan, setiap diskusi harus menjadi arena penyadaran, dan setiap gerakan harus menjadi bagian dari upaya mengakhiri kolonialisme dan imperialisme di Palestina.
Hanya dengan gerakan yang berkesinambungan dan berbasis pada metodologi yang kuat, kita dapat memastikan bahwa perjuangan Palestina tidak hanya menjadi kenangan di webinar, tetapi benar-benar mengarah pada perubahan nyata. Dengan semangat jihad ilmiah dan kesadaran kritis, kita dapat membangun gerakan perlawanan yang solid dan revolusioner untuk membebaskan Palestina dari belenggu penjajahan.
Materi ini disampaikan oleh Furqon AMC – Sekjen Free Palestine Network – Webinar Memperingati Hari Quds
