{"id":179,"date":"2010-12-01T04:38:40","date_gmt":"2010-12-01T04:38:40","guid":{"rendered":""},"modified":"2011-04-25T07:43:34","modified_gmt":"2011-04-25T07:43:34","slug":"karbala-padang-cinta-husayn-imam-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/karbala-padang-cinta-husayn-imam-cinta\/","title":{"rendered":"Karbala Padang Cinta, Husayn Imam Cinta"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"\/images\/stories\/ashura.jpg\" border=\"0\" width=\"150\" height=\"140\" align=\"left\" \/><\/p>\n<div style=\"text-align: center\">\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Oleh : Dr. Haidar Bagir<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201dAgama adalah cinta dan cinta adalah agama\u201d\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">(Imam Ja\u2019far al-Shadiq)<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: center\">\u201dOrang yang paling rahim adalah yang memaafkan padahal sebetulnya ia mampu membalas-dendam\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">(Imam Husayn)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u201dAgama adalah cinta dan cinta adalah agama\u201d. Imam Ja\u2019far sesungguhnya hanya sedang mengungkapkan prinsip dasar, yang melandasi semua saja ajaran-ajaran dan prinsip agama Islam. Memang, siapa bisa membantah bahwa di atas semuanya Islam adalah agama cinta?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Karena itu. Apa saja yang dilakukan oleh para penghulu agama ini tak mungkin dapat dilihat dengan benar kecuali dengan kaca mata cinta. Bukan hanya ketika Nabi saw. mengampuni orang-orang Tha\u2019if yang memprosekusinya, atau ketika ia memaafkan semua kafir Quraisy yang menindasnya justru ketika ia gilang-gemilang menaklukkan mereka di Fath Makkah, tapi bahkan ketika ia saw. memerangi mereka. Penghukuman, peperangan, bakan pembunuhan adalah bukan saja bagian dari kecintaan kepada kemanusiaan dan upaya menyelamatkannya dari kerusakan yang dibuat orang-orang yang telah menganiaya diri (fitrah)-nya, tapi juga bagian dari kecintaan kepada pelakunya. Ia harus dihukum agar mendapat pelajaran demi perbaikan dirinya. Bahkan jika ada yang harus dibunuh, maka tujuannya adalah mencegahnya dari lebih jauh menganiaya diri sendiri, yang akan menyengsarakannya di dunia dan di kehidupan yang lain kelak setelah kematiannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Persis inilah yang dilakukan Imam Husayn ketika ia meninggalkan Makkah untuk pergi ke Kufah, dan akhirnya syahid di tengah perjalanan \u2013 Karbala \u2013 bersama nyaris semua anggota keluarga dan segelintir pengikut-setianya. Peristiwa Karbala, karena itu, pasti bukan persoalan ambisi untuk berkuasa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Imam Husayn, seperti ayahnya, pastilah sorang fataa. Seorang kesatria-sufi. Ungkapan Nabi Muhammad saw. &#8212; laa fataa illaa \u2019Ali (tak ada kesatria seperti Ali) &#8212; tentu tak kurang-kurang sesuai untuk putranya ini. Karena, bukankah Nabi yang sama mengatakan tentang sang putra, bahwa ia Tuan dari seluruh martir (sayyid al-syuhada)? Tapi, seperti fataa, bukan saja dia adalah ahli perang dan pemberani didikan sang \u201dsinga\u201d (haydar) Ali. Tapi, seperti ayah, ibu, dan kakeknya pula, dia adalah teladan \u201dpenyangkalan diri\u201d sempurna, dan simbol-puncak kecintaan kepada Tuhan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Inilah katanya :<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201dButalah mata seseorang yang tidak menganggap bahwa Engkau mengawasinya. Merugilah peniagaan seseorang yang belum memperoleh cinta-Mu sebagai labanya\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Atau :<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201dApakah gerangan yang diperoleh seseorang yang kehilangan Diri-Mu. Masih adakah kekurangan bagi seseorang yang mendapatkanmu?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Memang fakta sama sekali bukan hanya kesatria perang yang sakti mandraguna dalam menaklukkan musuh-musuhnya. Sama sekali tak bisa diperbandingkan dengan itu semua, fataa adalah penakluk diri sendiri, ego angkara-murka yang selalu cenderung mendorong ke arah pembangkangan kepada Allah. Dia tentu adalah mujahid. Tapi bukan hanya mujahid dalam peperangan, melainkan mujahid al-nafs (kesatria perang melawan diri sendiri). Itu sebabnya dikatakan, tak ada peperangan di medan tempur(jihad ash-ghar atau jihad kecil) yang dilakukan tanpa didahului peperangan \u2013hati melawan nafsu angkara-murka (jihad besar atau jihad akbar).\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Tidak, bahkan lebih dari itu. Ayatullah Jawadi Amuli menyebut jihad melawan hawa nafsu sebagai jihad pertengahan (jihad awsath). Sedangkan jihad akbar adalah jihad antara cinta melawan rasio, antara syuhud melawan filsafat. Dan kemenangan dalam jihad puncak ini sama dengan keberhasilan cinta menaklukkan rasio, keberhasilan syuhud menaklukkan filsafat.\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Lalu, Ayatullah Amuli pun menegaskan bahwa jihad Imam Husayn di Karbala meliputi dua jenis cinta : cinta pada Allah, serta cinta dan pengorbanan bagi manusia. Memang, sebagai seorang fataa seperti ayahnya, dia adalah sayyid al-fityan, simbol keberanian, kedermawanan, dan ketanpa-pamrihan. Seperti kata Nabi saw. kepada Ali ra. (yang dikutip banyak sufi) : \u201dWahai Ali. Seorang fataa adalah orang yang jujur, percaya, amanah, pengasih, pelindung kaum papa, amat dermawan dan santun, gemar berbuat amal-amal baik, dan berpenampilan sederhana.\u201d Seorang fataa memiliki harga diri (muruwwah). Bukan saja harga diri di depan orang lain, melainkan harga diri sebagai manusia, yang tak hendak menurunkan kemanusiannya dengan menganiaya fitrahnya. Seorang \u00a0fataa, meneladani Tuhannya, mendahulukan kasih sayang atas kemurkaan. Seperti Tuhan yang siap mengampuni semua dosa, ia tak putus asa terhadap orang-orang. Dan ini sama sekali tak bertentangan dengan prinsip keadilan. \u00a0Seperti dikatakan Reza Shah-Karemi, dilihat dari perspektif ontologis, kasih sayang adalah satu aspek keadilan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u00a0Bukan hanya Islam, bahkan (atau, seharusnya, tentu) mazhab Syi\u2019ah, adalah mazhab cinta. Bukankah, kalau kita harus menyebut satu saja ciri mazhab ini, itulah mesti \u201dwilayah\u201d? Wilayah adalah kepemimpinan, ketundukan kepada pemimpin. Tapi wilayah juga sepenuhnya berarti kecintaan, pengasihan. Kecintaan dan pengasihan kepada pimpinan, sekaligus kecintaan pemimpin (waliy) kepada yang dipimpinnya. Kecintaan pemimpin sebagai perpanjangan tangan Wali-Puncaknya, yaitu Allah Swt.?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Orang boleh mengira bahwa lawannya cinta adalah kebencian. Sehingga, untuk mencintai seseorang, atau mencintai Allah, kita harus membenci musuh-musuh orang itu atau musuh-musuh Tuhan.. Tapi, hemat saya, lawannya cinta bukanlah kebencian. Cinta adalah keseluruhan. Tak ada ruang di luar cinta. Tak ada lawan-kata untuk cinta. Kalau pun mesti ada kosa kata \u201dkebencian\u201d maka itu hanya layak ditujukan kepada perbuatan, bukan kepada orang-orang. Kita boleh, bahkan harus, benci kepada perbuatan buruk. Tapi tetap oleh kecintaan kita agar tak ada manusia apa pun yang terus terjebak ke dalam keburukan. Kita harus membenci perbuatan orang, kita tentu saja boleh memperingatkan, bahkan menghukum jika diperlukan. Tapi, kebencian kepada perbuatan buruk, peringatan, bahkan hukuman tetap harus diteteskan dari sumber cinta.\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Seperti kata Dr. Ibrahim Ayati :<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201cImam Husayn bangkit demi suatu sasaran yang luhur. Bukanlah sasarannya agar Yazid berhenti berkuasa dan sebagai gantinya dialah yang memerintah. Dengan kata lain, dia tak mempunyai unek-unek pribadi dengan Yazid. Dia mendukung kebenaran dalam bentuk apa pun ia tampil, dan melawan kepalsuan, baik itu dipimpin Yazid atau siapa pun. \u201c<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Karena itu, sudah pasti, Karbala bukan persoalan kebencian. Karbala boleh jadi melibatkan kejahatan dan kekejian terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan, tapi tetap saja ia adalah persoalan cinta. Persoalan cinta Tuhan, dan melebur (kembali) ke dalam Dia. Persoalan memaafkan, dan bukan kebencian. Persoalan memaafkan, dan menjadi seperti Tuhan. Karena itu, Karbala tentu bukan hanya persoalan memukul-mukul dada, apalagi melukai tubuh sendiri. Dan sudah pasti Karbala bukan hanya soal laknat-melaknat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Satu lagi. Tragedi Karbala bukan hanya bukan persoalan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut mazhab Syi\u2019ah atau mazhab Ahl al-Bayt (Keluarga Rasul) saja \u2013 apalagi tak ada sesungguhnya Muslim yang boleh merasa sebagai bukan pengikut Keluarga Rasul. Siapa pun akan mengerdilkan peristiwa Karbala jika tak melihatnya sebagai memiliki tujuan kemanusiaan universal. Bahkan tak hanya terbatas pada kaum Muslim belaka. Inilah kata Muthahhari, seorang ulama besar yang telah membaktikan diri sebagai pengikut Imam Husayn r.a dengan cara mendedikasikan hidupnya bagi perbaikan kemanusiaan dan mengorbankan dirinya sebagai syahid untuk misinya itu :<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u00a0(\u201cSalah satu) syarat bagi suatu gerakan suci (seperti Karbala) adalah bahwa ia tak semestinya memiliki tujuan yang besifat personal, yang (hanya) terkait dengan kepentingan individual. Ia harus bersifat universal dan meliputi seluruh kemanusiaan dan spesies manusia. &#8230;. Seseorang yang melancarkan perjuangan seperti ini sesungguhnya mewakili semua manusia. &#8230; Inilah sebabnya Rasul saw. menyatakan : \u201cHusayn adalah (bagian) dariku dan aku (bagian) dari Husayn\u201d. (Yakni, bukankah Allah Swt, memfirmankan bahwa Rasul saaw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam?).\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Karbala, seperti kata Rumi, harus dilihat dengan memusatkan perhatian kepada Imam Husayn, pusat-agung dari semua peristiwa ini. Kepada teladan kecintaan sempurna kepada Tuhan dan kemanusiaan universal, serta penyangkalan diri habis-habisan di hadapannya. Bukan kepada peperangan, pertumpahan darah, kejahatan, kekejaman, kehewanan, dan nafsu ingin balas dendam. Bahkan juga bukan semata-mata duka dan kesedihan. Karbala adalah tentang kita belajar cinta kepada Tuhan, dari Tuan-Nya Para Penghulu Syuhada ini. Seperti Iqbal saja, kita bisa berkata : Peran Husayn di Karbala begitu agungnya sehingga ia memupuskan gagasan-buas tentang kekejaman dan keberdarah-dinginan. Gelombang darah Husayn, kata penyair anak-benua pencinta Keluarga Nabi ini, telah menciptakan taman yang menyimbolkan pengorbanannya bagi pelestarian kebebasan dan kebenaran. Persis seperti yang diungkapkan Zaynab ra., di tengah bau anyir darah keluarga Imam Husayn di padang Karbala : \u201dAku mencium harum bau surga di sini.\u201d Sehingga, seperti kata Rumi tentang peristiwa ini :\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201c\u2026 kalau ini persoalan menyawang (dunia ruhani), kenapa tidak berani, kenapa tak menyokong (orang lain), kenapa tak berkorban-diri, dan sempurna terpuasi?\u201d\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Semoga Allah Swt. membuka dada kita selapang-lapangnya untuk dapat merasakan luapan cinta Imam Husayn, dan meneladaninya, meski mungkin besarnya cuma setetes dibanding samudera yang dibentangkannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201cBumi bergetar, berguncang; langit meraung-raung<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Ini bukan perang, ini adalah pengejawantahan cinta\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201cKesusahan syahadah, dengar!, adalah hari suka-cita.<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Yazid bahkan tak peroleh sezarah cinta ini<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Kematian adalah hujan untuk anak-anak Ali\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201cKesusahan syahadah adalah seluruh musim hujan penuh suka-cita\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Yazid tak temukan jejak-jejak cinta ini<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">Untuk dibunuh adalah keputusan Imam sendiri\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">sejak mula-mula sekali\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u201cSurga adalah kediaman merka\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">dalam kejayaan mereka telah mangkat ke surga<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u00a0Mereka telah malih fana dalam Tuhan<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">dengan-Nya mereka telah jadi Dia\u201d\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: center\">\u00a0<span style=\"white-space: pre\" class=\"Apple-tab-span\">\t<\/span>(Abdul-Lathif dari Bhit,1689-1752)<\/div>\n<div style=\"text-align: center\"><\/div>\n<div id=\"themify_builder_content-179\" data-postid=\"179\" class=\"themify_builder_content themify_builder_content-179 themify_builder themify_builder_front\">\n\n\t<\/div>\n<!-- \/themify_builder_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 \u00a0 \u00a0 Oleh : Dr. Haidar Bagir \u201dAgama adalah cinta dan cinta adalah agama\u201d\u00a0 (Imam Ja\u2019far al-Shadiq)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-179","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","has-post-title","no-post-date","has-post-category","has-post-tag","has-post-comment","has-post-author"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=179"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=179"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=179"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=179"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}