{"id":3295,"date":"2016-10-09T17:19:19","date_gmt":"2016-10-09T10:19:19","guid":{"rendered":"http:\/\/ikmalonline.com\/?p=3295"},"modified":"2016-10-09T17:19:20","modified_gmt":"2016-10-09T10:19:20","slug":"tasawuf-dalam-al-quran-bagian-kedua-dari-dua-tulisan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/tasawuf-dalam-al-quran-bagian-kedua-dari-dua-tulisan\/","title":{"rendered":"Tasawuf dalam Al-Qur\u2019an (Bagian Kedua dari Dua Tulisan)"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_3296\" style=\"width: 285px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-3296\" class=\"size-full wp-image-3296\" src=\"http:\/\/ikmalonline.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/tasawufquran.jpg\" alt=\"tasawuf alquran\" width=\"275\" height=\"183\" srcset=\"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/tasawufquran.jpg 275w, https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/tasawufquran-226x150.jpg 226w\" sizes=\"auto, (max-width: 275px) 100vw, 275px\" \/><p id=\"caption-attachment-3296\" class=\"wp-caption-text\">quran dan tasawuf<\/p><\/div>\n<p>Untuk menjawab sejauhmana kebenaran kaum sufi dalam menjelaskan\u2014berdasarkan modal utama tasawuf Islam\u2014kaidah-kaidah dan kriteria-kriteria tasawuf yang sahih dan sejauhmana mereka tidak menyimpang dari prinisp-prinsip hakiki Islam serta sejauhmana keterpengaruhan tasawuf Islam oleh aliran\/mazhab dari luar, maka semua pertanyaan ini memerlukan kajian dan penelitian tersendiri.\u201d<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Penulis akan merangkum alasan-alasan yang dikemukakan oleh pandangan pertama dan sekaligus pandangan kedua di bawah ini:<\/p>\n<p>Kedua pandangan di atas mengklaim bahwa Islam adalah agama yang sederhana, mampu dipahami oleh umumnya masyarakat, dan tidak akan membebankan sesuatu yang di luar kemampuan manusia serta tidak mengandung ajaran yang penuh rahasia, samar dan sulit dimengerti.<\/p>\n<p>Tauhid yang merupakan pondasi ajaran Islam adalah tauhid yang dangkal\/mudah. Misalnya, setiap rumah pasti ada yang membangun dan antara pembangun dan rumah pasti berbeda dan tidak dapat disamakan di antara keduanya. Demikian juga alam yang mempunyai Pencipta yang berbeda dan terpisah dengannya.<\/p>\n<ul>\n<li>Zuhud merupakan sebuah solusi dan terapi yang ditawarkan Islam untuk menghadapi daya tarik dan pesona dunia. Zuhud bermakna berpaling dari pelbagai kenikmatan duniawi yang fana dan berusaha mencapai kenikmatan ukhrawi yang kekal.<\/li>\n<li>Terkait dengan pengaturan perbuatan-perbuatan <em>mukallaf<\/em>, fikih Islam merupakan solusi dan rujukannya.<\/li>\n<li>Tauhid yang dikemukan <em>\u2018ur\u00e2f\u00e2<\/em> bukanlah tauhid yang ditawarkan dalam Islam karena pendekatan dan penjelasannya berbeda sekali, misalnya paham <em>w<\/em><em>ahdat al-wuj\u00fbd <\/em>yang sangat asing bagi kebanyakan orang.<\/li>\n<li><em>Sayr<\/em> dan <em>sul\u00fbk\u2018irf\u00e2ni<\/em> juga berbeda dengan zuhud yang direkomendasikan Islam. Sebab dalam <em>sayr<\/em> dan suluk terdapat pemahaman-pemahaman, seperti <em>\u2018isyq<\/em> (cinta) dan <em>mahabbah <\/em>Ilahiah, fana dalam Tuhan, <em>tajalli<\/em> Allah dalam hati <em>\u2018\u00e2rif <\/em>yang semua ini tidak pernah dibahas dalam zuhud Islam.<\/li>\n<li>Adab-adab tarekat yang diamalkan dalam tasawuf pun adalah perbuatan yang tidak pernah ditegaskan dan didukung oleh syariat Islam atau fikih.<a href=\"#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Muthahari menampik dan menolak pelbagai alasan tersebut dengan mengatakan,<\/p>\n<p>Pada hakikatnya pandangan kelompok ini tidak dapat dibenarkan. Modal-modal dasar dan pertama <em>tasawuf<\/em>Islami lebih kaya daripada apa yang diasumsikan\u2014baik karena kebodohan maupun kesengajaan\u2014oleh kelompok ini. Tauhid Islami tidak sesederhana dan sedangkal yang dibayangkan oleh mereka. Demikian juga zuhud dalam Islam tidak sekering dugaan mereka. Dan kalangan sahabat tidak hanya abid dan zahid biasa yang beribadah hanya untuk mendapatkan pahala\/surga atau takut dari siksaan\/neraka. Di samping itu, adab-adab Islam tidak hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan fisik dan anggota badan (sebagaimana yang diatur dalam fikih).<a href=\"#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Bila memang sumber utama tasawuf Islam itu ada dari khazanah dan pustaka Islam sendiri maka mestinya al-Qur\u2019an sebagai sumber pertama dan utama syariat Islam memberikan tempat yang layak baginya. Al-Qur\u2019an sebagai pedoman hidup setiap muslim seharusnya menjadi rujukan utama dalam hal ibadah, zuhud, dan masalah spiritual yang krusial lainnya. Apakah memang demikian adanya? Lalu sejauhmana al-Qur\u2019an menjelaskan dan merumuskan pemikiran tasawuf dan bagaimana posisi tasawuf di dalamnya? Apakah al-Qur\u2019an menyapa kaum <em>\u00e2bid<\/em> dan <em>z\u00e2hid<\/em> dengan bahasa biasa dan berbicara dengan<em>\u2019\u00e2rif<\/em> dengan bahasa dan pendekatan yang khusus? Apakah pesan tauhid yang mendominasai mayoritas ayat-ayat al-Qur\u2019an itu disampaikan dengan bahasa dan tingkat pemahaman yang sama?<\/p>\n<p>Muthahari menguak jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengatakan,<\/p>\n<p>\u201cAl-Qur\u2019an <em>al<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Kar\u012dm<\/em> di bidang tauhid tidak pernah mengkiaskan Tuhan dan penciptaan seperti pembuat rumah dan rumah. Al-Qur\u2019an mengenalkan Tuhan sebagai Pencipta dan Pembuat dunia, dan di saat yang sama mengatakan bahwa Zat suci-Nya ada di setiap tempat,<\/p>\n<p><em>\u201cMaka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a><\/p>\n<p><em>\u201cDan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a><\/p>\n<p><em>\u201c<\/em><em>Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin<\/em><em>.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Menurut Muthahari, <em>\u201cayat-ayat seperti tersebut\u2014tentu masih ada ayat-ayat lain semacam ini\u2014menggiring pemikiran menuju tauhid yang lebih baik dan lebih tinggi dari sekadar tauhid orang-orang awam.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a><\/p>\n<p>Berkaitan dengan <em>sayr<\/em> dan suluk serta melalui jenjang-jenjang kedekatan dengan <em>al-Haqq<\/em> sampai <em>manzilah<\/em> yang terakhir, Muthahari mengisyaratkan sebagian ayat yang terkait dengan <em>liq\u00e2\u2019ullah<\/em> dan ayat-ayat yang berhubungan dengan <em>ridhw\u00e2nullah<\/em> serta ayat-ayat yang berhubungan dengan wahyu dan ilham serta pembicaraan malaikat kepada selain nabi, seperti Maryam, dan khususnya ayat-ayat mi\u2019raj Rasul saw.<a href=\"#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Di samping itu, Muthahari menegaskan bahwa di dalam al-Qur\u2019an terdapat pembicaraan tentang <em>nafs al-amm\u00e2rah, nafs al-laww\u00e2mah, <\/em>dan<em> nafs al-muthma\u2019innah<\/em>. Dan juga pembicaraan tentang <em>ilmu if\u00e2dh<\/em>i, <em>ilmu laduni<\/em>, dan hidayah-hidayah yang diberikan karena <em>muj\u00e2hadah, <\/em><\/p>\n<p><em>\u201cDan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p>Juga dalam al-Qur\u2019an terdapat penjelasan tentang <em>tazkiyah an nafs <\/em>yang diperkenalkan sebagai satu-satunya jalan yang menyebabkan keberhasilan dan kesuksesan, <em>\u201cSesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn10\" name=\"_ftnref10\">[10]<\/a><\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Lihat: Murtadha Muthahari, <em>Kulliyy\u00e2t \u2018Ulum Islamiy<\/em>, hal. 89. <em>Pengantar Ilmu-Ilmu Islam<\/em><em> (<\/em>Tim penerjemah: Ibrahim Husain al-Habsyi, Ilyas Hasan, Muhsin Ali, Abdullah Ali, Muhammad Jawad), Pustaka Zahra, 2003, 1424 H, hal 101.<\/p>\n<p>Murtadha Muthahari, <em>Bedah Tuntas Fitrah<\/em><strong>, <\/strong>Dialihbahasakan oleh H. Alif Muhammad, Jakarta: PenerbitCitra, 2011 M, hal. 44.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Rangkuman dalil-dalil pendukung pandangan pertama dan kedua ini penulis sarikan dari buku karya Murtadha Muthahari, <em>Kulliyy\u00e2t \u2018Ulum Islamiy<\/em>, hal. 89.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a> Murtadha Muthahari, <em>Kulliyy\u00e2t \u2018Ulum Islamiy<\/em>, hal. 90.<\/p>\n<p>.<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> QS 2 : 115. Teks ayat tersebut sebagai berikut :<\/p>\n<p>\u0641\u064e\u0623\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0645\u0627 \u062a\u064f\u0648\u064e\u0644\u0651\u064f\u0648\u0627 \u0641\u064e\u062b\u064e\u0645\u0651\u064e \u0648\u064e\u062c\u0652\u0647\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> QS 56: 85. Teks ayat tersebut sebagai berikut :<\/p>\n<p>\u0648\u064e \u0646\u064e\u062d\u0652\u0646\u064f \u0623\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0628\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref6\" name=\"_ftn6\">[6]<\/a>QS 57: 3. Teks ayat tersebut sebagai berikut :<\/p>\n<p>\u0647\u064f\u0648\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0648\u0651\u064e\u0644\u064f \u0648\u064e \u0627\u0644\u0652\u0622\u062e\u0650\u0631\u064f \u0648\u064e \u0627\u0644\u0638\u0651\u064e\u0627\u0647\u0650\u0631\u064f \u0648\u064e \u0627\u0644\u0652\u0628\u0627\u0637\u0650\u0646\u064f \u0648\u064e \u0647\u064f\u0648\u064e \u0628\u0650\u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0634\u064e\u064a\u0652\u200f\u0621\u064d \u0639\u064e\u0644\u064a\u0645<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref7\" name=\"_ftn7\">[7]<\/a> Murtadha Muthahari, <em>Kulliyy\u00e2t \u2018Ulum Islamiy<\/em>, (terbitan Intisyarat Shadra 1429 H), hal. 91.<\/p>\n<p>Teks bahasa Persinya adalah<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref8\" name=\"_ftn8\">[8]<\/a> Murtadha Muthahari, <em>Kulliyy\u00e2t \u2018Ulum Islamiy<\/em>, hal. 91. MuhyiddinIbn Arabi, <em>Al<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Futuh\u00e2t al<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Makkiyah, <\/em>Beirut: Dar Shadir, 2004 M, hal 54.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref9\" name=\"_ftn9\">[9]<\/a> QS 29: 69. Teks ayat tersebut sebagai berikut :<\/p>\n<p>\u0648\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u064a\u0646\u064e \u062c\u0627\u0647\u064e\u062f\u064f\u0648\u0627 \u0641\u064a\u0646\u0627 \u0644\u064e\u0646\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0633\u064f\u0628\u064f\u0644\u064e\u0646\u0627<\/p>\n<p><a href=\"#_ftnref10\" name=\"_ftn10\">[10]<\/a> QS 91: 9-10. Teks ayat tersebut sebagai berikut :<\/p>\n<p>\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0623\u064e\u0641\u0652\u0644\u064e\u062d\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0632\u064e\u0643\u0651\u064e\u0627\u0647\u0627 \u0648\u064e \u0642\u064e\u062f\u0652 \u062e\u0627\u0628\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062f\u064e\u0633\u0651\u064e\u0627\u0647\u0627<\/p>\n<div id=\"themify_builder_content-3295\" data-postid=\"3295\" class=\"themify_builder_content themify_builder_content-3295 themify_builder themify_builder_front\">\n\n\t<\/div>\n<!-- \/themify_builder_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk menjawab sejauhmana kebenaran kaum sufi dalam menjelaskan\u2014berdasarkan modal utama tasawuf Islam\u2014kaidah-kaidah dan kriteria-kriteria tasawuf yang sahih dan sejauhmana mereka tidak menyimpang dari prinisp-prinsip hakiki Islam serta sejauhmana keterpengaruhan tasawuf Islam oleh aliran\/mazhab dari luar, maka semua pertanyaan ini memerlukan kajian dan penelitian tersendiri.\u201d[1] Penulis akan merangkum alasan-alasan yang dikemukakan oleh pandangan pertama dan sekaligus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":3296,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[125],"tags":[280],"class_list":["post-3295","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-irfan","tag-tasawuf-dalam-al-quran","has-post-title","no-post-date","has-post-category","has-post-tag","has-post-comment","has-post-author"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3295"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3295\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3297,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3295\/revisions\/3297"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}