{"id":7216,"date":"2018-04-10T10:33:06","date_gmt":"2018-04-10T03:33:06","guid":{"rendered":"http:\/\/ikmalonline.com\/?p=7216"},"modified":"2018-04-11T10:04:59","modified_gmt":"2018-04-11T03:04:59","slug":"sejarah-imam-musa-kesabaran-versus-kesewenangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/sejarah-imam-musa-kesabaran-versus-kesewenangan\/","title":{"rendered":"Sejarah Imam Musa: Kesabaran Versus Kesewenangan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Sejarah Imam Musa: Kesabaran Versus Kesewenangan<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7205\" src=\"http:\/\/ikmalonline.com\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/imam-musa.jpg\" alt=\"Sejarah Imam Musa: Kesabaran Versus Kesewenangan\" width=\"194\" height=\"259\" \/><\/p>\n<p><em>Al-K\u00e2zhim<\/em> gelar khusus kemuliaan dari sejarah Islam untuk Imam Musa bin Ja\u2019far, karena kesabarannya yang bijak mampu meredam marah terhadap orang-orang yang menentang dan memusuhinya. Syaikh Thabarsi mengatakan: \u201cOrang-orang Madinah menyebutnya dengan nama \u201cZainul Mujtahidin\u201d (Sebagus-bagus orang yang tekun ibadah kepada Allah).\u201d(A\u2019lam al-Wara, hal 298)<\/p>\n<p>Dalam usia 20 tahun, beliau menggantikan kepemimpinan ayahnya, Imam Ja\u2019far Shadiq yang syahid pada tahun 184 H. Pemerintahan saat itu di tangan Mansur Dawaniqi (159-136 H) khalifah kedua Abbasiyah, penguasa yang lalim. Banyak dari Alawiyin yang dia bunuh dan penjara. Siapapun yang menentangnya, tak terkecuali Abu Hanifah yang dihukum cambuk dan penjara lantaran berfatwa dukung Ibrahim penggerak anti Abbasiyin dan lawan Mansur.<\/p>\n<p>Ketika khalifah menerima kabar wafat Imam Shadiq, dia buat surat perintah kepada Muhammad bin Sulaiman selaku gubernur Madinah: \u201cKalau Ja\u2019far bin Muhammad sudah mengangkat seorang penggantinya, tangkap orang itu dan bunuh!\u201d.<\/p>\n<p>Tak lama kemudian gubernur via surat melaporkan kepada khalifah di Bagdad, bahwa Ja\u2019far bin Muhammad telah berwasiat dengan menunjuk lima orang sebagai penggantinya:<\/p>\n<p>1-Khalifah Mansur Dawaniqi.<\/p>\n<p>2-Muhammad bin Sulaiman (gubernur Madinah)<\/p>\n<p>3-Abdullah bin Ja\u2019far (kakak Imam Musa)<\/p>\n<p>4-Musa bin Ja\u2019far.<\/p>\n<p>5-Hamidah (istri Imam Shadiq).<\/p>\n<p>Di bagian akhir surat, dia menunggu perintah khalifah dengan mengatakan: \u201cDi antara mereka siapa yang harus dibunuh?\u201d Mansur kontan marah dan teriak: \u201cItu tidak mungkin!\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Mengapa Imam Shadiq Berwasiat Seperti itu?<\/strong><\/p>\n<p>Imam tentu saja telah menunjuk seorang yang akan menggantikan imamahnya dan telah mengenalkan dia kepada para sahabat khususnya dari Syiah dan \u2018Alawiyin. Namun beliau mengetahui rencana jahat Mansur, dan berwasiat seperti itu demi menjaga keselamatan Imam ketujuh yang diyakini Syiah Imamiyah, yaitu Imam Musa bin Ja\u2019far.(1)<\/p>\n<p>Walau resikonya adalah timbul kebimbangan pada sebagian orang tentang Imam sesudahnya, menjaga keselamatan washi lebih diutamakan. Kebimbangan di tengah kondisi dalam pengawasan ketat pihak penguasa, itu tak terjadi pada sahabat-sahabat pilihan yang paham situasi dan mengerti keadaan.<\/p>\n<p>Dikisahkan, delegasi dari penduduk Khurasan bernama Abu Ja\u2019far datang ke Kufah dan berziarah ke pusara Imam Ali bin Abi Thalib. Di satu sudut Masjid, dia melihat sejumlah orang bersama seorang Syaikh (Abu Hamzah ats-Tsimali). Di saat mereka sedang menyimak penjelasan beliau, datang seorang badui dan berkata: \u201cAku dari Madinah. Aku kabarkan bahwa Ja\u2019far bin Muhammad (Imam Shadiq) telah tiada!\u201d. Abu Hamzah menjerit sambil tangannya menepuk lantai.. Badui bertanya, \u201cTahukah siapa washi (pengganti)nya?\u201d<\/p>\n<p>Beliau menjawab, \u201cBeliau telah berwasiat kepada putranya, Abdullah, dan kepada putranya, Musa, juga kepada Mansur\u201d<\/p>\n<p>\u201cSegala puji bagi Allah yang tidak menyesatkan kami. Dia (Imam Shadiq) menunjukkan pada yang kecil dan menjelaskan yang besar serta menutupi perkara besar\u201d, ucap si badui lalu pergi ke pusara Amirul mu`minin.<\/p>\n<p>Lepas shalat delegasi itu mendekatinya, dan bertanya: \u201cTerangkan kepadaku apa yang telah kau katakan tadi!?\u201d<\/p>\n<p>Badui menjawab, \u201cDia menjelaskan bahwa yang besar terganggu (bermasalah). Dia juga menunjukkan pada yang kecil terselubung bersama yang besar, dan menutupi perkara besar dengan Mansur. Sehingga bila Mansur bertanya, \u201cSiapa washinya?\u201d Maka dijawab, \u201cAnda!\u201d.<\/p>\n<p>Orang Khurasan itu menyampaikan: \u201cSaya tidak mengerti jawabannya, dia itu bicara apa!\u201d Kemudian dia pergi menuju Madinah untuk mencari tahu siapa washi sesudah Imam Ja\u2019far Shadiq. Ini poin pertama terkait soal di atas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Imam Musa: \u201cKepadaku.. Kepadaku.. Kepadaku\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Poin kedua, diceritakan: di Madinah sebagian orang mengatakan bahwa Abdullah (al-Afthah) imam sesudah ayahnya. Ketika mereka berkumpul di tempatnya, kami (Hisyam bin Salim dan Mu`min Thaq) datang dan mengajukan soal tentang zakat kepadanya, \u201cBerapakah zakat yang wajib?<\/p>\n<p>Abdullah menjawab, \u201cLima (dirham) dalam dua ratus\u201d<\/p>\n<p>\u201cKalau dalam seratus?\u201d<\/p>\n<p>\u201cDua setengah dirham\u201d<\/p>\n<p>\u201cInilah yang dikatakan kaum Murji\u2019ah!\u201d, kata kami kepadanya.<\/p>\n<p>Sambil mengangkat tangannya ke atas dia mengatakan, \u201cAku tidak tahu apa yang dikatakan kaum Murji\u2019ah.\u201d<\/p>\n<p>Kami keluar darinya pergi dalam kebingungan. Tak tahu lagi kami harus kemana. Di satu lorong Madinah kami duduk menangis dalam kebimbangan; kepada siapa dan harus kemana kami? Apakah ke Murj\u2019iah? Qadariyah? Zaidiyah? Mu\u2019tazilah? Khawarij?<\/p>\n<p>Saat itu kami melihat seorang Syaikh yang tidak kami kenal, dia memberi isyarat dengan tangannya kepadaku (Hisyam). Timbul rasa khawatir, jangan-jangan dia seorang mata-mata Mansur, karena di Madinah Mansur punya banyak mata yang mengawasi setiap orang yang jika sejalan dengan Syiah Ja\u2019far Shadiq akan dibunuh. Maka aku katakan kepada Mu`min Thaq, \u201cMenyingkirlah.., Syaikh ini telah menunjuk aku, bukan kamu. Jadi, menjauhlah dariku! Selamatkan dirimu!\u201d<\/p>\n<p>Maka aku ikuti Syaikh berjalan, dan sepertinya aku sudah tidak bisa lepas darinya. Hingga sampai di depan pintu rumah Abul Hasan (Imam Musa), dia pergi meninggalkan aku sendiri. Tiba-tiba muncul seorang pelayan di pintu dan berkata, \u201cSilahkan masuk!\u201d Setelah aku masuk, di dalam ada Abul Hasan (Imam Musa) dan pertama yang beliau sampaikan kepadaku:<\/p>\n<p><strong>\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0645\u0631\u062c\u0626\u0629 \u060c \u0648\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0642\u062f\u0631\u064a\u0629\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0632\u064a\u062f\u064a\u0629\u060c<\/strong>\u00a0(<strong>\u0648\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0645\u0639\u062a\u0632\u0644\u0629<\/strong>\u00a0)<strong>\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u062e\u0648\u0627\u0631\u062c\u060c \u0625\u0644\u064a\u0651\u064e \u0625\u0644\u064a\u0651\u064e \u0625\u0644\u064a\u0651\u064e<\/strong><\/p>\n<p>\u201cTidak ke Murji\u2019ah atau Qadariyah atau Zaidiyah atau Mu\u2019tazilah dan atau Khawarij! Tetapi kepadaku.. kepadaku.. kepadaku!\u201d(2)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>1-Siratu al-Aimmah\/Mahdi al-Bisywai\/ Penerjemah, Husain al-Wasithi, hal 372-5.<\/p>\n<p>2-A\u2019lam al-Hidayah-Al-Imam Musa ibn Ja\u2019far al-Kazhim, hal 45-48.<\/p>\n<div id=\"themify_builder_content-7216\" data-postid=\"7216\" class=\"themify_builder_content themify_builder_content-7216 themify_builder themify_builder_front\">\n\n\t<\/div>\n<!-- \/themify_builder_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah Imam Musa: Kesabaran Versus Kesewenangan Al-K\u00e2zhim gelar khusus kemuliaan dari sejarah Islam untuk Imam Musa bin Ja\u2019far, karena kesabarannya yang bijak mampu meredam marah terhadap orang-orang yang menentang dan memusuhinya. Syaikh Thabarsi mengatakan: \u201cOrang-orang Madinah menyebutnya dengan nama \u201cZainul Mujtahidin\u201d (Sebagus-bagus orang yang tekun ibadah kepada Allah).\u201d(A\u2019lam al-Wara, hal 298) Dalam usia 20 tahun, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":7205,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[117],"tags":[1296],"class_list":["post-7216","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah","tag-imam-musa-kazhim","has-post-title","no-post-date","has-post-category","has-post-tag","has-post-comment","has-post-author"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7216","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7216"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7216\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7225,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7216\/revisions\/7225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7205"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7216"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7216"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikmalonline.com\/under-construction\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7216"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}