BERITABerita IKMAL

HPI dan IKMAL Bekali Calon Pelajar Jamiah Al-Mustafa; Siapkan Generasi Ulama dan Intelektual yang Siap Mengabdi

Jika HPI berbicara dari sudut pandang mahasiswa yang sedang menjalani kehidupan di Iran, maka IKMAL memberikan perspektif para alumni yang telah menyelesaikan studi dan kembali mengabdi di Indonesia.

Bogor – Menjadi pelajar di luar negeri bukan sekadar berpindah tempat belajar, tetapi juga memasuki fase baru yang penuh tantangan dan tanggung jawab. Kesadaran itulah yang menjadi semangat dalam kegiatan Pembekalan Calon Pelajar Jamiah Al-Mustafa Al-‘Alamiyah yang dimulai pada Rabu (5/8/2026). Selama empat hari ke depan, para calon pelajar akan dibekali berbagai materi sebagai bekal menghadapi kehidupan akademik maupun sosial selama menempuh pendidikan di Iran.

Hari ketiga pembekalan menghadirkan dua organisasi yang memiliki kedekatan erat dengan perjalanan para calon mahasiswa, yakni Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran dan Ikatan Alumni Jamiah Al-Mustafa (IKMAL). Jika HPI berbicara dari sudut pandang mahasiswa yang sedang menjalani kehidupan di Iran, maka IKMAL memberikan perspektif para alumni yang telah menyelesaikan studi dan kembali mengabdi di Indonesia.

Ketua HPI Iran, Muhammad Ghonim, menjadi pembicara pertama. Ia mengawali pemaparannya dengan memperkenalkan HPI sebagai organisasi resmi mahasiswa Indonesia di Iran yang berdiri sejak tahun 2000. Organisasi tersebut lahir dari kebutuhan para pelajar Indonesia untuk saling mendukung selama menempuh pendidikan sekaligus menjadi wadah pembinaan kepemimpinan dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

“HPI bukan hanya organisasi mahasiswa, tetapi keluarga bagi seluruh pelajar Indonesia di Iran,” ujarnya.

Menurut Ghonim, setiap mahasiswa baru akan didampingi sejak pertama kali tiba di Iran. Pendampingan itu mencakup proses adaptasi terhadap lingkungan, sistem pendidikan Jamiah Al-Mustafa, kehidupan masyarakat Iran, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari yang sering kali menjadi tantangan bagi mahasiswa yang baru pertama kali tinggal di luar negeri.

Ia kemudian memperkenalkan berbagai bidang yang dijalankan HPI. Di bidang akademik, HPI rutin menyelenggarakan seminar, diskusi ilmiah, pelatihan penulisan, pendampingan belajar, serta menerbitkan buletin digital yang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan tradisi literasi. Sementara itu, bidang sosial dan budaya menghadirkan beragam kegiatan keagamaan, olahraga, seni, dan peringatan hari besar sebagai sarana mempererat ukhuwah di antara mahasiswa Indonesia.

Tidak hanya itu, HPI juga aktif mengelola media informasi melalui Divisi Media dan Humas serta menyiapkan kader-kader mahasiswa melalui Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bagi mahasiswi Indonesia, tersedia organisasi Fatimiyah yang menjadi wadah pembinaan dan pengembangan aktivitas pelajar perempuan.

Ghonim juga mengingatkan bahwa mahasiswa baru tidak perlu terburu-buru aktif berorganisasi. Menurutnya, enam bulan pertama merupakan masa penting untuk membangun fondasi kemampuan bahasa Persia agar proses belajar dapat berjalan optimal. Setelah itu, mahasiswa dipersilakan mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan organisasi sesuai minat masing-masing.

Menyinggung situasi keamanan di Iran yang sempat menjadi perhatian publik, Ghonim memastikan bahwa aktivitas pendidikan di Kota Qom tetap berlangsung normal. Ia menjelaskan bahwa HPI terus berkoordinasi dengan Jamiah Al-Mustafa dan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk memastikan keamanan seluruh mahasiswa Indonesia.

“Kami ingin calon pelajar berangkat dengan tenang. HPI akan selalu menjadi tempat bertanya, berdiskusi, dan saling membantu selama menjalani studi di Iran,” tuturnya.

Setelah mendapatkan gambaran mengenai kehidupan mahasiswa di Iran, peserta kemudian memperoleh pembekalan dari Ust. Muhtar, Departemen Humas IKMAL, yang membagikan pengalaman sekaligus pesan-pesan penting berdasarkan perjalanan panjang alumni Jamiah Al-Mustafa.

Berbeda dengan materi sebelumnya yang banyak membahas kehidupan kemahasiswaan, Ust. Muhtar mengajak peserta melihat perjalanan menuntut ilmu dari sudut pandang yang lebih mendalam. Baginya, keberangkatan ke Jamiah Al-Mustafa bukanlah sekadar kesempatan belajar di luar negeri, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan masyarakat.

Ia mengawali paparannya dengan mengenang perjuangan para pelajar Indonesia generasi awal yang berangkat ke Iran pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Saat itu, mereka belajar dalam suasana Perang Iran-Irak, ketika fasilitas pendidikan, komunikasi, bahkan kebutuhan sehari-hari masih sangat terbatas. Di sisi lain, hubungan Indonesia dan Iran pada masa Orde Baru juga belum sehangat sekarang sehingga tidak sedikit pihak yang memandang Iran sebagai kawasan yang penuh risiko.

“Kalau generasi awal mampu bertahan dalam kondisi seperti itu, maka generasi sekarang tidak memiliki alasan untuk bermalas-malasan,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa saat ini justru memperoleh berbagai kemudahan yang tidak dinikmati para pendahulu. Akses informasi semakin terbuka, fasilitas pendidikan semakin baik, komunikasi dengan keluarga semakin mudah, dan sistem pembelajaran pun terus berkembang. Karena itu, setiap kemudahan harus dijawab dengan kesungguhan dalam belajar.

Ust. Muhtar kemudian menekankan bahwa keberhasilan studi tidak cukup hanya diukur dari nilai akademik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang pelajar mampu membangun kualitas dirinya secara utuh.

Ia menjelaskan pentingnya manajemen intelektual, yakni memiliki target belajar yang jelas, membiasakan diri membaca, berdiskusi, menulis, dan terus mengembangkan wawasan. Menurutnya, Jamiah Al-Mustafa bukan tempat untuk sekadar memperoleh gelar, tetapi tempat menempa cara berpikir dan membangun tradisi keilmuan.

Di samping itu, ia mengingatkan pentingnya manajemen spiritual. Kesempatan tinggal di Kota Qom harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak ibadah, menghadiri majelis ilmu para ulama, serta memperbanyak ziarah. Ilmu, katanya, tidak hanya diperoleh dari ruang kelas, tetapi juga dari keberkahan lingkungan yang ditempati.

Pesan berikutnya adalah mengenai manajemen finansial. Ia mengingatkan agar mahasiswa mampu hidup sederhana, mengelola keuangan secara bijak, dan tidak larut dalam gaya hidup konsumtif. Sikap qanaah dan kedisiplinan dalam mengatur kebutuhan sehari-hari merupakan bagian dari karakter seorang penuntut ilmu.

Tidak kalah penting adalah manajemen mental. Tinggal jauh dari keluarga, menghadapi perbedaan budaya, tekanan akademik, hingga rasa rindu kepada tanah air merupakan ujian yang hampir pasti dialami setiap mahasiswa. Karena itu, dibutuhkan keteguhan hati, kesabaran, serta kemampuan mengelola emosi agar setiap tantangan dapat menjadi sarana pendewasaan diri.

Sementara dalam manajemen sosial, Ust. Muhtar mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan siapa pun. Namun ia juga berpesan agar para mahasiswa memilih sahabat yang mampu mendorong semangat belajar dan memperbaiki akhlak, sebab lingkungan pergaulan akan sangat menentukan arah perjalanan seseorang selama menuntut ilmu.

Ia turut mengingatkan peserta agar memilih jurusan sesuai bakat dan potensi, memanfaatkan perpustakaan, menghadiri majelis para ulama, aktif mengikuti kegiatan ilmiah, serta menghormati para guru dan senior. Menurutnya, seluruh pengalaman selama berada di Iran merupakan proses pendidikan yang akan membentuk karakter seorang dai dan intelektual Muslim.

Menutup pembekalannya, Ust. Muhtar menyampaikan bahwa kepulangan ke Indonesia bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama di Jamiah Al-Mustafa harus menjadi cahaya yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan masyarakat.

Pembekalan hari ketiga tersebut memberikan gambaran utuh kepada para calon pelajar. Dari HPI, mereka diperkenalkan pada kehidupan mahasiswa dan sistem pendampingan selama di Iran. Dari IKMAL, mereka diajak memahami bahwa perjalanan menuntut ilmu bukan sekadar mengejar pendidikan, tetapi mempersiapkan diri menjadi insan yang berilmu, berakhlak, dan siap mengemban amanah dakwah ketika kembali ke tanah air.

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button