BERITA

Fakta Suriah

Dina Y. Sulaeman

          Akhir-akhir ini beberapa “ustadz” dan influencer pro-jihad Suriah mengangkat kembali isu Suriah untuk memfitnah Iran. Mereka berkata, “Saya senang Iran mengebom Israel, tapi jangan lupakan bahwa Iran telah membunuh jutaan Sunni di Suriah.” Benarkah demikian? Saya akan menuliskan fakta-fakta tentang Suriah ini, agar publik paham seperti apa kejahatan Al Qaida, ISIS, dan para pendukung “jihad” Suriah.

  • Eks-HTS Menjadi Pimpinan Rezim de Facto Suriah

         Pemerintah de facto Suriah dipimpin oleh pria eks-ISIS Irak, yang kemudian “pindah” ke Al Qaida Suriah (Hay’at Tahrir Al Syam -HTS). Namanya, Ahmed al Sharaa. Semasa belum jadi “presiden”, ia memakai nama jihad “Abu Mohammed al Jolani.” Anda tidak usah bingung mendengar nama ISIS, Al Qaida, HTS, atau ratusan nama jihadis lainnya. Ingat saja: mereka itu akar ideologinya sama, berbeda nama karena beda wilayah kekuasaan dan pendapatan.

       Apa yang terjadi di Suriah pasca bercokolnya rezim HTS? Sangat banyak pembunuhan pada kaum minoritas agama (Alawite dan Kristen). Salah satu kasus terbaru: pada 22 Juni 2025, seorang jihadis melakukan aksi bom bunuh diri di gereja Ortodoks Yunani Mar Elias di Damaskus, menewaskan sedikitnya dua puluh lima orang dan melukai enam puluh tiga orang. Ini adalah serangan terbesar terhadap komunitas Kristen Suriah sejak tahun 1860.

       Keesokan harinya, otoritas Suriah mengklaim bahwa ISIS bertanggung jawab, meskipun media IS belum mengatakan apa pun tentang serangan tersebut sejauh ini. Pada tanggal 24 Juni, kelompok yang kurang dikenal, Saraya Ansar al-Sunnah, mengaku bertanggung jawab atas aksi terror itu.[1]

       Intinya, Rezim Jolani “berlepas diri”, mengaku pelakunya bukanlah bagian dari rezim. Sejak Jolani berkuasa banyak terjadi pembantaian massal, penculikan, pemerkosaan pada kaum agama minoritas. Pelakunya, siapa lagi kalau bukan jihadis-jihadis itu. Tapi rezim Jolani selalu berkelit, “Bukan orang kami pelakunya, tapi oknum.”

        Padahal, laporan Amnesty Internasional, jelas menyebutkan bahwa “Milisi yang berafiliasi dengan pemerintah, menewaskan lebih dari 100 orang di kota Banias pada 8-9 Maret 2025.” [2] Angka 100 ini masih kecil karena laporan dari pihak minoritas, jumlah korban pembantaian mencapai ribuan, dan tidak terbatas tgl 8-9 Maret saja.

  • Jihad Bersenjata untuk Menggulingkan “Rezim Thaghut”

       Pemerintahan Suriah sebelumnya adalah sekuler, nasionalis, sosialis. “Kebetulan” Hafez Assad dan Bashar Assad (ayah-anak, 1971-2024) yang jadi presiden [dipilih lewat pilpres] adalah penganut sekte Alawite [oleh jihadis disebut Syiah – Nusayriah]. Sehingga, kaum oposan Islamist menggunakan isu identitas dalam upaya menggulingkan rezim.

       Narasi sektarian atau memanfaatkan identitas, sebenarnya juga terjadi di Indonesia. Silakan diingat, saat pemilu banyak yang menolak kandidat tertentu dengan kalimat, “Jangan pilih si X, dia kan orang kafir!”

      Nah sejak 2012, kelompok-kelompok oposan Islamis di Suriah (mayoritasnya Ikhwanul Muslimin; di tahun 1980-an mereka juga pernah angkat senjata ingin mengkudeta Hafez Al Assad, dengan bantuan CIA), mulai angkat senjata melawan rezim. Mereka merekrut jihadis dari 100 negara sedunia (ayo bantai rezim Syiah, kita bikin khilafah!).

      Pada bulan Desember 2024, akhirnya Assad terguling. Bos HTS, Jolani, menunjuk diri jadi presiden (padahal tadinya ingin khilafah). Penampilan Jolani berubah, sekarang memakai jas dan dasi. Siapa saja Menteri-menterinya Jolani? Sebagian besar, para jihadis HTS.

Ini saya copas dari Al Jazeera :

“Reporter Al Jazeera Resul Serdar, melaporkan dari Damaskus, mengatakan Abu Qasra [Menhan] dan al-Shaibani [Menlu] “sangat dekat” dengan pemimpin HTS Ahmed al-Sharaa [Jolani]. “Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah HTS membentuk pemerintahannya sendiri atau pemerintahan Suriah,” katanya. “Sejauh ini, 14 menteri telah ditunjuk, dan semuanya merupakan sekutu dekat atau teman al-Sharaa.”[3]

      Ingin tahu, seperti apa jihadis saat diangkat jadi menteri? Perhatikan video ini [4]: pria yang berdiri di tengah adalah “menteri pertahanan” Abu Qasra (eks komandan HTS alias Al Qaida). Pria di sebelahnya berkata, “Wahai Syiah Nusairiyah, kami datang pada kalian dengan pedang dan kematian merah (berdarah).” Lalu mereka berseru, “Takbir!”

      Video ini direkam SETELAH Abu Qusra jadi Menhan. Jadi tidak usah heran kalau kaum Alawite & Kristen dibantai di Suriah. Sekali lagi, versi rezim HTS, “Pelakunya oknum, bukan kami.”

  • Hoaks “rezim Syiah membantai Sunni di Suriah”

      Hoaks ini disebarluaskan secara amat masif oleh para “ustadz pro jihad” di seluruh dunia. Mereka menggunakan foto-foto & video-video palsu, misal anak Gaza berdarah-darah dikasih caption “ini anak Sunni yang dibantai oleh rezim Assad.” Padahal, meski Assad seorang Alawite, istrinya Sunni, dan Menteri-menteri kabinetnya beragam, ada Kristen, malah lebih banyak yang Sunni.

       Jika Anda cek latar belakang ustadz-ustadz penebar hoaks tentang Suriah, Anda akan temukan, mereka itu berasal dari Hizbut Tahrir, Ikhwanul Musliminn, Al Qaida, atau ISIS. Ingat, mereka ini beda nama, tapi akar ideologi sama. Kasus Suriah membuktikan bahwa meski mengaku berbeda (misal, HTI dan IM mengaku beda dari ISIS), sebenarnya mereka punya kesamaan yang jelas: menyetujui JIHAD BERSENJATA untuk menggulingkan pemerintah yang sah dengan membawa isu identitas (menuduh pihak lawan kafir).

        Di sinilah bahayanya untuk INDONESIA: betapa banyak anak-anak muda di Indonesia tercuci otaknya dengan doktrin “Syiah kafir” dan “orang kafir boleh dibunuh.”  Sebagian dari mereka bergabung dengan kelompok-kelompok jihad, Sebagian menyebarluaskan doktrin kebencian melalui medsos. Sebagian pergi berjihad langsung ke Suriah, sebagian mengebom di Indonesia, melawan “rezim thaghut” di negeri sendiri. Menhan tahun 2019 menyebut 23,4 persen mahasiwa dan 23,3% anak SMA setuju dengan jihad dan memperjuangkan negara Islam atau Khilafah. [5]

Karena itulah, memahami Suriah sangat penting untuk mengenali, siapa sebenarnya para ustadz pro jihad Suriah itu. Silakan mendownload dan membaca buku saya Prahara Suriah dan Salju di Aleppo, di dalamnya saya kompilasi berbagai hoaks para ustadz pro jihad Suriah.[6]

  • Mengapa Iran terlibat di Suriah?

Berikut ini kronologi singkatnya:

  • Tahun 2011: para oposisi berdemo mengupayakan reformasi [mereka masih menggunakan jargon ‘demokrasi’]
  • Ada kasus-kasus pembunuhan, korbannya ada di pihak sipil, ada di pihak aparat keamanan (sejak awal terbukti bahwa para jihadis sudah menyiapkan senjata).
  • Aksi demo “pro demokrasi” gagal menggulingkan rezim karena Assad memenuhi semua tuntutan (termasuk mengubah isi UUD).
  • Pertengahan 2012, para jihadis secara terbuka mengumumkan jihad mereka untuk menggulingkan Assad dan membentuk khilafah
  • Tahun 2013 ISIS dideklarasikan
  • Militer Suriah berperang melawan ISIS dan milisi-milisi Al Qaida ini (ada ratusan nama), tetapi tentu saja sangat kewalahan karena para jihadis disokong dana dan senjata dari AS, NATO, negara-negara monarkhi Arab, dan Israel. Mantan Menlu Qatar pernah mengakui secara terbuka bantuan ini. [7]
  • Pemerintah Suriah secara resmi minta bantuan Rusia dan Iran melawan ISIS dan Al Qaida. Rusia masuk sejak 2015 dengan jet-jet tempur mengebom markas-markas ISIS dan Al Qaida. IRGC Iran, dengan dipimpin Jend. Qassem Soleimani, secara resmi bergabung 2014, melatih sukarelawan Irak dan Suriah untuk melawan ISIS dan Al Qaida dalam pertempuran darat.
  • Tahun 2017 secara resmi ISIS dinyatakan kalah, sementara Al Qaida (HTS, dan milisi-milisi lain) menduduki Provinsi Idlib. Mereka terus menggalang kekuatan sambil melanjutkan aksi pengeboman di kawasan yang dikontrol pemerintah. Harap diingat, banyak para ustadz pro-jihad pada masa itu sangat aktif menggalang donasi untuk dikirim ke Idlib.
  • 27 November 2024, rezim Assad yang semakin lemah karena embargo ekonomi & perang jangka panjang (sejak 2012), akhirnya tumbang. Assad memutuskan tidak minta bantuan lagi dari Iran dan Rusia, sehingga militer kedua negara keluar dari Suriah; Assad sekeluarga dievakuasi ke Rusia.

  • Benarkah Ada Jutaan Sunni yang Tewas Dibunuh?

        Ucapan para ustadz & influence pro-jihad Suriah tentang “jutaan Sunni dibunuh Iran”, seharusnya di-cross check datanya. Benarkah ada jutaan yang tewas? TIDAK. Data SOHR (ini HAM lembaga pro-jihad Suriah), selama 2011-2025 ada 656.493 orang tewas di Suriah (total, termasuk teroris dan warga & tentara yang dibunuh teroris).[8] Jadi, bukan jutaan, dan bukan DIBUNUH IRAN.

        Dalam perang tersebut, apakah yang dilawan Iran adalah ‘umat Sunni’ atau ISIS & Al Qaida? Apakah mereka dibunuh karena ke-sunni-an, atau karena mereka berperang dengan bendera ISIS & Al Qaida? Apakah jika Densus menembak teroris ISIS, bisa disebut “Densus membunuh Sunni”?

        Harap ingat, Syekh Mohammad Said Ramadan Al Bouthy, seorang ulama Sunni terkemuka Suriah dibunuh pada tahun 2013, dengan bom, saat beliau sedang berceramah di masjid, oleh jihadis. Apa ini bisa disebut Sunni membunuh Sunni? Atau, tepatnya: teroris membunuh ulama Sunni?

        Para pendukung jihadis berkilah, “Yang membunuh Syekh Bouthy itu Assad!” Cobalah pakai logika: Syekh Bouthy justru aktif menyeru agar umat tidak ikut-ikutan aksi jihad menggulingkan Assad.[9] Tentu bodoh sekali Assad bila ia membunuh Syekh Bouthy. Justru jihadis membunuhnya karena marah, mengapa Syekh Bouthy tidak mendukung jihad mereka?

        Terakhir, mengapa AS, NATO, monarkhi Arab, dan Israel, melalui tangan para jihadis berupaya keras puluhan tahun menggulingkan Assad? Karena, Assad membantu perjuangan Palestina dan tidak mau berdamai dengan Israel.

        Selamat berpikir kritis dan merdeka. Pahami, siapa musuh, siapa sahabat dalam perjuangan melawan penindasan AS dan Rezim Zionis di Palestina.[]

Referensi

[1] https://www.washingtoninstitute.org/policy-analysis/damascus-church-attack-who-saraya-ansar-al-sunnah

[2] https://www.amnesty.org/en/latest/news/2025/04/syria-coastal-massacres-of-alawite-civilians-must-be-investigated-as-war-crimes/

[3] Aljazeera: https://www.aljazeera.com/news/2024/12/21/syrias-new-rulers-appoint-hts-figures-as-foreign-defence-ministers

[4] https://x.com/dina_sulaeman/status/1939136497959215206

[5] https://news.detik.com/berita/d-4631020/menhan-sebut-23-4-mahasiswa-di-ri-terpapar-radikalisme

[6] Download pdf www.ic-mes.org/e-book

[7] https://www.middleeasteye.net/news/qatar-maybe-supported-al-qaeda-syria-says-former-pm

[8] https://www.syriahr.com/en/358243/

[9] https://x.com/dina_sulaeman/status/1939200335332933695

+ posts

Related Articles

One Comment

  1. Kalau memang Assad tidak membunuh rakyatnya, kenapa ada ribuan tawanan di penjara Sednaya yg dieksekusi mati tanpa peradilan? Sungguh keji rezim diktator Assad, 50 tahun lebih berkuasa memang sudah sepatutnya diganti.
    Ingat, ISIS itu bentukan CIA, Jolani bergabung dg ISIS dulu karena memang ingin melawan rezim yang sakit. Saya tidak membenarkan aktivitasnya selama dia tergabung dgn Isis, tapi usahanya dalam melawan kedzoliman tidak dapat dipungkiri.

    Kenapa Druze (Syiah) di Suweida bersekutu dengan Israel, padahal mereka warga Syria? Tidakkah ini menunjukkan salah satu persekutuan dengan Teroris Israhell yg memecah belah Syria?
    Israel seharusnya tidak berada di Golan karena Golan bagian dr Syria, lalu Suku Badui dikerahkan untuk melawan Druze, tapi syukur sekarang sudah ceasefire.

    Bumi Syam tepatnya di Damaskus adalah tempat Nabi Isa turun kelak, sudah sepatutnya dijaga oleh Muslim terutama dari Teroris Israhell. Begitu juga Palestina, tempat terjadinya perang besar di akhir zaman, perang antara Dajjal melawan Nabi Isa.

    Biarlah Ahmad Al Sharaa memimpin rezim baru, jika tidak sesuai dgn janjinya memimpin Syria secara inklusif, pasti rakyatnya akan teriak2 juga utk ganti dan memang seharusnya Presiden dipilih langsung oleh rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button