BERITA

Kalau Syiah Itu Agama Lain, Kenapa Kamu Menyerangnya Pakai Dalil Islam?

Annisa Eka Nurfitria, Lc,M.Sos- Logika Kontradiktif yang Perlu Diperiksa Ulang

Di banyak ruang diskusi, terutama di media sosial, Syiah sering dijadikan sasaran tuduhan berat. Salah satu yang paling sering muncul adalah bahwa Syiah bukan mazhab, melainkan agama lain. Tuduhan ini terdengar tegas, ingin memutus total keterkaitan Syiah dengan Islam. Namun ada kejanggalan yang cukup mencolok. Jika memang Syiah agama lain, mengapa argumen bantahan terhadap Syiah selalu menggunakan dalil dari Al-Qur’an, hadis, bahkan ilmu akidah Islam?

Kita tidak pernah menyalahkan umat Kristen karena tidak shalat, atau menegur umat Buddha karena tidak membayar zakat. Karena kita paham, mereka berada di luar sistem keyakinan Islam, sehingga tak relevan menggunakan hukum Islam untuk menilai mereka. Tapi anehnya, dalam kasus Syiah yang katanya bukan Islam, kritik yang diarahkan justru sangat islami. Mereka dikritik karena dianggap tidak mengikuti hadis sahih, tidak mencintai sahabat, atau menyeleweng dari akidah Islam.

Semua tuduhan itu hanya masuk akal jika pelakunya diakui berada dalam rumah Islam. Tidak mungkin menyimpang dari ajaran Nabi jika Nabi saja tidak diakui. Tidak mungkin menyimpang dari Qur’an jika Qur’an bukan kitab sucinya. Maka ketika tuduhan-tuduhan itu dilontarkan kepada Syiah yang katanya agama lain, itu berarti secara tidak sadar, si penuduh mengakui bahwa Syiah berada dalam cakupan Islam.

Inilah yang disebut logika kontradiktif. Di satu sisi ingin mengatakan Syiah itu agama lain. Tapi di sisi lain, menyerangnya tetap dari dalam, memakai narasi keislaman. Kalau memang benar Syiah agama lain, cukup posisikan mereka seperti memosisikan agama-agama non-Islam lainnya. Tapi kenyataannya, perlakuan yang diberikan bukan seperti kepada agama luar, melainkan seperti saudara sendiri.

Untuk memahami persoalan ini lebih jernih, kita perlu melihat dari sisi sejarah dan ilmu. Kata Syiah sendiri bukan istilah asing. Dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 83 disebutkan bahwa Nabi Ibrahim termasuk dalam kelompok pengikut, atau syi’ah, dari Nabi Nuh. Secara bahasa, Syiah berarti pengikut, loyalis, atau pendukung suatu tokoh. Dalam sejarah Islam, Syiah merujuk pada kelompok umat Islam yang meyakini bahwa sepeninggal Nabi Muhammad, kepemimpinan umat semestinya berada di tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Perbedaan ini pada dasarnya adalah perbedaan politik dan teologis dalam tubuh Islam, bukan kelahiran agama baru.

Kitab-kitab klasik seperti Al-Milal wa An-Nihal karya Syahrastani dan Al-Farq bayn al-Firaq karya Al-Baghdadi secara eksplisit mencantumkan Syiah sebagai bagian dari kelompok Islam. Tidak pernah disebut sebagai agama luar atau kepercayaan baru yang lahir terpisah. Bahkan ulama sekelas Imam Ghazali pun, meski keras terhadap sebagian pemikiran Syiah, tidak pernah mengeluarkan mereka dari Islam.

Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa Syiah tetap meyakini syahadat, menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab suci, Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir, serta melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan ibadah lain. Mereka memiliki sistem fiqih, ilmu kalam, dan tafsir, sebagaimana mazhab-mazhab Islam lainnya. Lalu apa yang membuat mereka disebut agama lain? Apakah karena perbedaan dalam cara menafsirkan? Jika demikian, maka mazhab Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki juga punya perbedaan yang sangat mendasar dalam fiqih dan usul fiqh. Tapi tidak pernah ada yang menyebut mereka sebagai agama lain.

Jika alasannya karena ada oknum yang menyimpang, maka penyimpangan bisa terjadi di semua kelompok. Di kalangan Sunni juga ada yang mengkafirkan sesama muslim, membom masjid, atau menghalalkan darah sesama. Tapi tidak ada yang serta-merta menyebut mazhabnya sebagai agama baru. Penyimpangan oknum tidak bisa dijadikan alasan untuk membatalkan identitas keagamaan suatu kelompok. Kita bisa mengkritik perilaku, tetapi tidak asal mencabut status keislaman jutaan orang yang mengucap syahadat, mencintai Nabi, dan menjalankan rukun Islam.

Dalam realitas dunia Islam, Syiah merupakan mazhab terbesar kedua setelah Sunni. Mereka tersebar di Iran, Irak, Lebanon, Azerbaijan, Pakistan, dan negara-negara lain. Dalam banyak konferensi internasional, ulama Syiah duduk bersama dengan ulama Sunni membahas isu-isu keumatan, termasuk dalam Majma’ Taqrib Bain al-Mazahib al-Islamiyyah. Jika para ulama besar saja masih membuka ruang dialog dan perbedaan, mengapa sebagian orang awam justru sibuk memutuskan keislaman pihak lain?

Sudah waktunya kita bersikap rasional dan konsisten. Jika ingin berdialog, lakukan dengan ilmiah. Jika ingin mengkritik, lakukan dengan adil. Jangan terjebak pada kontradiksi yang hanya memperlihatkan kelemahan nalar. Kalau memang ingin menyatakan bahwa Syiah agama lain, maka berhenti gunakan dalil Islam untuk menyerang mereka. Tapi jika masih memakai dalil Islam, berarti Anda sendiri telah mengakui bahwa mereka masih satu rumah, hanya berbeda kamar.

Perbedaan adalah keniscayaan. Tapi kebenaran tidak pernah lahir dari cacian, melainkan dari dialog yang jujur dan pikiran yang jernih. Sebelum menyalahkan keyakinan orang lain, pastikan dulu bahwa logika kita tidak sedang membenturkan diri sendiri.

Mengkritik Syiah sah saja. Tidak setuju dengan ajaran mereka juga tidak masalah. Tapi menyebut mereka sebagai agama lain sambil terus menggunakan Al-Qur’an dan hadis untuk menyerang mereka adalah bentuk kegagalan berpikir yang serius. Kita tidak bisa terus menuntut konsistensi dari orang lain jika cara berpikir kita sendiri bertentangan.

Dalam iklim keumatan yang makin retak, narasi-narasi seperti ini justru memupuk kebencian dan memperlebar jurang sesama muslim. Saatnya bersikap dewasa secara intelektual. Islam bukan hanya soal identitas, tapi juga soal tanggung jawab pada kebenaran, keadilan, dan kejujuran berpikir. Jika ingin mengkritik Syiah, gunakan argumen ilmiah, bukan stempel “Syiah bukan mazhab, Syiah agama lain.”

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button