Uncategorized
Khutbah Rasullah Saaw dalam Menyambut Bulan Romadhan
Oleh : Hasan Musawa
Syaikh Shaduq meriwayatkan dalam kitabnya, Uyum Akbar Ar-Ridha as, sebuah riwayat yang sanadnnya sampai kepada Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib as. Dalam riwayat itu Ali Bin Abi Thalib as bersabdah :
“ Suatu hari Rasullah Saaw berdiri di hadapakan kami seraya berpidato : “ Wahai manusia sungguh telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh rakhmat, barokah dan ampunan. Bulan paling utama di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Saat-saatnya adalah saat yang paling utama. Di bulan ini engkau diundang menjadi tamu Allah dan di masukkan kedalam kelompok orang-orang yang dimuliakan Allah.
Dibulan ini nafasmu adalah tasbih ( memahasucikan Allah) Tidurmu adalah ibadah, amalanmu diterima, doa-doamu di ijabah. Karenanya mohonlah pada Allah, Tuhanmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci. Agar ia membimbingmu untuk berpuasa dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak dapat mendapat ampunan Allah di bulan yang mulia ini. Kenanglah dalam lapar dan hausmu dalam bulan ini, kelaparan dan kehausan di akhir kiamat kelak.
Bersedekahlah pada fakir miskin di sekitarmu. Muliakanlah orang-orang yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, sambungkan tali persaudaraan, peliharalah lidahmu tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang tidak halal kau pandang dan pendengaranmu dari hal-hal yang tidak halal kau dengar. Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatimmu akan dikasihani orang. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah kedua tanganmu dengan memanjatkan doa di saat sholat-sholatmu. Karena, itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah memandang hamba-hamban-Nya dengan penuh kasih sayang. Ia menjawab mereka ketika mereka bermunajat kepada-Nya , menyambut mereka ketika mereka menyeru-Nya , dan mengabulkan mereka ketika kereka berdoa kepada-Nya.
“ Wahai manusia, sesungguhnya dirimu tergadai oleh amal-amalmu . sebab itu, tebuslah dirimu dengan beristghfar. Punggung berat karena dosamu, maka ringankanlah ia dengan memperpanjang sujudmu (disaat Sholat) Ketahuilah, Allah Taala bersumpah dengan keperkasaan-Nya untuk tidak menyiksa orang-orang yang tidak sholat dan bersujud dihadapan-Nya, dan tidak menakut-nakuti mereka dengan api neraka ketika manusia masih berdiri di hadapan Rabbul Alamin.
“Wahai manusia, barang siapa diantara kamu yang memberi makan berbuka untuk seorang mukmin yang berpuasa di bulan ini, niscaya baginya di sisi Allah pahala memerdekakan hamba sahaya dan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Diantara sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah Saaw bukankah kita mampu melakukan hal itu. ? kemudian lanjut beliau saaw “ Peliharalah dirimu dari neraka, meski dengan sebutir kurma”. Peliharalah dirimu dari neraka meski hanya dengan setengguk air’.
“ Wahai manusia , barang siapa memperindah akhlaknya di bulan ini niscya baginya kemudahan meniti shirath , dimana pada hari itu banyak kaki tergelincir jatuh. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang berada dalam kekuasaannya di bulan ini, niscya allah akan meringankan hisabnya. Barang siapa yang menahan keburukannya di bulan ini, niscaya allah akan menahan kemarahan-Nya ketika ia menjumpai-Nya, Barang siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, niscaya Allah akan menyambung ksaih sayang-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa yang memutuskan hubungan persaudaran di bulan ini, niscaya allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia bertemu dengan-Nya. Barang siapa melakukan sholat sunnah di bulan ini, niscya Allah akan menetapkan baginya dibebaskan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan sholat fardu di bulan ini, niscaya baginya pahala tujuh puluh sholat fardu di bulan-bulan ini. Barang siapa memperbanyak sholawat kepadaku di bulan ini, niscaya Allah akan memberatkan timbangannya, pada hari itu ringan seluruh timbagan . Barang siapa membaca satu ayat Al-Qur’an di bulan ini, niscaya baginya pahala orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan –bulan ini.
“ Wahai manusia , sesungguhnya di bulan ini seluruhnya pintu surga di bukakan . maka mohonlah kepada tuhanmu agar ia tidak menutupnya bagimu. Dan seluruh pintu neraka tertutup. Maka mintalah kepada tuhanmu agar ia tak membukakannya untukmu. Juga seluruh setan terbelenggu. Maka mintalah kepada tuhanmu agar ia tak membiarkanmu terpedaya olehnya. “ Berkata Amirul Mukminin as sambil berdiri : Wahai Rasulullah , amal-amal apa yang paling utama di bulan ini ?” Beliau bersabdah “ Wahai Abal Hasan, amal-amal yang paling utama di bulan ini adalah Wara’dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Beliau menangis . Lalu kutanyakan : “ Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau menangis ? Beliau berkata : “ Wahai Ali , aku menangis karena seseorang menghalalkanmu pada bulan ini, seakan-akan aku bersamamu sementara engaku sedang sholat kepada Tuhanmu. Tiba –tiba muncul orang yang paling celaka dari generasi terdahulu dan kemudian yang membunuh onta Nabi Shaleh as dengan pedangnya ia menghantam kepalamu sehingga jenggotmu bersimbah darah.” Amirul Mukminin as : “ Wahai Rosulullah, demikian itu termasuk keselamatan agamaku ?” Ya, untuk kesalamatan agamamu”, Jawab beliau saaw.
Penghormatan Bulan Ramadhan
Dapat dipahami dari beberapa riwayat dan hadist bahwa Nabi dan para Imam as biasa mengumunkan kesiagaan universal dan bersiap-siap di akhir bulan Sya’ban, mereka bersiap untuk menyambut bulan Ramadhan. Khususnya pada akhir Jum’at bulan Sya’ban, mereka bersiap diri menjadi tamu Allah, supaya manusia mengetahui kenikmatan mana yang akan diterima oleh mereka. Sungguh, begitu mulia dan agungnya bulan ini sehingga kita tidak diperkenankan menyebut “ Ramadhan “ tanpa kata “bulan”. Disebutkan dalam sebagian riwayat Imam Muhammad Al-Baqir as bersabdah : “ Janganlah engkau mengatakan, “ ini Ramadhan “ Ramadhan telah pergi, Ramadhan telah datang… akan tetapi, ucapkanlah“ “ ini bulan Ramadhan “ Bulan Ramadhan ( telah pergi ),bulan Ramadhan ( telah datang ) …” Disebutkan dalam kitab Mizanul Hikmah, hal 176, karya Al-Muhammadi Ar-Riy Syahri, Rasulullah saaw bersabdah : “ Janganlah engkau mengatakan Ramadhan, karena Ramadhan adalah salah satu nama Allah Ta’la, tetapi ucapkanlah ‘ Syahru Ramdahan’ [ Bulan Ramadhan]. Ketika bulan Ramadhan tiba, Nabi saaw bersabdah : apa yang kalian lakukan terhadap bulan Ramadhan ? apa yang akan ia ( Bulan Ramadhan) perbuat terhadap kalian. “
Syafaat Bulan Ramadhan pada hari kiamat
Bulan yang diberkati ini memiliki hampir seratus nama. Diantaranya adalah Syahrut taubah, Syahrul Inabah, Syahrun tumha fis Sayyi’at. Sebagiannya disebutkan dalam doa-doa yang meriwayatkan tentang bulan ini. Akan tetapi , nama yang paling penting dan agung adalah syahrullah ( bulan Allah). Sesungguhnya Allah Ta’alaa menisbatkan masa ini dengan diri-Nya, sehingga menambah keilmuan bulan ini. Disebut dalam beberpa riwayat bahwa ka’bah Al-Musyarrofah berkumpul di hari kiamat beserta tujuh ratus ribu malaikat yang menyajikan kepada kiamat rantai emas dan pada saat itu diperintahkan ka’bah mensyafaati siapa yang menziarahinya. Bualn Ramadhan juga datang pada hari kiamat dalam sebaik-baik bentuk dan mensyafaati setiap orang yang menghormatinya. Sesungguhnya , siapa saja yang menghormati Allahu Robbal Alamin, ia akan mempersiapakan diri untuk memasuki bulan Ramadhan yang dimuliakan, untuk menghormati bulan tersebut karena bulan ini adalah bulan Allah. Sebelum ini telah kami
sampaikan khutbah Sya’baniyah yang disampaikan Rasulullah saaw yang berkenaan dengan bulan Ramadhan yang berkati.
Bulan Allah yang penuh Rahmat dan Barakah
Dalam khutbah Sya’baniyah yang disampaikan pada jum’at terakhir bulan Sya’ban, beliau saaw memulai dengan “ ayyuhan nas(u), qod aqbala ilaykum syahrullah. “ Tidak ada ungkapan yang lebih afdhol daripada ungkapan syahrullah. Bertobatlah, masukilah bulan ini dalam keadaan diri yang suci dan bersih. Bil barokati wal rahmai wal maghfiroh. Bulan ini akan menganugrahkan keberkahan. Albarakatu yang berarti nilai tambah. Benih yang ditanam di bumi oleh petani akan memberikan keberkahan yang berlipat ganda. Dari tujuh menjadi tujuh ratus. Hal ini senada dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an surah Albaqoroh ayat 261 mengenai menafkahkan harta dijalan allah. Bulan yang diberkati ini adalah bulan bernilai lebih barang siapa yang membaca al-qur’an di bulan ini, maka pahalanya orang yang menghatamkan Al-Qur’an di bulan-bulan ini, niscaya pahalanya seperti orang yang melakukan shalat wajib 2 rakaat di bulan-bulan ini. Bersedekah di bulan in, pahalanya akan dilipat gandakan dibandingkan di bulan-bulan lain sehingga tidurnya orang yang berpuasa di bulan ini adalah ibadah. Rahmah dan maghfirah banyak diungkapkan dibulan ini, sampai – sampai pintunya pun terbuka bagi semuanya. Bulan paling utama di sisi Allah. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama.
Laylatul Qadr.
Laylatul qadr di bulan Ramadhan sama dengan seribu bulan, bahkan paling afdhol. “ Malam kemulian itu lebih baik daripada malam seribu bulan “ [ QS Al- Qadr : 3] Ada 2 ayat lagi yang menjelaskan bahwa Laylatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan. Firman Allah swt dalam Al-Qur’an Al-Karim : “ Sesungguhnya kami menurunkan pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan”. [ QS Ad-Dukhan(74): 3 ] “ Bulan Ramdhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia….” [ QS Al-Baqarah:185] Dengan demikian semakin jelas bahwa Laylatul Qadr, yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, adalah dibulan Ramadhan . Dan di dalan beberapa riwayat tentang bulan Ramadhan di sebutkan kata-kata “ Sayyidus syuhur” [ Penghulu Bulan].
Diundang menjadi tamu Allah
Wa huwa syahrun du’itum fihi ila dhiyafatillah, wa ju’iltum fihi min ahli kara-matillah. Yaitu bulan ketika engkau diundang menjadi tamu-tamu Allah dan
dimasukkan ke dalam kelompok orang yang dimuliakan Allah. Sedangkan yang mengundang kalian adalah Rasulullah saaw sebagai wasilah Allah Rabbul alamin. Kalian lari dari menjauh dari Allah selama sebelas bulan. Marilah sekaang menjadi tamu-Nya selama sebulan. Perhatikanlah jamuan Allah yang mengungkapkan keramahtamahan [luthuf] yang khusus kepada orang-orang beriman dan merupakan secercah rahmat dari rahmat-Nya. Bagimanapun, karena rezekin-Nya tidak hanya dilimpahkan di bulan Ramadhan dan kaum Muslim saja, tidak pula untuk orang-orang kafir, manusia serta hewan. Adapun keramahtamahan dan keluthufan Allah Ta’ala yaitu khusus bagi orang yang dilayani malaikat. Adapun manusia yang berprilaku srigala buas, maka yang demikian itu tidak akam memanfaatkan keberkahan bulan ini. Artinya siapapun berkarakter demikian sudah tentu akan layak menjadi tamu Allah.
Lezatnya Ketenangan Jiwa Dengan Dzikrullah
Salah satu jamuan Ilahi tersebut adalah ketenangan jiwa [ Alunsu]. Sesungguhnya jiwa seorang Mukmin akan merasa tenang bila berkomunikasi dengan Robbul Alamin. Ketenangan jiwa dengan dzikrullah melupakan semua kelezatan dunia. Riwayat mnenyebutkan bahwa Musa bin Imran. Ketika berada di atas bukit Thursina untuk bermunajat, tidak minum seteguk air pun dan tidak juga makan sekerat roti pun selama empat puluh hari. Makanan ruh dan jasadnya adalah ketengan jiwa berdialog dengan Robbul Alamin. Di lain bulan Ramadhan lebih sedikit kelezatan ketengan jiwa dan kelembutan hati yang dapat dirasakan . Adapun di bulan Ramadhan, disamping keberkahan bulan yang dimuliakan tersebut, manusia lebih dekat kepada Tuhanya, maka jiwanya lebih tenang.
Dimanakah orang-orang kaya yang memandang kedudukan, pangkat, mengumpulkan harta dan mengikuti hawa nafsu sebagai kelezatan ? Berkata Imam Ali Zainal Abidin as : “ Ilahi, apakah orang yang telah mencicipi manisnya cinta-Mu akan menginginkan penganti selain-Mu “. Maka barang siapa yang mengikuti urusan-urusan dunia, tidak akan memperoleh sedikit pun kelezatan akhirat.
Jamuan Allah SWT
Ringkasnya, Allah Maha Agung, maka jamuannya pun agung. Apabila seorang kaya mengundang tamu, bagaimana jamuan yang akan disuguhkannya ? Sudah tentu, penghormatan sesuai dengan kondisi si pengundang. Allah Ta’ala memiliki kerajaan dan pemeliharaan alam semesta, maka penghormatan-Nya kepada tamu akan disesuaikan dengan kedekatannya kepada Allah SWT. [ Anfasukum fihi tasbih ], nafas – nafasmu dibulan ini adalah bertasbih. Nafas seseorang yang setiap detiknya akan mencatat pahala, seperti janji Allah SWT kepadaa kita dalam pencatatan amal-amal kita. Maka tamu Allah itu sendiri bernilai. Lalu bagaimana kalau seseorang menjadi tamu setan di bulan ini. Niscaya ia akan menerima kehinaan dan nasib buruk. Berkata Syaikh Syuthuri sehubungan dengan kalaimat [ anfusukum fihi tasbih ] :’ Seorang yang sehat akan bernafas dalam sehari 21.600 kali. Dengan jumlah ini seorang akan merekam kebaikan-kebaikan setiap harinya dalam bulan Ramadhan yang diberkati. Belum lagi memperhatikan amal-amal seperti berdzikir, berdoa , sholat dan bacaan Al-Qur’an. Maka berapa banyak seseorang akan meraup pahala setelah bulan Ramadhan yang diberkati, jika ia benar benar menjadi tamu Allah dan mampu mengendaliakan hawa nafsunya ?
Orang yamg Berdosa Bukan Tamu Allah
Nasib buruk akan menimpa seorang yang menjauh dari jamuan tersebut. Hanya memeperhatikan kecenderungan – kecenderungan keduniaan ? “ Maka berpalinglah ( Wahai Muhammad ) dari orang-orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak menginginkan kecuiali kehidupan duniawi ”. [QS An-Najm 9530:29] Syekh Syusytari, dalam mengomentar ayat tersebut, mengatakan , Bahwa jamuan ini bukan untuk yang setiap tujuannya adalah dunia. Kaena Allah berfirman kepada Nabi-Nya tersebut berkenaan dengan orang-orang yang tidak berbuat maksiat supaya mereka layak menjadi tamu Allah. Dan termasuk jamuan Allah SWT adalah dikabulkannya doa dan diterimanya amal. [ Naumakum fihi ibadah] tidurmu dibulan ini dalah ibadah. [ Amalukum fihi maqbul ] amalan mu di bulan ini dikabulkan.
Diselain bulan Ramadhan , agar amal diterima , persyaratannya sulit. Karena keberkahan bulan yang dimuliakan ini, maka menjadi mudah diterimanya amal. Meskipun amalmu sedikit di bulan ini, tetapi diterima. [ Du’akum fihi mustajab ] Doamu di bulan ini diijabahi. Setiap kali kamu meminta kepada Allah di bulan ini, niscaya akan dikabulkan bila anda menjadi tamu jamuan Al-Khaliq. Ada komentar indah dari Syaikh Syusytari : “ Tuan rumah ( penjamu) itu memiliki beberapa pintu masuk. Berusahalah untuk masuk. Apabila satu pintunya tertutup, maka masuklah dari pintu lain. Paling tidak harus masuk lewat salah satu pintu tersebut. Yakni Babut Taubah ( Pintu Taubah ) Babukl Inaabah ( Pintu Kembali ) Babul Wara ( Pintu Wara ) Babut Taqwa ( Pintu Takwa ). Arti At-Taubah ialah kembali. Jika anda menyesali perbuatan dosa anda dengan penyesalan yang mendalam seraya bertekad tiak akan mengulangi nya lagi, maka pada saat itu anda memasuki pintu taubah. Maka apabila itu tidak dicapai , tentunya diri anda tetap cacat dan berdosa. Sedangkan Alinabah ialah mengantikan sesuatu yang dirusak, kemudian memperbaikinya. Al-Inabah bermakna Al-Islah ( perbaikan , reformasi) . Apabila pintu rahmat belum terbuka bagi anda, maka masuklah melalui pintu Wara. Hindari dari sesuatu yang samar [ Musytabih ], dan
menjauhi dari hal-hal yang makruh. Barangkali dengan upaya meninggalkan makruh-makruh tersebut pintu rahmat akan terbuka untuk anda.
Memandang Kepada Jamuan Ilahi
Syaikh Syusytari berkata : “ Disalah satu majlisnya beliau menceritakan bahwa apabila ada seekor hewan mendekati jamuan dan pandangan nya tertuju pada makanan anda , seyogyanya anda memberikannya dan jangan mengusirnya, karena merupakan sikap yang tidak disukai kalau mengusirnya tanpa memperoleh makanan. “ Berkata salah seorang : “ Ilahi, aku memadang kepada jamuan kebaikan-Mu yang memberi makan darinya sebaik-baik makhluk-Mu, maka jangan engkau halangi aku untuk mangapainya. “ Fas Alullaha rabbakum bi niyyatin shadiqatin wa qulubin thahiratin an yuwaffiqakum li shiyamihi wa tilawatihi, karenanya mohonlah kepada Allah, Tuhanmu, dengan niat yang tulus dan hati yang suci , agar ia membimbingmu berpuasa dan membaca kitab-Nya.
Setelah anda mengetahui bahwa bukan Ramadhan adalah bulan Allah, nafasmu dibulan ini bertasbih, dan tidurmu adalah ibadah. Maka mohonlah pada Allah segala hajat keperluanmu dengan penuh dambaan , hati yang bersih, dan niat yang tulus juga, mintalah kepada tuhanmu aga ia membimbingmu berpuasa dan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan.
Bersedekah Di Bulan Ramadhan
Wa tashadaqu ala fuqara ikum wa masakinikum ( Bersedekahlah kepada paa fakir miskin di antara kamu) . Bantulah para fakir miskin di bulan yang diberkati ini sesuai kemampuanmu. Sedekah dapat memandamkan amarah Tuhan. Sedekah diam-diam lebih afdhal. Sedekah diam-diam menolak tupi daya setan dan memandamkan kemurkaan Tuhan. Disebutkan dalam doa dzuhur di bulan Sya’ban : Tuhanku, karuniailah daku pelipur orang yang telah engkau sedikitkan rezekiMu dengan apa yang telah engkau kayakan dengan karuniaMu. Ilahi, bimbinglah aku untuk membri apa yang telah engkau beri nikmat padaku bagi orang-orang yang membutuhkan, khususnya kaum kerabat dan handai taulan.
Maka bersedekahlah kepada orang-orang yang berpuasa menurut kemampuan , agar mereka dapat berbuka dan makan sahur. Pahala bagi orang yang bersedekah sama seperti pahala orang yang berpuasa, dan tidak dikurangi sedikitpun.
Maka bersedekahlah kepada orang-orang yang berpuasa menurut kemampuan , agar mereka dapat berbuka dan makan sahur. Pahala bagi orang yang bersedekah sama seperti pahala orang yang berpuasa, dan tidak dikurangi sedikitpun.
Berbuka dan Pahalanya
Hal penting lain yang diingatkan oleh Rasulullah saaw dalam khutbahnya adalah memberi makan orang yang berpuasa . Man faththara minkum sho’iman mu’minan fi hadzasy syahri kana lahu bi dzunubuhi. ( Barang siapa diantara kalian yang memberi makan berbuka untuk seorang mukmin yang berpuasa di bulan ini, niscaya baginya di sisi Allah pahala memerdekakan hamba sahaya dan ampunan atas dosa-dosa yang telah silam). Dalam riwayat lain dalam kitab Iqbalul a’mal disebutkan : Barang siapa di antara kamu memberi makan berbuka seorang yang berpuasa , maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa.” Tidak berkurang sedikit pun. Diriwayatkan juga dalam kitab Iqbalul a’mal dari sudair bahwa ia pernah berkunjung ke Imam Shadiq ad pada hari-hari bulan Ramadhan yang diberkati. Berkata Imam kepadanya : “ Wahai Sudair, malam-malam apa ini ? Sudair berkata : “ ya, kujadikan (diriku) tebusanmu, ini malam – malam bulan Ramadhan, lalu ada apa ? Berkata Imam kepadanya : “ Mampukah kamu untuk memerdekakan pada setiap malam dari malam-malam ini dari sepuluh hamba sahaya dari putra Ismail ?” Berkata Sudair “ Tidak, demi ayahku, engkau dan ibuku. Uangku tidak cukup untuk itu. Bahkan terus berkurang hingga cukup untuk satu hamba sahaya. Tidak, aku tidak mampu melakukannya”. Berkata Imam “ Tidakkah kamu mampu untuk memberi makan berbuka setiap malam untuk seorang muslim yang berpuasa”. Ya bahkan sepuluh orang Muslim, jawabnya. Berkata Imam as “ Itulah yang aku inginkan . Wahai Sudair , perbuatanmu memberi makan berbuka saudaramu muslim yang berbuka , pahalanya sepadan dengan memerdekakan hamba sahaya dari putra Ismail”. [ Iqbal al-a’mal, bab 3 hal.7 ] . Amat banyak riwayat yang berkenaan dengan hal di atas . Berkata Sayyid Ibnu Thowus dalam iqbalul a’mal bahwa manusia mengetahui dengan hukum akal bahwa memberi makan orang yang berpuasa adalah membantu orng yang mampu berpuasa. Demikian itu sikap kebersamaan dalam amal perbuatannya.
Pahala Shalat Di Bulan Ramadhan
Wa man tathawwa’a fihi bi shalatin kataballahu lahu bara atan minan nar(i), wa man adda fihi fardhan kana lahu tsawabun man adda sab’ina faridhatan fima siwahu minasy syuhur ( Barang siapa melakukan shalat sunnah di bulan ini, niscaya Allah menetapakan baginya bebas dari api neraka. Barang siapa menunaikan shalat fardhu di bulan ini, niscaya baginya pahala tujuh puluh shalat fardhu di bulan lain.
Setan – Setan Terbelenggu
Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menjadikan setan terbelenggu dalam bulan ini [ Was syayathinu mahglulah]. Amat banyak riwayat dari Nabi saaw berkenaan dengan hal ini selain yang tercantum dalam khutbah ini. Dalam salah satu riwayat Nabi saaw bersabdah : “ Sesungguhnya allah Ta’ala telah menguasakan setiap setan tujuh malaikat dalam bulan ini, Sehingga mereka tidak mampu menyesatkan kaum mukminin. Mereka tetap dalam keadaan terbelenggu sampai akhir bulan Ramadhan yang berkati. Berkata Sayyis Ibnu Thawus ( semoga Allah merahmatinnya) “ Bahwa Bulan Ramadhan tidak berbeda dengan bulan- bulan lainnya. Kita melihat orang-orang bermaksiat pada bulan Ramadhan, mereka sudah berbuat maksiat pada bulan sebelum bulan Ramadhan. Meskipun tidak banyak maksiat mereka (dibulan ini ) , tetapi kemaksiatan mereka tidak berkurang . Bahkan kita melihat orang-oang yang berpuasa di bulan ini melakukan dosa. Apabila setan- setan terbelenggu , sementara mereka tidak mampu menyesatkan seorang pun, tentunya tidak seorang pun akan melakukan dosa.
Tamu Allah dan Setan
Almarhum Sayyis Ibnu Thawus menjawab persoalan tersebut dengan beberapa jawaban. Dianataranya Pertama, Hadist tersebut bukan universal ( Umum ) . Yakni, hadis ini tidak menunjukkan setan-setan terbelenggu untuk setiap orang-orang di bulan ini. Sesungguhnya setan-setan yang terbelenggu adalah setan-setan kelompok tertentu dari orang-orang beriman yang benar-benar menjadi tamu Allah. Sebelum ini telah kami jelaskan orang yang menjadi tamu Allah . Yaitu, Orang yang tidak mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya. Ketika ia termasuk orang yang diterima di sisi Allah sebagai tamuNya. Yang Kedua , Boleh jadi yang dimaksud adalah anak-anak iblis . mereka inilah yang terbelenggu . Adapun setan tetap berkeliaran.
Keutamaan Amal di bulan Ramadhan
Berkat Amirul Mukmin, ali Bin Abi Thalib as : “ Lalu aku berdiri dan bertanya : “ Wahai Rasulullah , amal-amal afdhal apa saja dibulan ini ? Beliau Bersabdah ; “ Wahai Abal Hasan ( Maksudnya Imam Ali Bin Abi Thalib as ), amal-amal afdhal di bulan ini adalah berpantang terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah ‘ Azza wa jalla’ . Kemudian beliau saaw menangis. Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib as bertanya : “ Wahai Rasulullah , apa yang kau tangisi ? Beliau berkata : “ Wahai Ali, aku menangis karena pada bulan ini akan ada orang yang menghalalkan ( darahmu ) . Aku berfirasat , ketika engkau sedang sholat kepada Tuhanmu , tiba-tiba muncul seseorang yang lebih celaka dari generasi terdahulu dan kemudian daripada orang yang membunuh unta Nabi Shaleh. Lalu perang itu memukulmu dengan pedangnya sampai mengenai kepalamu hingga jenggotmu bersimbah darah. Berkata Amirul Mukminin : “Wahai Rasulullah apakah demikian itu termasuk keselamatan agamaku ? Beliau saaw bersabdah : “ Ya, keselamatan agamamu”.
Dalam khotbahnya beliau saaw melanjutkan : “ Siapa yang membunuhmu, berarti membunuhku . Siapa yang memurkaimu berarti memurkaiku . Siapa yang mencelamu berarti mencelaku. Karena engkau adalah bagian dariku, engkau seperti diriku. Ruhmu adalah ruhku. Karaktermu adalah bagian dari karakterku. Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan aku karenamu. Memilih aku karenamu. Memilih aku untuk kenabian , dan memilih kamu untuk kepemimpinan umat [ Imamah ]. Barang siapa mengingkari kepemimpinanmu, berarti ai telah mengingkari kenabianku. Wahai Ali, engkau adalah washiku, ayah putrraku, suami putriku dan kholifahku atas umatku di masa hidupku dan matiku. Perintahmu juga juga perintahku, laranganmu juga laranganku. Aku bersumpah dengan yang mengutusku sebgai Nabi dan menjadikan aku sebaik-baik makhluk. Sesungguhnya engkau hujjatullah atas makhluk-Nya dan pengemban amanat serta khalifah-Nya atas hamba-hamba-Nya.



