Membaca Ulang Kritik Iran terhadap Tatanan Global: Dari Revolusi 1979 hingga Kasus Epstein
Kepulangan Imam Ruhollah Khomeini ke Iran menandai berakhirnya monarki Pahlavi

Pada 3 Februari 1979, sebuah pesawat yang berangkat dari Paris menuju Teheran membawa lebih dari sekadar seorang pemimpin revolusi yang kembali ke tanah airnya. Penerbangan itu membawa sebuah kritik mendasar terhadap tatanan kekuasaan global modern. Kepulangan Imam Ruhollah Khomeini ke Iran menandai berakhirnya monarki Pahlavi, tetapi sekaligus membuka babak baru dalam sejarah kritik terhadap dominasi politik, hukum, dan moral yang selama ini diklaim sebagai fondasi dunia modern. Dalam pidato-pidato dan sikap politiknya setelah revolusi, Khomeini memperkenalkan istilah “Great Satan” untuk merujuk pada Amerika Serikat, sebuah ungkapan yang selama puluhan tahun dipahami dunia Barat sebagai retorika ideologis yang berlebihan, emosional, dan tidak rasional.
Namun, jika dibaca dalam konteks sejarah dan struktur kekuasaan global, istilah tersebut sejak awal tidak dimaksudkan sebagai makian moral terhadap suatu bangsa atau masyarakat, melainkan sebagai kritik simbolik terhadap sistem internasional yang timpang. Yang dikritik bukanlah rakyat Amerika, melainkan sebuah tatanan kekuasaan yang mampu memproduksi dominasi politik, intervensi militer, eksploitasi ekonomi, dan sekaligus mengklaim legitimasi moral tertinggi. Bagi Khomeini dan para pendukung Revolusi Islam, problem utama dunia modern bukan sekadar ketimpangan material, tetapi hipokrisi moral yang dilembagakan dalam sistem global.
Selama beberapa dekade, kritik semacam ini dipinggirkan. Ia diposisikan sebagai bagian dari konflik ideologis Perang Dingin, atau sebagai ekspresi teologis yang tidak relevan dengan analisis politik rasional. Dunia internasional, khususnya media dan akademia arus utama, lebih memilih melihat Amerika Serikat sebagai penjaga demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia. Dalam kerangka ini, kritik Iran dianggap tidak sah secara moral maupun intelektual, karena datang dari aktor yang dilabeli radikal, anti-Barat, dan tidak kompatibel dengan nilai-nilai modernitas.
Namun, dinamika global kontemporer menunjukkan bahwa banyak kritik yang dulu ditertawakan kini justru menemukan pijakan empiris. Mencuatnya kembali dokumen, kesaksian, dan jaringan kekuasaan yang terkait dengan kasus Jeffrey Epstein menjadi salah satu momen penting dalam pergeseran persepsi tersebut. Kasus ini bukan sekadar skandal kriminal individual, melainkan sebuah jendela yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan global bekerja secara nyata. Ia menunjukkan bahwa hukum tidak selalu beroperasi sebagai mekanisme keadilan yang netral, tetapi sering kali diterapkan secara selektif, bergantung pada posisi sosial dan politik pelaku yang terlibat.
Dalam kasus Epstein, publik global menyaksikan bagaimana jaringan kejahatan seksual dapat berlangsung selama bertahun-tahun, melibatkan tokoh-tokoh elite politik, finansial, dan sosial, tanpa intervensi hukum yang memadai. Laporan diabaikan, proses hukum berjalan lambat, dan akuntabilitas berhenti sebelum mencapai aktor-aktor berpengaruh. Pola ini menguatkan satu kesimpulan penting: supremasi hukum di pusat kekuasaan global sering kali bersifat asimetris. Ia tegas terhadap mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan, tetapi lunak, bahkan protektif, terhadap elite.
Di titik inilah kritik lama Iran menemukan relevansinya. Apa yang oleh Khomeini disebut sebagai “Setan Besar” dapat dibaca sebagai kritik terhadap sistem yang memungkinkan kejahatan elite berlangsung di bawah perlindungan institusional, sambil tetap memproyeksikan diri sebagai otoritas moral dunia. Moralitas publik, dalam konteks ini, tidak berfungsi sebagai prinsip etik yang mengikat kekuasaan, melainkan sebagai bahasa legitimasi. Nilai-nilai tentang hak asasi manusia, perlindungan anak, dan keadilan universal dipromosikan secara agresif di panggung global, tetapi dapat dinegosiasikan atau ditangguhkan ketika bertabrakan dengan kepentingan politik dan ekonomi elite.
Bagi Iran, realitas semacam ini bukanlah penemuan baru. Sejak awal revolusi, Iran menempatkan dirinya sebagai pengkritik tatanan global yang dianggap tidak adil dan sarat standar ganda. Posisi ini memang membawa konsekuensi politik dan ekonomi yang berat, termasuk isolasi dan sanksi, tetapi juga membentuk perspektif kritis yang tajam terhadap pusat kekuasaan global. Dari posisi “pinggiran sistem”, Iran melihat dengan lebih jelas kontradiksi antara klaim moral dan praktik nyata kekuasaan internasional.
Perubahan yang terjadi hari ini bukan terletak pada substansi kritik tersebut, melainkan pada penerimaan global terhadapnya. Jika pada 1979 dunia merespons ungkapan Khomeini dengan tawa sinis, kini semakin banyak masyarakat global yang merespons dengan anggukan diam. Bukan karena mereka sepakat dengan seluruh ideologi Revolusi Islam, tetapi karena bukti empiris tentang hipokrisi sistemik semakin sulit disangkal. Kasus Epstein berfungsi sebagai pemicu kesadaran, bukan karena ia satu-satunya contoh, melainkan karena ia terlalu telanjang untuk disembunyikan.
Dalam perspektif ini, kepulangan Khomeini dari Paris ke Teheran pada 3 Februari 1979 dapat dibaca ulang bukan hanya sebagai peristiwa revolusioner nasional, tetapi sebagai momen artikulasi kritik global yang melampaui konteks Iran. Kritik tersebut menyasar struktur kekuasaan yang memungkinkan dominasi tanpa akuntabilitas dan moralitas tanpa konsekuensi. Bahwa kritik ini baru dianggap relevan puluhan tahun kemudian menunjukkan bagaimana wacana global sering kali menolak suara dari luar hegemoni, hingga realitas memaksa untuk mendengarkannya.
Kasus Epstein, dengan segala implikasinya, memperlihatkan bahwa masalah utama politik global bukan sekadar konflik antarnegara atau perbedaan ideologi, melainkan sistem yang mampu melindungi kejahatan elite sambil tetap mengklaim superioritas moral. Dalam konteks ini, membaca ulang kritik Khomeini bukanlah tindakan ideologis, melainkan refleksi intelektual yang diperlukan untuk memahami krisis legitimasi yang sedang dialami tatanan global modern. Dunia mungkin tidak berubah karena satu penerbangan dari Paris ke Teheran, tetapi dunia hari ini mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan dari pesawat itu, puluhan tahun lalu, tidak keliru.



