Dimensi Keagungan Sayidah Fathimah as, Dibalik Nama dan Gelarnya (1)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa Fathimah az-Zahra menjadi barometer keridhoan dan kemurkaan Allah Swt

Euis Daryati,MA- Sayidah Fathimah as telah syahid pada usia yang relatif sangat muda yaitu delapan belas tahun. Namun meskipun syahid di usia muda, beliau telah mencapai derajat kesempurnaan dan menjadi manusia sempurna (insan kamil). kesempurnaan dan keagungannya tercermin dalam nama dan gelar-gelar yang beliau miliki, di antaranya:
Fathimah
Disebutkan bahwa Adz-Dzahabi telah menukil riwayat dari Ibnu Abbas bahwasanya saat Sayidah Fathimah as lahir, ia diberi nama Manshurah. Kemudian Malaikat Jibril as turun dan berkata kepada Nabi Muhamad Saw, “Wahai Muhamad, Allah Swt mengirim salam untukmu dan putrimu yang baru lahir, dan Dia berkata bahwa tidak ada yang lebih dicintai dari anak yang baru lahir ini, ia akan dinamai Fathimah karena ia akan menjauhkan para pengikutnya dari api neraka.”[1]
Allamah al-Majlisi telah menukil riwayat dari Imam Jakfar bin Muhammad as-Shadiq as, bahwasanya beliau berkata, “Sewaktu Fathimah az-Zahra terlahir, Allah Swt memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi dan memberitahukan nama ini kepada Rasulullah. Maka Rasulullah saw pun memberi nama Fathimah kepadanya.”[2]
Dari sisi bahasa ’fathama’ artinya ialah anak yang disapih dari susuan. Dalam sebuah riwayat Imam Muhammad al-Baqir as telah menyatakan bahwa setelah kelahiran Fathimah az-Zahra as, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya aku telah menyapihmu dengan ilmu, dan menyapihmu dari kototan (Inni fathamtuki bil ilmi wa fathamtuki a’nith thomats). Ini seperti seorang bayi saat disapih dari air susu ibu maka ia memerlukan makanan lain sebagai penggantinya. Fathimah az-Zahra setelah disapih makanan pertamanya ialah berupa ilmu.”[3]
Imam Ali ar-Ridho as telah meriwayatkan hadis dari ayahnya dan para leluhurnya hingga sampai kepada Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tahukan engkau kenapa dinamakan Fathimah?” Kemudian Imam Ali bin Abi Thalib as bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Karena ia dan pengikutnya akan tercegah dari api neraka.” [4]
Dalam sebuah riwayat Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Ia dinamakan Fathimah karena Allah Swt akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.”[5]
Para sahabat Nabi saw lainnya juga meriwayatkan hadis tersebut seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairoh, Jabir al-Anshori, seperti yang disebutkan dalam Mizanul I’tidal, Kanzul Ummal dan Yanabi’ul Mawaddah.
Imam Jakfar ash-Shadiq as juga berkata, “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak terdapat keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali as maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya(untuk menjadi pasangannya).”[6]
Salah seorang pengikut Imam Jakfar ash-Shadiq as berkata, “Pada suatu hari, dengan raut muka sedih aku menghadap Imam Jakfar ash-Shadiq as. Beliau bertanya, “Kenapa engkau bersedih?” Aku menjawab, anakku yang terlahir adalah perempuan. Beliau bertanya kembali, “Engkau beri nama apa ia?” Aku menjawab, “Fathimah”. Beliau kembali berkata, “Ketahuilah jika engkau telah menamainya Fathimah, janganlah engkau berkata buruk kepadanya dan janganlah memukulnya.” [7]
Az-Zahra
az-Zahra artinya ialah ‘yang bersinar’, atau ‘yang memancarkan cahaya’. Imam Hasan al-Askari berkata, “Salah satu sebab Fathimah dinamai az-Zahra karena tiga kali pada setiap hari beliau akan memancarkan cahaya bagi Imam Ali bin Abi Thalib as.”[8]
Beliau memancarkan cahaya bagaikan matahari pada waktu pagi, siang dan terbenam matahari.
Rasulullah saw bersabda, “Saat Fathimah tengah sibuk beribadah di mihrab, bagaikan cahaya bintang yang menerangi para malaikat penghuni langit.“[9]
Dalam riwayat lain Imam Jakfar ash-Shadiq as berkata, “Kenapa Fathimah dinamakan az-Zahra? Karena akan diberikan kepada beliau sebuah bangunan di surga yang terbuat dari yaqut merah. Dikarenakan kemegahan dan keagungan bangunan tersebut maka para penghuni surga melihatnya seakan sebuah bintang di langit yang memancarkan cahaya, dan mereka satu sama lain saling mengatakan bahwa bangunan megah bercahaya itu dikhususkan untuk Fathimah az-Zahra as.”
Mardhiyah
Mardiyah artinya ialah orang yang segala perkataan dan perilakunya telah diridhai oleh Allah Swt. Adapun sebab beliau dijuluki mardiyah karena bersumber pada beberapa hadis yang telah disampaikan Rasulullah saw dimana beliau telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt murka atas murka-mu dan ridho atas keridhaan-mu.”[10]
Hadis tersebut menjelaskan bahwa Fathimah az-Zahra menjadi barometer keridhoan dan kemurkaan Allah Swt. Tentunya menjadi catatan bahwa hadis-hadis Rasulullah saw tentang Fathimah az-Zahra as itu bukanlah atas dasar karena hubungan emosional antara seorang ayah dengan putrinya, atau karena hawa nafsu. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Rasulullah saw senantiasa berkata berdasarkan wahyu, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.”[11]
Siddiqah al-Kubra
Dalam Kamus Lisanul Arab dijelaskan bahwa Shiddiqah artinya ialah seorang yang sangat jujur dan tidak pernah berbohong. Atau, orang yang perkataannya membenarkan prilakunya.
Banyak riwayat yang menjelaskan tentang puncak kejujuran yang disandang oleh Fathimah az-Zahra as. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat menjelang wafat, Rasulullah saw berkata kepada Imam Ali as, “Aku telah menyampaikan berbagai masalah kepada Fathimah. Benarkan (percayailah) segala yang disampaikan Fathimah, karena ia sangat jujur.” [12]
Bahkan dalam hal ini, Aisyah pun telah memberikan kesaksian, “Tidak aku dapatkan seseorang yang lebih jujur dari Fathimah, selain ayahnya.”[13]
Kedudukan shiddiqiin berada pada tingkatan para nabi, syuhada dan shalihin seperti yang telah disinyalir Al-Qur’an, “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”[14]
Dalam kaitan ini Rasulullah saw pernah berkata kepada Imam Ali as, “Tiga hal berharga telah dihadiahkan kepadamu, dan tidak seorangpun yang mendapatkannya termasuk aku; Engkau memiliki mertua seorang rasul, sementara aku tidak memiliki mertua sepertimu. Engkau memiliki istri yang sangat jujur (shiddiqqah) seperti putriku, sementara aku tidak memiliki istri sepertinya. Engkau dikaruniai anak-anak seperti Hasan dan Husein, sementara aku tidak dikaruniai anak-anak seperti mereka. Namun demikian engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.” [15]
Imam Jakfar Shadiq as pun tiap saat mengingat Sayidah Fathimah as, beliau akan menyebutnya dengan Shiddiqah al-Kubra. Saat seseorang bertanya kepada beliau siapakan yang memandikan jenazah Sayidah Fathimah as? Beliau menjawab, “Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib… karena seorang shiddiqah jenazahnya tidak akan dimandikan kecuali oleh seorang yang shiddiq pula.”[16]
[1] Adz-Dzahabi, Mizanul ‘Itidal, jil 2. hal 400
[2] Majlisi, Biharul Anwar, jil 43, hal 13
[3] Majlisi, Biharul Anwar, jil 43, hal 13
[4] Majlisi, Biharul Anwar, jil 43, hal 14
[5] Majlisi, Biharul Anwar, jil 43, hal 18-19
[6] Majlisi, Biharul Anwar, jil 43, hal 10
[7] Al-Hurrul ‘AmiliWasa’il asy- Syi’ah, jil 15, hal 200
[8] Majlisi, Biharul Anwar, jil 43, hal 11
[9] Majlisi, Biharul Anwar, jilid 43 halaman 172
[10] Mustadrak ash-Shahihain jilid 3 halaman 153, Kanzul Ummal jilid 6 halaman 219, , Dzakhairu al-‘Uqba, halaman 39
[11] QS an-Najm:3-4
[12] Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 22, halaman 490
[13] Naishaburi, Mustadrak ash-Shahihain, jil 3 hal 16
[14] QS An-Nisa : 68
[15] Ar-Riyadhun Nadrah, jil 2 hal 202 dinukil dari Cesyme dar Bastar, Pur Sayid Aghai, hal 301-302
[16] Wasail asy-Syiah, jil 2, hal 714



