BERITA

Ayatullah A’rafi: Hauzah Harus Menjadi Pelopor di Era Kecerdasan Buatan

Ayatullah A’rafi menegaskan bahwa Hauzah memiliki tanggung jawab keagamaan yang besar. Dengan berlandaskan ilmu-ilmu Islam dan menggunakan metode ijtihad, ketelitian, serta kerja keras yang telah diwariskan para fakih, ahli hadis, dan ulama besar, Hauzah harus memasuki bidang-bidang baru dengan metode yang sama

Qom, 3 September 2026 — Direktur Hauzah Ilmiah Iran, Ayatullah Alireza A’rafi, menegaskan bahwa Hauzah Ilmiah harus menghadapi perkembangan ilmu-ilmu kognitif, teknologi maju, dan kecerdasan buatan dengan pendekatan yang bijaksana, mendalam, dan ijtihadi.

Menurutnya, Hauzah tidak boleh terjebak pada kekaguman berlebihan yang mendorong penggunaan teknologi secara tergesa-gesa dan dangkal. Namun, Hauzah juga tidak boleh mengabaikan, berpaling, atau menolak perkembangan tersebut.

“Harus dengan pendekatan yang bijaksana, mendalam, dan ijtihadi serta berlandaskan prinsip-prinsip Islam, kita mengenal, mengkritisi, dan memanfaatkan perkembangan ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Ayatullah A’rafi dalam acara peluncuran produk-produk teknologi di bidang ilmu-ilmu Islam yang dikembangkan Institut Ilmu, Peradaban dan Irfan dalam penerapan kecerdasan buatan untuk studi keagamaan. Acara tersebut berlangsung pada Kamis, 12 Syahrivar 1403 HS atau 3 September 2026, di Universitas Internasional Ahl Bayt, Qom.

Dalam kesempatan itu, A’rafi mengenang Imam Syahid dan para syuhada Poros Perlawanan serta mendoakan kemenangan Islam dan kaum Muslimin dalam pergulatan besar yang berlangsung saat ini, yang ia gambarkan sebagai pertarungan peradaban antara Islam dan kekufuran serta antara kaum tertindas dan kaum penindas.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para ulama, dosen, cendekiawan, santri, mahasiswa, serta para pegiat Hauzah dan universitas yang selama beberapa dekade berupaya mendekatkan Hauzah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Secara khusus, ia mengapresiasi para pengelola Institut Ilmu, Peradaban dan Irfan, serta para santri, mahasiswa, akademisi muda, dan pegiat Hauzah dan universitas yang terlibat dalam pengembangan bidang tersebut. Menurutnya, mereka memiliki semangat besar untuk memperluas batas-batas ilmu-ilmu Islam dan menjelaskan titik temu antara ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu Islam, ilmu-ilmu kognitif, dan teknologi maju.

Tiga Arah Strategis Hauzah Menghadapi AI

Ayatullah A’rafi menjelaskan bahwa terdapat dua sikap keliru yang selama ini muncul dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pertama, sikap pasif yang ditandai dengan kekaguman berlebihan, penggunaan secara tergesa-gesa, dan pendekatan yang dangkal. Kedua, sikap mengabaikan dan berpaling dari perkembangan baru, bahkan terkadang sampai pada penolakan terhadap perubahan besar.

Menurutnya, kedua sikap tersebut sama-sama tidak tepat. Jalan yang benar adalah jalan ketiga, yaitu memahami perkembangan secara tepat dan mendalam, mengenalinya secara cerdas dan bijaksana, mengkritisinya dengan benar, kemudian memanfaatkannya berdasarkan prinsip akal dan agama.

A’rafi mengatakan bahwa Hauzah dan Institut Ilmu, Peradaban dan Irfan berusaha mengambil jalan tersebut dalam menghadapi ilmu-ilmu kognitif, teknologi maju, dan kecerdasan buatan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa perkembangan tersebut tidak bertentangan dengan teks, sumber, dan ilmu-ilmu Islam maupun pengetahuan ilahi. Sebaliknya, terdapat ruang persinggungan yang luas di antara keduanya.

Pertama, memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi untuk pengembangan studi Islam. Menurut A’rafi, terdapat sedikitnya tujuh bidang yang perlu dikembangkan:

  1. Penerapan kecerdasan buatan dan teknologi baru pada sumber dan teks utama ilmu-ilmu Islam.
  2. Penerapannya pada sumber dan teks sekunder.
  3. Penerapannya dalam bangunan ilmu-ilmu Islam dan sistem-sistem Islam.
  4. Pemanfaatannya dalam dakwah, penjelasan, dan penyebarluasan pengetahuan ilahi.
  5. Penerapannya dalam implementasi Islam dan penyusunan model untuk mewujudkan Islam dalam berbagai bidang kehidupan individu dan sosial.
  6. Pemanfaatannya dalam tata kelola pemerintahan Islam.
  7. Pengkajian menyeluruh terhadap perkembangan peradaban Islam.

A’rafi menegaskan bahwa pengaruh perkembangan teknologi terhadap ilmu, pengetahuan keagamaan, dan penerapan ajaran Islam tidak dapat dihindari. Karena itu, Hauzah harus terlibat secara aktif, bergerak lebih awal, dan tidak bersikap pasif.

Kedua, menjelaskan pandangan Islam mengenai kecerdasan buatan. Islam, menurutnya, juga memiliki pandangan yang perlu dijelaskan terkait kecerdasan buatan, ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, serta berbagai perkembangan baru.

Untuk itu, terdapat lima tema yang perlu mendapat perhatian:

  1. Filsafat kecerdasan buatan dengan pendekatan Islam dan hikmah.
  2. Fikih dan hukum kecerdasan buatan.
  3. Ilmu kalam dan teologi kecerdasan buatan.
  4. Etika kecerdasan buatan.
  5. Sistem Islam dalam ranah kecerdasan buatan.

Islam perlu menjelaskan sikapnya terhadap perkembangan tersebut melalui berbagai perspektif dan disiplin ilmunya, sekaligus mempertimbangkan persoalan dan tuntutan yang muncul dari bidang tersebut. Menurut A’rafi, kedua bidang ini merupakan arah penting yang perlu dilanjutkan oleh Institut Ilmu, Peradaban dan Irfan.

Ketiga, mengkaji kembali bangunan ilmu-ilmu Islam dengan integrasi kecerdasan buatan.

Dengan melihat luasnya perkembangan ilmu-ilmu kognitif dan kecerdasan buatan, A’rafi menilai ilmu-ilmu Islam perlu dikaji kembali dengan pandangan terbuka, mendalam, dan ijtihadi, namun tetap berlandaskan prinsip-prinsip Islam.

Ia mencontohkan ilmu kalam teoretis dan rasional yang perlu dikaji kembali berdasarkan pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dari perkembangan tersebut. Pembahasannya mencakup pembuktian keberadaan Tuhan Yang Wajib Ada, keberadaan material dan nonmaterial, kenabian, hari kebangkitan, mukjizat, kedudukan manusia, kehendak bebas manusia, dan berbagai persoalan lainnya dalam ilmu kalam.

A’rafi menegaskan bahwa pembacaan baru tersebut bukan berarti meninggalkan prinsip-prinsip dasar. Hauzah tetap berdiri di atas fondasi pemikiran hikmah, rasional, dan ijtihadi yang kokoh. Namun, perkembangan baru perlu menjadi bagian dari kajian terhadap berbagai persoalan ilmu-ilmu Islam.

Pendekatan serupa, lanjutnya, juga perlu dilakukan dalam filsafat dan Hikmah Muta’aliyah, serta dalam bidang fikih dan etika. Ia berharap Hauzah Qom dan berbagai Hauzah Ilmiah dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini, dengan memperkuat interaksi dan kerja sama bersama para ahli dan universitas.

Peluang dan Ancaman AI Perlu Dikaji Menyeluruh

A’rafi juga menekankan pentingnya mengkaji secara menyeluruh peluang dan ancaman yang muncul dari perkembangan kecerdasan buatan.

Ia mengatakan bahwa para pemikir dan peneliti di Barat telah membahas dampak perkembangan tersebut dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, tata kelola pemerintahan, masa depan manusia, kehidupan manusia, hingga peradaban.

Menurutnya, perlu dikaji apakah dampaknya bersifat positif atau negatif, serta apa saja dimensi dan konsekuensi yang ditimbulkannya.

Persoalan ini juga mencakup bidang pertahanan dan keamanan. Dalam perang-perang yang dipaksakan baru-baru ini, teknologi baru digunakan secara luas dan efektif dalam pertahanan, keamanan, dan peperangan. Menurut A’rafi, sebelum perang 12 hari dan perang Ramadan, penggunaan teknologi dalam berbagai aspek tersebut belum pernah terlihat dalam skala seperti ini.

Ia mengatakan bahwa terdapat kekuatan sekaligus kelemahan dalam menghadapi perkembangan tersebut. Di titik-titik yang masih lemah, terdapat kerentanan yang dapat menimbulkan dampak serius sehingga diperlukan upaya yang lebih besar.

A’rafi mengingat kembali pertemuannya sekitar dua tahun sebelumnya dengan Pemimpin Syahid Revolusi Islam dan Komandan Syahid. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan perlunya perhatian terhadap tiga persoalan, termasuk pertahanan nonmiliter dan kecerdasan buatan.

Menurutnya, saat itu kecerdasan buatan belum mendapatkan perhatian yang semestinya di universitas, Hauzah, maupun pusat-pusat strategis. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerugian serius dan karena itu membutuhkan perhatian lebih besar.

Teknologi Baru dan Kekuatan Iran

Menyoroti dua perang yang dipaksakan baru-baru ini, A’rafi mengatakan bahwa teknologi baru digunakan secara zalim dalam bidang ekonomi, politik, keamanan, tata kelola pemerintahan, dan pertahanan untuk merugikan sistem Islam, Revolusi Islam, dan Poros Perlawanan.

Namun, di sisi lain, kekuatan Iran juga menunjukkan sesuatu yang mengagumkan.

Ia menyebut perlawanan bangsa Iran dan angkatan bersenjatanya sebagai sebuah fenomena sejarah yang luar biasa. Menurutnya, apa yang terjadi merupakan fenomena yang belum memiliki padanan dalam satu abad terakhir: sebuah bangsa mampu berdiri dan bertahan menghadapi salah satu kekuatan paling kuat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, dan militer.

A’rafi juga menceritakan pertemuannya dengan sekitar 50 ulama dari negara-negara Afrika. Ia berbicara sekitar 40 menit di hadapan mereka dan mengatakan bahwa para ulama tersebut merasa kagum terhadap kebesaran yang dimiliki Iran.

Ia juga menyebut perjalanan terbarunya ke Irak, Malaysia, Rusia, dan sejumlah tempat lainnya. Di berbagai negara tersebut, ia menyaksikan kekaguman terhadap kebesaran bangsa Iran dan wacana besar Revolusi Islam.

Menurut A’rafi, kebesaran tersebut merupakan sebuah modal. Untuk mempertahankan pencapaian itu, Iran harus terus bergerak maju di seluruh bidang ilmu pengetahuan.

Ia juga menekankan perhatian besar Pemimpin Syahid terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, membangun kekuatan ilmiah dan teknologi merupakan salah satu bagian penting dari perhatian Pemimpin Syahid, yang secara langsung mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi negara secara rinci dan bertahap.

A’rafi meyakini bahwa sebagian besar perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan ilmiah, dan teknologi maju yang dicapai Iran tidak akan terwujud tanpa perhatian tersebut, atau setidaknya tidak akan berkembang dalam bentuk seperti sekarang. Karena itu, perhatian tersebut harus terus dilanjutkan.

Hauzah Harus Menjadi Pelopor

Menutup pernyataannya, Ayatullah A’rafi menegaskan bahwa Hauzah memiliki tanggung jawab keagamaan yang besar. Dengan berlandaskan ilmu-ilmu Islam dan menggunakan metode ijtihad, ketelitian, serta kerja keras yang telah diwariskan para fakih, ahli hadis, dan ulama besar, Hauzah harus memasuki bidang-bidang baru dengan metode yang sama.

“Horizon-horizon cahaya harus kita buka. Kita harus menjadi pelopor dan yang terdepan dalam menghadapi perkembangan,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa mewujudkan tujuan tersebut dalam praktik bukanlah perkara mudah. Menyampaikan gagasan tersebut memang mudah, tetapi pelaksanaannya di lapangan jauh lebih sulit.

Meski demikian, menurutnya, generasi muda, para cendekiawan, dan dosen muda memiliki kapasitas besar yang dapat bekerja bersama kalangan akademisi untuk menempuh jalan tersebut.

Pada akhir pernyataannya, A’rafi menyinggung aktivitas Institut Ilmu, Peradaban dan Irfan. Ia menjelaskan bahwa institut tersebut berupaya mempersiapkan sumber daya manusia dari kalangan Hauzah dan universitas dalam berbagai bidang, sekaligus membina insan-insan yang memiliki kapasitas besar dan mempersiapkan kader-kader untuk masa depan.

Sumber : https://www.hawzahnews.com/news/1421658/%D8%B1%D8%A7%D9%87%D8%A8%D8%B1%D8%AF%D9%87%D8%A7%DB%8C-%DA%A9%D9%84%D8%A7%D9%86-%D8%AD%D9%88%D8%B2%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%85%DB%8C%D9%87-%D8%AF%D8%B1-%D9%85%D9%88%D8%A7%D8%AC%D9%87%D9%87-%D8%A8%D8%A7-%D9%81%D9%86%D8%A7%D9%88%D8%B1%DB%8C-%D9%87%D8%A7%DB%8C-%D9%86%D9%88%DB%8C%D9%86-%D9%88-%D9%87%D9%88%D8%B4

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button