Genosida Gaza dan Luka Moral Peradaban Barat.

MM-Forum Ekonomi St Petersburg (SPIEF) telah berlangsung. Sebuah pertemuan tahunan yang dihadiri di seluruh Eurasia. Tema keseluruhan pada tahun 2024 adalah “multipolaritas,” selaras dengan kepemimpinan BRICS di Rusia. KTT BRICS pada bulan Oktober mendatang di Kazan akan menjadi sangat penting dalam menggambarkan kontur peta jalan menuju multipolaritas di masa depan.
Satu hal yang mengganjal, bagaimana para pendukung Multipolar bisa bermimpi tentang keindahan multipolaritas ketika kita hanya sebagai penonton siaran langsung genosida di Gaza lewat ponsel pintar kita.
Kita patut takjub dengan Mahkamah Internasional (ICJ) – yang memang tidak sempurna – tapi setidaknya memerintahkan para pelaku genosida untuk berhenti membom Rafah. Bagaimana tanggapan Israel? Mereka mengebom Rafah. Parahnya, mereka membakar hidup-hidup anak-anak di tenda pengungsian. Tentu saja dengan dengan rudal Amerika. Keamanan AS-Israel adalah satu kesatuan, termasuk dalam soal pembantaian. Apa hubungan keamaan dan demokrasi AS dengan pertisipasinya menggenosida warga Gaza.
Genosida sepertinhya akan terus berlanjut. Perintah ICJ untuk menghentikan pembantaian di Rafah, ditambah upaya ICC untuk meminta surat perintah penangkapan para pemimpin tinggi Israel atas kejahatan perang berantai di Gaza, diperkirakan akan membuat gabungan Israel-AS menjadi hiruk-pikuk histeris.
Imperium AS-Israel berusaha mengontrol narasi resmi “tidak ada genosida di Gaza” dan tidak ada “garis merah” yang dilanggar. Pernyataan ini adalah seperti buku resmi dari aspirasi kolektif barat. Mereka akan melakukan kontrol narasi secara total, tentu dengan operasi humas yang ketat mencengkeram opini dunia.
Sedikit bertentangan dengan Mao Zedong, kekuatan sebenarnya tidak datang dari laras senjata (atau nuklir hipersonik); hal ini berasal dari kontrol naratif, atau yang biasa kita sebut dengan “soft power”. Bedanya sekarang imperium Hegemon tidak lagi mengontrol soft power. Mayoritas Global bertahap berhasil menekuk, secara real-time.
Masyarakat Psikopat
Para pengendali narasi (AS-Israel) akan berusaha terus menambah koleksi pembersihan etnis yang sudah dimulai sejak 1948. Mereka masih percaya koleksi genosida-Gaza akan berjalan mulus dan lolos, mereka mengira akan menang tanpa hukuman.
Hiper-etnosentrisme atau karakter sosiopat “masyarakat Israel” masa berlakunya kian menghawartirkan. Luka akibat perang/genosida di Gaza mengoyak jantung peradaban demokrasi liberal eropa barat.
Struktur kekuasaan AS-Israel saling bersatu. Mereka bekerja berdasarkan logika yang saling melengkapi. Penjarahan versi Israel diwujudkan dalam “kolonialisme pemukim” diamankan dengan veto AS salaam beberapa dekade. Kaum hegemon telah melakukan kolonialisme finansial yang mencari keuntungan sejak akhir Perang Dunia II.
Michael Hudson menyebut (keuangan – asuransi – real estat) telah tervalsifikasi, sebagaimana dicatat oleh Alastair (mantan diplomat dan anggota M16), menjadi “kerangka permanen sistem politik dan geopolitik Barat.”
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mayoritas Global secara naluriah melihat kombinasi Israel-AS – yang melakukan berbagai bentuk eksploitasi/penjarahan hingga genosida – sebagai lambang kolonialisme, yang kini “diperlunak” dengan kontrol naratif yang diubah menjadi “aturan” yang tidak bermakna berdasarkan tatanan internasional.”
Tidak mengherankan juga jika genosida di Gaza telah memicu gelombang anti-kolonial di seluruh mayoritas Dunia.
Tidak ada yang benar-benar bisa menghentikan genosida. Hal ini secara praktis hanya mungkin terjadi jika Israel mengalami kekalahan militer yang dahsyat – dan pihak yang menang akan menentukan syarat-syarat penyerahan diri.
Pengorbanan Manusia
Andrea Zhok, profesor Filsafat Etis di Universitas Milan dan salah satu intelektual independen Italia terkemuka mengatakan, Barat yang berada di bawah Hegemon, katanya, hanya punya Rencana A. Tidak ada Rencana B. Hal ini berarti Barat akan terus menerapkan segala bentuk “Divide and Rule” terhadap kekuatan utama Eurasia – Rusia, Tiongkok, dan Iran. Zhok mencatat dengan benar bahwa India secara substansial berada di bawah kendali.
Itulah skenario persimpangan jalan yang kita hadapi saat ini. Ke depan, bisa menjadi Perang Panas Terbuka atau serangkaian Perang Hibrida antara negara-negara besar dan negara-negara bawahannya – yang pada dasarnya adalah Perang Dunia Ketiga.
Zhok menunjukkan bagaimana Barat di bawah Hegemon, kini terobsesi untuk menciptakan “luka sistemik” yang mampu menimbulkan kehancuran secara siklis. Untuk membuka “luka” ini, ada dua prosedur utama: perang dan pandemi.
Ia berargumentasi bahwa hanya “cakrawala baru pengorbanan manusia” yang mampu membiarkan “Kebenaran Tertinggi” barat terus berdiri tegak.
Faktanya, “cakrawala baru pengorbanan manusia” inilah yang mengondisikan tidak adanya respon dari Barat – atau lebih buruk lagi, legitimasi – terhadap genosida di Gaza. Dan hal ini tentu saja menggerogoti jiwa orang Eropa dari dalam. Apa yang dulu disebut sebagai peradaban Eropa – yang kini sepenuhnya dikuasai oleh Hegemon – mungkin tidak akan pernah bisa disembuhkan dari penyakit kanker tersebut. Situasi akan membawa ke arah perang nuklir.
Semuanya ada di sini, dalam percakapan antara Hakim Andrew Napolitano dan analis Larry Johnson dan Ray McGovern, di mana Hakim Andrew Napolitano merujuk pada email yang ia terima dari sumber militer/intel. Inilah yang dikatakan sumber itu kepadanya:
Hari ini, saya mendengarkan wawancara ekstensif dengan mantan perwira intelijen IDF. Posisinya jelas: ‘Kami,’ katanya, ‘bertujuan menuju perang dunia’. Oleh karena itu, Israel tidak boleh berhenti menerapkan beberapa tindakan paling ekstrim karena tindakannya akan diukur secara surut dalam konteks konflik dunia yang brutal di masa depan.
Hal ini harus dilihat sebagai penjelasan akhir atas eskalasi hegemon/ para pengikut yang tanpa henti di front “Forever Wars” yang saling terkait – dari Gaza hingga Novorossiya.
Termasuk genosida–serta proyek penipuan dermaga ‘bantuan’ senilai $320 juta yang kini berubah menjadi sampah di pantai Gaza, membawa semuanya kembali ke genosida lagi karena taktik pengusiran/pengiriman warga Palestina ke luar negeri telah berdampak buruk, dan gagal.
Luka moral dan peradaban Barat akibat perang-genosida Gaza oleh Israel, hanya mungkin di sembuhkan dengan skala genosida yang lebih masif dan brutal yang akan menimbulkan keos di seluruh dunia. Akibat keos perang nuklir dunia, Israel masih berharap kolonisasi makin lancar tanpa memperhatikan kehancuran Israel sendiri akibat imbas senjata nuklir. Dari korban nuklirlah Israel baru bisa melihat diri mereka sendiri. Ketika senjata betu-betul memakan tuanya.



