Mengakar di Indonesia, Bertumbuh di Dunia: Alumni Didorong Menjadi Agen Pembangunan Menuju Indonesia Emas
Indonesia tidak perlu menjadi Iran

Jakarta, 5 September 2026 — Semangat membangun kemandirian, memperkuat ketahanan nasional, dan menyiapkan sumber daya manusia unggul menjadi perhatian utama dalam Sarasehan Alumni Connect PPI Dunia 2026 yang digelar di Auditorium M. Jusuf Ronodipuro, Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Mengusung tema “Mengakar di Indonesia, Bertumbuh di Dunia, Membangun Swasembada dan Ketahanan Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini mempertemukan tokoh nasional, akademisi, pimpinan lembaga, profesional, serta jaringan alumni Indonesia dari berbagai negara.

Sarasehan menjadi ruang untuk bertukar gagasan mengenai kontribusi diaspora dan alumni perguruan tinggi luar negeri bagi pembangunan Indonesia. Alumni tidak lagi dipandang hanya sebagai lulusan yang membawa pulang gelar dan pengalaman akademik, tetapi juga sebagai aset strategis bangsa yang dapat menghubungkan pengetahuan dan pengalaman global dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Ketua Harian Alumni Connect PPI Dunia, M. Putra Hutama, turut hadir dan memberikan apresiasi kepada para peserta dan tamu undangan. Sementara itu, Koordinator Presidium Alumni Connect PPI Dunia, Achmad Adhitya, dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun jejaring alumni sebagai kekuatan kolaboratif dalam merespons berbagai persoalan bangsa.

“Pada kesempatan ini, kita berkesempatan menghadirkan sejumlah tokoh dan pakar yang dapat menjadi inspirasi serta memberikan perspektif untuk kemajuan Indonesia ke depan,” ujarnya.
Forum juga menghadirkan Mistam, Direktur Program dan Produksi RRI, yang menyampaikan inspiring speech mengenai pentingnya jejaring dan kualitas sumber daya manusia dalam membangun Indonesia.
Sejumlah tokoh nasional turut tampil dalam sesi Leaders Talk, antara lain Prof. Ariawan Gunadi, Chairman Tarumanagara Foundation; Arya Sandhiyudha, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo); Prof. Carina Joe, pemegang hak paten vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca; serta Doddy Akhmadsyah Matondang, co-founder Garuda Baru.
Forum tersebut juga menghadirkan Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, sebagai keynote speaker.

Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah Strategic Insight Forum #1 bertajuk “Peran Alumni sebagai Agen Pembangunan”.
Dalam sesi tersebut, Ketua IKMAL, Husein Nahrawi, Lc., menyampaikan gagasan bertajuk “Peran Alumni Jamiah Al-Mustafa Iran sebagai Agen Pembangunan: Menggali Pondasi Dasar Republik Islam Iran dan Mengontekstualisasikannya bagi Indonesia.”
Menurut Husein, pengalaman belajar di luar negeri tidak seharusnya berhenti pada pencapaian akademik. Alumni perlu mengalami transformasi, dari student menjadi scholar, kemudian berkembang menjadi social engineer yang mampu menerjemahkan ilmu menjadi solusi bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan seorang alumni bukan hanya gelar yang diperoleh, tetapi kemanfaatan yang ditinggalkan,” ujar Husein.
Karena itu, pertanyaan penting bagi seorang alumni bukan hanya apa yang diperoleh selama belajar di luar negeri, khususnya Iran, tetapi juga apa yang dapat dibawa pulang dan dikontribusikan untuk Indonesia.
Dalam konteks tersebut, Husein memandang Iran sebagai laboratorium pembelajaran, bukan sebagai model yang harus ditiru secara utuh.
“Iran bukan template. Iran adalah laboratorium pembelajaran. Kita mengambil nilai dan prinsip, bukan sekadar bentuk institusinya,” katanya.
Husein mengidentifikasi sejumlah nilai yang dapat menjadi bahan refleksi bagi Indonesia, antara lain ilmu pengetahuan, kemandirian, kepemimpinan, pendidikan berbasis nilai, kekuatan komunitas, dan ketahanan nasional.
Menurutnya, kemandirian bukan berarti menutup diri dari dunia. Kemandirian justru berarti kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri, sekaligus tetap terbuka terhadap kerja sama internasional.
Prinsip tersebut, kata Husein, dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, riset, teknologi, ekonomi hingga pemberdayaan masyarakat.
Ia juga menyoroti kepemimpinan sebagai salah satu aspek penting yang dapat dipelajari dari pengalaman Republik Islam Iran.
Dalam paparannya, Husein menjelaskan bahwa Rahbar atau Pemimpin Tertinggi memiliki posisi strategis dalam memberikan arah besar bagi kehidupan politik dan kebijakan negara Iran. Di luar aspek formal tersebut, terdapat pula fenomena sosial berupa loyalitas dan kepatuhan yang kuat terhadap kepemimpinan di kalangan masyarakat yang menerima prinsip Velayat-e Faqih.
Namun, Husein menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu menyalin model kepemimpinan Iran.
“Indonesia tidak perlu menjadi Iran. Konteks Indonesia berbeda. Yang dapat kita pelajari adalah bagaimana kepemimpinan, visi, kepercayaan, kesatuan arah, dan mobilisasi masyarakat dapat menjadi kekuatan pembangunan,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan sesuai dengan sistem demokrasi, Pancasila, UUD 1945, dan karakter kebinekaan Indonesia.
Husein juga menekankan pentingnya pendidikan yang mampu mengintegrasikan ilmu, akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Indonesia, menurutnya, tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang berintegritas, mampu berpikir kritis, memiliki kedalaman spiritual, menghargai perbedaan, dan peduli terhadap persoalan masyarakat.
Dalam konteks ini, alumni Jamiah Al-Mustafa memiliki modal yang khas. Selain memperoleh pendidikan dalam tradisi keilmuan Islam dan filsafat, mereka juga memiliki pengalaman dalam bidang sosial-humaniora serta kehidupan di lingkungan internasional.
Alumni dapat memainkan peran sebagai knowledge broker, yaitu penghubung antara ilmu dan masyarakat, universitas dan komunitas, tradisi dan modernitas, serta Indonesia dan dunia Islam.
Husein menawarkan lima peran strategis alumni, yaitu sebagai agent of knowledge, agent of character, agent of innovation, agent of diplomacy, dan agent of community development.
“Alumni jangan berjalan sendiri-sendiri. Kita membutuhkan ekosistem alumni yang menjadikan jaringan silaturahmi sekaligus jaringan kontribusi,” katanya.

Lebih jauh, Husein mengusulkan penguatan jejaring alumni melalui berbagai bidang, seperti riset, pendidikan, inovasi sosial, gerakan kepemudaan, dan diplomasi internasional.
Khusus bagi alumni Jamiah Al-Mustafa, ia mendorong penguatan riset Indonesia-Iran, pendidikan masyarakat, pengembangan bahasa Persia sebagai sarana diplomasi dan kebudayaan, pemanfaatan teknologi untuk pesantren dan komunitas, kewirausahaan berbasis masyarakat, pemberdayaan pemuda, serta diplomasi masyarakat.
Menurutnya, pengalaman belajar di Iran menempatkan alumni pada posisi strategis sebagai jembatan antarperadaban atau bridge of civilizations.
“Kita memahami bahasa, budaya, tradisi intelektual, dan masyarakat dari dua ruang, yaitu Indonesia dan Iran. Karena itu, alumni memiliki posisi strategis sebagai bridge of civilizations,” ujarnya.
Husein menutup paparannya dengan pesan bahwa alumni tidak seharusnya pulang untuk membawa Iran ke Indonesia. Sebaliknya, alumni perlu membawa semangat ilmu, tradisi berpikir, etos kemandirian, spirit pengabdian, keteladanan kepemimpinan, dan pengalaman peradaban, lalu mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
“Kita pulang bukan untuk membawa Iran ke Indonesia. Kita pulang untuk membawa semangat ilmu, tradisi berpikir, etos kemandirian, spirit pengabdian, dan pengalaman peradaban untuk kemudian kita tanam di tanah Indonesia.”
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat besar Sarasehan Alumni Connect PPI Dunia 2026, yakni mendorong alumni untuk tetap mengakar kuat di Indonesia, tetapi mampu bertumbuh dan berkontribusi di tingkat global.
Pada akhirnya, alumni diharapkan tidak hanya menjadi kelompok yang memiliki pengalaman internasional, tetapi juga menjadi kekuatan intelektual, sosial, dan profesional yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas.
Mengakar di Indonesia bukan berarti berhenti di Indonesia. Bertumbuh di dunia bukan berarti kehilangan akar. Dari Indonesia untuk dunia, dan dari pengalaman dunia untuk kemajuan Indonesia.




