Haul Imam Khomeini
Ketika Kekuatan Seorang Ulama Mengubah Nasib Sebuah Bangsa dan Menantang Tatanan Dunia

Pada 4 Juni, dunia mengenang wafatnya Imam Ruhullah Musawi Khomeini, sosok yang oleh kawan maupun lawan diakui sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah abad ke-20. Tiga puluh tujuh tahun setelah kepergiannya, pengaruh yang ditinggalkannya bukan semakin memudar, melainkan semakin nyata di tengah pergolakan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Sejarah modern jarang mencatat seorang ulama yang mampu mengubah nasib sebuah bangsa, meruntuhkan monarki berusia ribuan tahun, sekaligus melahirkan sebuah negara yang selama lebih dari empat dekade tetap bertahan menghadapi perang, embargo, isolasi, dan berbagai bentuk tekanan internasional. Imam Khomeini melakukan semua itu bukan dengan divisi tank, bukan dengan armada tempur, melainkan dengan sebuah kekuatan yang sering diremehkan oleh para pemegang kekuasaan: keyakinan rakyat dan kekuatan ide.

Ketika Revolusi Islam meletus pada tahun 1979, banyak analis Barat menganggapnya sebagai fenomena sementara. Mereka memperkirakan Republik Islam tidak akan mampu bertahan lebih dari beberapa tahun. Namun, waktu membuktikan sebaliknya. Shah Iran yang didukung oleh Amerika Serikat tumbang, sementara negara yang dibangun oleh seorang ulama dari kota kecil Khomeyn itu justru bertahan melewati berbagai badai sejarah.
Imam Khomeini memahami sesuatu yang sering dilupakan oleh teori-teori politik modern: bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak semata-mata terletak pada kekayaan alam, jumlah rudal, atau besarnya anggaran militer. Kekuatan sebuah bangsa pada akhirnya terletak pada keberaniannya untuk mempertahankan kehormatan dan kemerdekaannya.
Di tengah dunia yang dikuasai oleh logika kekuatan dan kepentingan, Imam Khomeini mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana namun mendasar: apakah sebuah bangsa harus hidup dalam kenyamanan tetapi kehilangan martabatnya, ataukah memilih jalan yang sulit demi mempertahankan kemerdekaannya?
Pertanyaan itulah yang membentuk watak Republik Islam Iran hingga hari ini.

Selama puluhan tahun, Iran menghadapi embargo ekonomi, perang delapan tahun dengan Irak, ancaman perubahan rezim, operasi intelijen, sabotase, pembunuhan ilmuwan, hingga tekanan militer yang terus menerus. Tetapi negara itu tidak runtuh. Bahkan dalam banyak hal, Iran berhasil membangun kemampuan pertahanan, teknologi, dan pengaruh regional yang menjadikannya salah satu kekuatan utama di Timur Tengah.
Semua itu berakar dari satu doktrin yang diwariskan Imam Khomeini: bahwa bangsa yang menggantungkan nasibnya kepada kekuatan asing pada akhirnya akan kehilangan dirinya sendiri.
Karena itu, bagi Imam Khomeini, perjuangan melawan hegemoni bukanlah soal permusuhan terhadap bangsa tertentu, melainkan persoalan menjaga harga diri. Baginya, kemerdekaan bukan barang yang dapat ditukar dengan keamanan semu atau kesejahteraan sesaat.
Dalam konteks inilah, dukungan Iran terhadap Palestina dan penolakannya terhadap dominasi Israel serta Amerika Serikat harus dipahami. Bagi Republik Islam, persoalan Palestina bukan sekadar konflik teritorial, melainkan simbol dari pertarungan yang lebih besar antara penindasan dan perlawanan, antara dominasi dan kemerdekaan.
Tidak mengherankan apabila di tengah perang dan ketegangan yang terus meningkat di kawasan, nama Imam Khomeini kembali sering disebut. Sebab, apa yang hari ini diperlihatkan Iran kepada dunia bukanlah kebijakan yang lahir kemarin, melainkan buah dari fondasi strategis yang telah diletakkan sejak Revolusi Islam.
Di sinilah letak keistimewaan Imam Khomeini. Ia membuktikan bahwa seorang ulama tidak harus menjadi penghuni mihrab yang terasing dari realitas dunia. Ia menunjukkan bahwa agama dapat menjadi sumber kebangkitan sosial, energi politik, dan kekuatan peradaban.
Lebih dari itu, Imam Khomeini membalik sebuah asumsi yang selama berabad-abad mendominasi hubungan internasional, yaitu bahwa bangsa-bangsa kecil harus menerima nasibnya sebagai objek dari permainan negara-negara besar. Melalui Revolusi Islam, ia memperlihatkan bahwa sebuah bangsa yang memiliki kepercayaan diri dan identitas yang kuat dapat menolak untuk menjadi satelit kekuatan mana pun.
Empat puluh tujuh tahun setelah Revolusi Islam, dunia menyaksikan sebuah ironi sejarah. Banyak rezim yang dahulu tampak kokoh dengan dukungan kekuatan besar telah runtuh dan hilang dari panggung sejarah. Sebaliknya, Republik Islam Iran yang sejak awal diprediksi akan segera tumbang justru tetap berdiri dan bahkan menjadi salah satu aktor yang tidak dapat diabaikan dalam percaturan global.
Tentu saja, seperti semua tokoh besar dalam sejarah, Imam Khomeini tidak lepas dari kritik dan perdebatan. Tetapi bahkan para pengkritiknya pun sulit mengingkari satu kenyataan: ia telah berhasil mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan mengembalikan peran agama sebagai salah satu faktor utama dalam geopolitik dunia modern.

Pada haulnya yang ke-37, warisan terbesar Imam Khomeini mungkin bukanlah sebuah negara, bukan pula sebuah revolusi. Warisan terbesarnya adalah keyakinan bahwa sebuah bangsa yang percaya kepada dirinya sendiri tidak akan mudah ditaklukkan.
Sebab sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa senjata dapat menghancurkan kota, embargo dapat melemahkan ekonomi, dan propaganda dapat memengaruhi opini. Tetapi ada satu hal yang jauh lebih sulit untuk dikalahkan: sebuah bangsa yang telah memutuskan untuk hidup merdeka.
Dan mungkin, di situlah letak rahasia mengapa seorang ulama dari Khomeyn masih terus memengaruhi geopolitik dunia puluhan tahun setelah wafatnya.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu digerakkan oleh mereka yang memiliki kapal induk dan pangkalan militer di seluruh dunia. Terkadang, sejarah digerakkan oleh seorang ulama yang mampu menanamkan keberanian ke dalam jiwa bangsanya, dan oleh sebuah bangsa yang memilih berdiri tegak, bahkan ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan terbesar di muka bumi.



