BERITABerita IKMALInformasi

Pernyataan Sikap Resmi IKMAL : Menanggapi Serangan Zionis Israel ke Wilayah Iran dan Respons Republik Islam Iran

A. Latar Belakang Peristiwa

Pada 13 Juni 2025, rezim Zionis Israel secara terang-terangan melancarkan serangan udara ke wilayah Republik Islam Iran, menargetkan fasilitas strategis di Teheran dan menewaskan sejumlah tokoh penting: Komandan Senior IRGC, Syahid Hossein Salami, Mohammad Bagheri, serta beberapa ilmuwan nuklir dan perwira tinggi militer. Serangan ini tidak lagi merupakan bagian dari “perang bayangan” yang selama dua dekade menjadi corak hubungan permusuhan antara Iran dan Israel, melainkan eskalasi terbuka dan frontal.

Menyusul serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, menyatakan bahwa Zionis telah melakukan kesalahan besar dan akan menanggung akibatnya. Tidak lama kemudian, Iran melancarkan serangan balasan langsung ke wilayah Tel Aviv, menghantam sejumlah target militer strategis dan menandai perubahan drastis dalam doktrin respons pertahanan Republik Islam Iran.

B. Mengapa IKMAL Harus Bersikap

Ikatan Alumni Jamiah Al-Mustafa (IKMAL) sebagai representasi komunitas intelektual Muslim alumni Iran merasa perlu untuk memberikan pernyataan resmi. Jamiah Al-Mustafa bukan hanya lembaga pendidikan; ia adalah institusi yang membentuk horizon keislaman, etika, dan ideologi perlawanan terhadap kezaliman. Ketika tanah tempat kita belajar dan para guru kita diserang, diam bukanlah pilihan.

Sebagai bagian dari anak bangsa Indonesia, para anggota IKMAL juga terikat oleh amanat konstitusi negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni untuk “menghapuskan penjajahan di atas dunia.” Dukungan terhadap perjuangan bangsa-bangsa yang tertindas bukanlah sikap ideologis sempit, melainkan ekspresi tanggung jawab konstitusional dan moral sebagai warga negara yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, pembelaan terhadap Iran yang menjadi korban agresi bukan hanya berdasar pada kedekatan kultural atau keilmuan, tetapi juga pada prinsip universal yang tertanam dalam jati diri bangsa Indonesia.

Dalam kasus serangan terbaru terhadap Iran, posisi moral Iran sejalan dengan posisi historis dan prinsipil Indonesia: berdiri di pihak bangsa yang dijajah dan menolak kolaborasi dengan kekuatan penindas. Iran menjadi target serangan bukan karena ambisi ekspansionis, melainkan karena konsistensinya dalam membela Palestina—bangsa yang hingga kini belum merdeka dari penjajahan. Dengan menyuarakan solidaritas terhadap Iran, IKMAL pada dasarnya sedang menyuarakan kembali semangat Bandung 1955 dan amanat konstitusi Indonesia: berpihak kepada bangsa tertindas, bukan pada kekuatan imperialis.

Lebih dari itu, kami mencermati adanya kegaduhan opini di media sosial yang berasal dari sebagian alumni yang menyampaikan analisis tergesa-gesa, tidak proporsional, dan bahkan berpotensi melemahkan posisi etis dan ideologis alumni itu sendiri. Beberapa bahkan cenderung menyalahkan Iran alih-alih mengecam agresi Israel. IKMAL menilai bahwa narasi publik semacam ini bisa merusak citra alumni Jamiah Al-Mustafa dan menciptakan kebingungan dalam diskursus publik umat Islam di Indonesia. Apalagi, anggota IKMAL adalah para tokoh publik, yang kata-kata dan tulisannya sering menjadi rujukan ummat.

C. Analisis Geopolitik dan Ideologis
Serangan Israel ke Teheran bukanlah insiden militer biasa. Ini adalah bagian dari rangkaian panjang upaya melemahkan front muqawamah—barisan perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan global, yang salah satu poros utamanya adalah Iran. Republik Islam Iran selama ini konsisten memberikan dukungan pada perjuangan Palestina, Hizbullah di Lebanon, kelompok perlawanan di Irak dan Suriah, serta Ansharullah di Yaman.

Dalam konteks ini, pembunuhan terhadap para komandan IRGC adalah bentuk serangan terhadap jantung strategi perlawanan. Iran, melalui serangan balasannya ke Tel Aviv, menunjukkan bahwa ia tidak lagi menoleransi pelanggaran “garis merah” terhadap kedaulatan dan martabatnya.

Serangan Israel ini juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika domestik politik Zionis. PM Netanyahu tengah menghadapi tekanan besar di dalam negeri akibat protes rakyat atas perang Gaza, konflik internal soal wajib militer bagi Yahudi Ortodoks, serta kasus korupsi yang menjeratnya. Serangan ke Iran menjadi alat pengalihan isu (diversionary war) yang mengandung kalkulasi tinggi—namun keliru.

D. Menanggapi Opini Liar dan Kritik Tak Berdasar

Kami juga prihatin terhadap munculnya opini liar dari sebagian pendukung Iran yang justru merespons serangan ini dengan kritik impulsif. Mereka menuding Iran ceroboh, terlalu percaya diri, atau lemah secara pertahanan. Padahal, kritik semacam ini seringkali dibangun di atas logika yang rapuh dan bias emosional:

  1. Menggeneralisasi kelemahan sistem hanya dari satu insiden
  2. Mengabaikan rekam jejak strategi respons Iran yang presisi dan terukur
  3. Menyalahkan korban serangan alih-alih pelaku agresi

Sebagaimana disampaikan dalam sejumlah refleksi strategis, gaya politik luar negeri Iran bukan gaya reaktif, melainkan kalkulatif. Balasan Iran ke Tel Aviv membuktikan bahwa kesabaran mereka bukanlah kelemahan, tetapi bagian dari disiplin strategis.

E. Pernyataan dan Seruan Moral

  1. IKMAL mengutuk keras agresi Israel ke wilayah Republik Islam Iran dan menganggapnya sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip kedaulatan negara.
  2. IKMAL menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga para syuhada, kepada rakyat Iran, serta kepada segenap komunitas muqawamah global.
  3. IKMAL mendukung penuh langkah balasan Iran sebagai bagian dari hak membela diri yang sah secara moral, strategis, dan legal.
  4. IKMAL mengajak seluruh alumni untuk menahan diri dari penyebaran opini yang belum teruji kebenarannya dan menjunjung adab intelektual dalam menyikapi konflik.
  5. IKMAL menegaskan bahwa kritik harus dibangun di atas data, bukan asumsi, serta mengedepankan prinsip ukhuwah, izzah, dan tanggung jawab historis.
  6. IKMAL mendorong para alumni untuk menjadi jembatan informasi yang cerdas dan bermartabat, bukan bagian dari disinformasi yang melemahkan resistensi umat.

Penutup
Sebagai bagian dari jaringan pemikir Muslim yang dibentuk oleh ruh Jamiah Al-Mustafa, marilah kita tetap kokoh di barisan keadilan dan kebenaran. Dalam dunia yang kian riuh oleh opini tak berdasar, suara yang tenang namun jernih adalah cahaya. Mari kita menjadi cahaya itu. Dengan ilmu, dengan akhlak, dan dengan keberpihakan kepada yang dizalimi.

Jakarta, 15 Juni 2025 M

                18 Dzulhijjah 1446 H

IKATAN ALUMNI JAMIAH AL-MUSTHAFA

 

HUSEIN NAHRAWI

KETUA IKMAL

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button