
Abu Mahdi_Peristiwa kurban Nabi Ibrahim as yang diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismail as merupakan salah satu kisah terdalam dalam sejarah agama-agama samawi, yang mendapat perhatian besar dalam Al-Qur’an dan Sunnah dari sudut pandang makrifat, akhlak, dan tasawuf. Peristiwa ini bukan sekadar perintah lahiriah dari Tuhan, melainkan sebuah panggung penghambaan mutlak, keikhlasan, pelepasan dari keterikatan nafsani, dan puncak dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Tulisan ini bertujuan mengkaji berbagai dimensi peristiwa tersebut dan menganalisis hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya serta hubungannya yang mendalam dengan filsafat penyucian jiwa dalam ajaran Islam.
Tazkiyatun nafs dalam sistem pengetahuan Islam dipandang sebagai salah satu pilar utama kesempurnaan manusia. Kata tazkiyah bermakna pemurnian dan pertumbuhan, dan dalam istilah etika mengacu pada proses di mana manusia disucikan dari kotoran jiwa dan dunia, lalu melangkah menuju fitrah ilahi dan kedekatan kepada Allah Swt.
Di sisi lain, peristiwa ketika Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail as, bukan sekadar ujian lahiriah, melainkan simbol kepasrahan, keikhlasan, dan puncak tazkiyah. Tulisan ini, dengan pendekatan Qur’ani, hadis, dan analitis, menjelaskan keterkaitan erat antara kurban ini dengan proses penyucian diri manusia.
Peristiwa Kurban Nabi Ibrahim as dalam Al Quran
Dalam Surat Ash-Shaffat ayat 99–107, peristiwa kurban dijelaskan secara rinci. Setelah bertahun-tahun berdoa, Allah Swt mengaruniakan seorang anak yang saleh kepada Nabi Ibrahim. Ketika Ismail mencapai usia remaja, Ibrahim bermimpi bahwa ia harus menyembelih anaknya: “Maka ketika anak itu telah sanggup berusaha bersama-sama dia, (Ibrahim) berkata: Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
(Ismail menjawab:) “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Di sini, kepasrahan ayah dan anak merupakan lambang dari puncak penghambaan kepada kehendak ilahi. Allah melanjutkan firman-Nya:
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di pelipisnya. Kami memanggilnya: Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Ash-Shaffat: 103–105)
Kata “أَسْلَمَا” (keduanya berserah diri) menunjukkan bahwa baik Ibrahim maupun Ismail telah tunduk sepenuhnya pada perintah Allah Swt—dan inilah esensi dari tazkiyah.
Tazkiyatun Nafs dalam Konsep Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an, konsep tazkiyah menempati kedudukan yang sangat tinggi sebagaimana disebutkan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan tergantung pada tazkiyatun nafs, dan kehancuran disebabkan oleh kelalaiannya. Proses ini tampak dalam jalan penghambaan, ketaatan, dan pengorbanan—sebagaimana yang terjadi dalam peristiwa kurban.
Hadis Hikmah Berkurban
Dalam pandangan para Imam Ahlulbait as, ibadah kurban bukan sekadar ritual fisik, melainkan sarat dengan makna spiritual yang mendalam. Imam Ja’far ash-Shadiq as menjelaskan bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali mengandung hikmah, dan hikmah dari kurban adalah untuk menumbuhkan sikap berserah diri, mengakui rububiyah Allah, serta menyucikan jiwa dari kelalaian dalam penghambaan. Kurban menjadi simbol ketundukan total kepada kehendak Ilahi, mencerminkan inti dari proses tazkiyah (penyucian jiwa).
Hal ini senada dengan sabda Imam Ali ar-Ridha as yang menyatakan bahwa disyariatkannya kurban adalah sebagai pengganti dari ujian berat Nabi Ibrahim as yang hampir menyembelih putranya, Ismail, agar menjadi tradisi yang bermakna di tengah umat: menjaga anak-anak dari kebinasaan melalui pengorbanan dan keikhlasan.
Selain dimensi spiritual, kurban juga mengandung filosofi sosial yang kuat. Imam Ja‘far ash-Shadiq as mengajarkan bahwa daging kurban tidak hanya dinikmati pribadi, tetapi harus dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan kaum fakir sebagai wujud solidaritas dan kasih sayang sosial. Ini menunjukkan bahwa kurban adalah momentum untuk mempererat ikatan kemanusiaan, memperhatikan kaum dhuafa, dan menyebarkan rahmat dalam masyarakat. Namun, semua itu hanya akan bermakna jika lahir dari jiwa yang suci, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ja‘far ash-Shadiq as bahwa: “Kurban tidak akan diterima kecuali dari jiwa yang suci.” Dengan demikian, esensi kurban terletak pada kemurnian niat, kebersihan hati, dan kepedulian sosial yang sejati.
Dimensi Etis dan Pendidikan dalam Peristiwa Kurban
Pendidikan Melalui Kepasrahan: Perkataan Ismail as “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu” mencerminkan kepribadian yang terbina dalam tauhid. Etika kepasrahan ini merupakan hasil dari pendidikan dalam lingkungan iman dan pengetahuan.
Tazkiyah dengan Melepas yang Dicintai: Dalam tasawuf Islam, melepaskan hal-hal duniawi yang dicintai merupakan tanda kedekatan kepada Allah. Hal yang paling dicintai Nabi Ibrahim adalah putranya. Dengan menyembelihnya (sebagai bentuk kepatuhan), beliau meninggalkan keterikatan dan mencapai keikhlasan sempurna.
Kedudukan Kurban dalam Tradisi Ibadah Islam: Penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha adalah tradisi yang terinspirasi langsung dari peristiwa ini. Namun, Allah Swt berfirman: “Daging dan darah hewan itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menekankan bahwa ruh dari ibadah kurban adalah takwa dan niat yang tulus. Kurban tanpa penyucian jiwa akan menjadi hampa.
Kurban sebagai Simbol Fana` dalam Tasawuf
Dalam perjalanan tasawuf, seorang salik harus melewati dirinya sendiri, meninggalkan keterikatan, dan mencapai keadaan fana. Kurban Nabi Ibrahim adalah simbol dari fana fi Allah. Rumi dalam Matsnawi berkata: “Wahai ayah, Ibrahim telah datang, tinggalkanlah Ismail dalam dirimu, meskipun secara lahiriah itu Ismail. Namun dalam hatimu, apa pun yang kau cintai adalah Ismail.” Dalam pandangan ini, Ismail mewakili seluruh keterikatan duniawi yang harus dikorbankan demi pertumbuhan ruhani.
Relevansi Kurban dengan Kehidupan Kontemporer dan Etika Sosial
Di era modern, pengorbanan atas keterikatan, nafsu, harta haram, popularitas, dan ego menjadi kebutuhan mendesak bagi manusia untuk mencapai tazkiyah.
Kisah pengorbanan Ismail mengajarkan bahwa menuju kesempurnaan tidak mungkin tercapai kecuali dengan melewati rintangan “aku” dan “milikku”. Sebagaimana disebut dalam Ziarah Arba’in: “Dan dia (Husain) telah mengorbankan jiwanya di jalan-Mu…” Budaya pengorbanan ini menunjukkan hubungan erat antara kurban, tazkiyah, dan pendidikan sosial dalam Islam.
Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim bukan sekadar narasi sejarah, melainkan teladan abadi bagi seluruh generasi dalam jalan penyucian dan pembangunan jiwa. Kisah ini menunjukkan bahwa seorang mukmin sejati harus siap meninggalkan apa pun yang dicintainya demi Allah. Kurban sejati adalah melampaui ego, dan tazkiyah adalah buah dari pengorbanan itu.
Dengan melewati ujian seperti ini, manusia akan mencapai tingkat makrifat, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah di mana ia bukan hanya meninggalkan keterikatan, tetapi juga melewati batas dirinya. Dalam kedudukan ini, manusia menjadi “Khalilullah” – kekasih Allah.
Referensi:
- ‘Ilal al-Sharā’i‘, Syaikh Shaduq, jilid 2, bab 253, hal. 505
- Syaikh Thusi, Tahdzīb al-Aḥkām, jilid 5, hal. 236, hadis no. 788
- Tafsir al-Qummi, jilid 1, hal. 55; terkait tafsir ayat: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Mā’idah: 27)
- Tafsir al-Mizan, Allamah Thabathaba’i
- ‘Ilal al-Sharā’i’, Syaikh Shaduq
- Wasā’il al-Shī‘ah, Syaikh Hurr al-‘Āmilī
- Matsnawi Ma’nawi, Jalaluddin Rumi
- Bihār al-Anwār, Allamah Majlisi
- Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib as



