BERITA

Arbain Dari Jalan Najaf Karbala ke Garis Depan Perlawanan Global

Annisa Eka Nurfitria,Lc,M.Sos- Tiap tahun, tidak peduli seberapa besar bahaya yang menghadang, jutaan peziarah dari seluruh dunia berbondong-bondong menuju Karbala. Mereka datang dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Latin. Ancaman dari militan ISIS, sisa-sisa represi rezim Saddam, atau intoleransi dari elit politik tidak menyurutkan langkah mereka. Semua datang dengan satu tujuan, yaitu menegaskan tradisi Islam yang paling membanggakan, kebebasan di hadapan tirani.

Arbain berarti empat puluh dalam bahasa Arab, menandai empat puluh hari setelah tragedi Asyura, ketika Imam Husain a.s., cucu Nabi Muhammad saw., syahid di padang Karbala bersama tujuh puluh dua sahabat setianya. Mereka gugur bukan karena kalah jumlah, tetapi karena menolak hidup dalam kehinaan di bawah tirani Yazid bin Muawiyah. Dari abad ke abad, pesan ini bergema bahwa kehormatan lebih layak dipertahankan daripada nyawa yang berlumur hinaan.

Tiga belas abad kemudian, warisan Husain tetap menjadi panji pemersatu lintas iman, etnis, dan budaya. Arbain bukan hanya peringatan duka, tetapi juga perayaan kesetiaan dan perlawanan. Di bawah panji itu, perbedaan identitas melebur menjadi satu barisan. Tahun demi tahun, Arbain menguatkan kemenangan moral rakyat Irak atas dogma merusak yang pernah dipaksakan oleh petinggi ISIS, sebuah dogma yang mereka klaim normatif, namun ditolak tegas oleh hati nurani kemanusiaan.

Di tengah dunia yang kerap melihat Islam melalui lensa terdistorsi dari kekerasan ISIS, rakyat Irak menunjukkan wajah lain, Islam yang pluralis, ramah, dan penuh kasih. Setiap tahun, kota Karbala dan jalan Najaf–Karbala berubah menjadi panggung kemanusiaan terbesar di dunia. Warga membuka rumah, halaman, dan toko mereka untuk jutaan tamu. Makanan, minuman, tempat istirahat, hingga perawatan medis dibagikan gratis. Tidak ada tiket, tidak ada daftar nama, hanya undangan terbuka untuk semua.

Fenomena ini menjadi lebih puitis ketika diingat bahwa tanah yang sama ini pernah berlumur darah selama berabad-abad. Irak telah mengalami perang berturut-turut, invasi, sanksi, dan pendudukan. Namun, justru dari tanah inilah lahir salah satu perayaan kebebasan terbesar di dunia. Selama beberapa minggu, warga Karbala melepaskan semua urusan pribadi demi melayani peziarah. Mereka memberi makan, menampung, merawat, dan menghibur jutaan orang tanpa meminta imbalan, selain satu janji bahwa para tamu akan menyebarkan pesan kasih dan persaudaraan.

Kontrasnya mencolok. Di saat Mekkah menjadi simbol eksklusivitas dan represi terhadap sebagian madzhab minoritas, Karbala berdiri sebagai lambang persatuan dan toleransi. Arbain adalah cermin rakyat Irak, baik hati, bangga, berani, dan bebas. Di tengah ancaman teror, Irak membuktikan bahwa kebebasan bisa menginspirasi manusia untuk meraih kemenangan.

Keberhasilan Irak mengusir pasukan Daesh bukanlah prestasi kecil. Di tengah blokade dan ancaman perpecahan wilayah, negara itu bangkit kembali. Kemenangannya bukan sekadar hasil operasi militer, melainkan kebangkitan ruh perlawanan yang sama dengan ruh Karbala. Semangat yang dulu mendorong tujuh puluh dua sahabat Husain untuk berdiri tegak di sisi Imam mereka kini hidup kembali dalam jutaan rakyat Irak yang menolak tunduk kepada teror.

Semangat ini tidak berhenti di perbatasan Irak. Ia merambat ke Lebanon, tempat Hizbullah berdiri teguh menghadapi agresi Israel. Meski menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar, mereka menegaskan bahwa tanah air dan martabat tidak untuk dijual. Seperti di Karbala, garis pertahanan Hizbullah bukan sekadar militer, tetapi juga moral, menolak kompromi dengan kezaliman meskipun harus membayar mahal.

Di Yaman, semangat itu hidup dalam gerakan Houthi. Selama bertahun-tahun, mereka bertahan dari invasi, blokade, dan kelaparan yang disengaja. Meski dihantam bom dan embargo, mereka tetap menolak menyerah. Seperti para peziarah Arbain yang melangkah puluhan kilometer dengan kaki lecet demi menziarahi Husain, rakyat Yaman terus berjalan di jalan perlawanan demi kemerdekaan.

Iran, sebagai pusat ideologis dan politik perlawanan ini, juga memelihara api Karbala. Selama puluhan tahun, negara itu menjadi sasaran sanksi, teror, dan fitnah. Namun, konsistensinya dalam membela Palestina dan menolak normalisasi dengan Israel tidak pernah luntur. Bagi Iran, Karbala adalah peta strategi, tidak menyerah pada tekanan meski harus melawan sendirian di panggung internasional.

Semangat Arbain mengikat semua ini menjadi satu narasi global. Dari Najaf ke Karbala, dari Beirut ke Sana’a, dari Teheran ke Gaza, satu pesan yang sama terus menggema, tidak akan pernah tunduk pada kezaliman. Arbain adalah langkah kaki jutaan orang yang mengingatkan dunia bahwa perlawanan bisa dilakukan dengan tangan terbuka menyambut tamu, dengan meja penuh makanan, dengan senyum anak-anak Irak yang membagikan air di tengah terik, dan jika perlu, dengan darah yang tertumpah di medan perang.

Bagi rakyat Irak, melayani peziarah Arbain adalah kehormatan dan ibadah. Bagi peziarah, berjalan menuju Karbala adalah janji setia. Bagi gerakan perlawanan di Lebanon, Yaman, Iran, dan Palestina, semangat Arbain adalah bukti bahwa kekuatan moral dapat mengalahkan kekuatan senjata. Semua ini adalah satu mata rantai sejarah yang dimulai dari padang Karbala seribu tiga ratus tahun lalu, ketika Husain berdiri melawan pasukan Yazid.

Arbain bukan sekadar ziarah, melainkan deklarasi politik tanpa senjata yang mengguncang tirani. Ia adalah bukti bahwa umat yang bersatu dalam tujuan yang mulia akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan. Dan seperti yang dibuktikan rakyat Irak, kemenangan itu bisa diraih tanpa kehilangan kemanusiaan, bahkan dengan memperluas tangan untuk memberi makan mereka yang lapar, menampung mereka yang lelah, dan mengobati mereka yang sakit.

Di dunia yang penuh kebencian dan fitnah, Arbain adalah antitesisnya, perayaan kasih, solidaritas, dan keteguhan. Ia adalah Karbala yang hidup, bukan hanya di buku sejarah, tetapi di jalanan berdebu Najaf–Karbala, di benteng-benteng Lebanon selatan, di gunung-gunung Yaman, di jalanan Teheran, dan di lorong-lorong Gaza yang terkepung. Selama api itu menyala, pesan Husain akan terus menembus batas zaman, aku tidak bangkit untuk membuat kerusakan atau kezaliman, tetapi untuk memperbaiki umat kakekku Rasulullah.

Selama bumi ini masih dipenuhi tirani, langkah-langkah Arbain tidak akan pernah berhenti.

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button