Al-Quds Dari Kacamata Dunia, Solidaritas Tanpa Sempadan


Kita harus melihat isu Palestina ini dalam perspektif yang lebih luas dengan memahami dinamika politik global saat ini. Kemenangan Presiden Donald Trump, misalnya, mencerminkan kebangkitan gelombang politik kanan-ekstrem di negara-negara Barat. Banyak pemerintahan di dunia kini cenderung berhaluan kanan, yang berdampak pada kebijakan luar negeri mereka, terutama dalam mendukung agresi Israel terhadap Palestina.
Di bawah kepemimpinan Trump, kebijakan luar negeri Amerika Serikat menjadi lebih agresif dan secara terang-terangan mendukung dominasi Barat. Dukungan ini tidak hanya dalam bentuk retorika, tetapi juga dalam berbagai keputusan strategis yang semakin memperparah penderitaan rakyat Palestina.
Perbedaan utama antara pemerintahan berhaluan kanan-ekstrem dengan pemerintahan sebelumnya adalah keterbukaan mereka dalam mendukung penindasan. Jika dulu konsep demokrasi dan kesetaraan masih digunakan sebagai tameng, kini para pemimpin politik kanan-ekstrem tidak ragu untuk membenarkan tindakan kezaliman tanpa rasa bersalah. Mereka tidak lagi berusaha menyembunyikan niat untuk mendominasi dunia dengan kebijakan yang diskriminatif dan menindas.
Tren ini juga berimbas pada masyarakat internasional. Isu Palestina sering kali diabaikan oleh negara-negara Barat, yang tidak menganggap penderitaan rakyat Palestina sebagai masalah yang patut mendapatkan perhatian dan simpati. Bahkan, ada kecenderungan untuk melihat bangsa-bangsa Timur sebagai manusia kelas dua, sehingga tragedi kemanusiaan yang menimpa mereka tidak dianggap penting.
Di sisi lain, banyak pemimpin negara Islam dan negara berkembang yang semakin takut untuk bersuara lantang dalam mendukung Palestina. Mereka cenderung mengambil sikap defensif dan hanya berani menyatakan dukungan atas dasar kemanusiaan tanpa tindakan nyata. Sementara itu, negara-negara Barat secara terbuka memberikan bantuan militer kepada Israel, memperkuat dominasi mereka di Timur Tengah.
Salah satu strategi yang diterapkan oleh Amerika Serikat adalah memecah belah negara-negara Islam agar tidak bersatu dalam menghadapi agresi Israel. Akibatnya, tidak ada kesatuan tindakan yang kuat dalam membela Palestina, dan perjuangan ini menjadi semakin sulit
Hari Al-Quds bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat solidaritas global terhadap perjuangan Palestina. Ini bukan hanya perjuangan bangsa Arab atau Muslim semata, tetapi juga seruan kepada seluruh umat manusia untuk melawan penjajahan, penindasan, dan ketidakadilan.
Kita harus menggunakan momentum ini untuk membangun kesadaran di kalangan masyarakat internasional, baik Muslim maupun non-Muslim, agar mereka memahami bahwa Palestina adalah simbol perjuangan melawan kezaliman. Selain itu, pemimpin dunia Islam juga harus didorong untuk lebih berani dan konsisten dalam menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Selain dukungan politik, strategi ekonomi juga harus menjadi bagian dari perjuangan ini. Negara-negara Islam dan negara berkembang harus mulai membangun kekuatan ekonomi mereka sendiri agar tidak selalu bergantung pada negara-negara Barat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan boikot terhadap produk-produk yang mendukung Israel dan membangun jaringan ekonomi yang lebih mandiri.
Ketika negara-negara Barat dengan mudah menerapkan sanksi terhadap negara-negara seperti Iran dan Yaman, seharusnya negara-negara Islam juga dapat bersatu dalam menggunakan kekuatan ekonomi mereka untuk melawan dominasi global yang tidak adil.
Tahun ini menandai 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung, sebuah momen bersejarah ketika negara-negara yang baru merdeka bersatu untuk menolak penjajahan dan mendukung kedaulatan bangsa-bangsa tertindas. Dunia saat ini berada dalam situasi yang mirip dengan era pasca-kolonial, di mana dominasi politik dan ekonomi oleh kekuatan besar masih menjadi ancaman bagi negara-negara berkembang.
Kita perlu membangun kembali semangat Bandung sebagai platform untuk memperkuat solidaritas global dalam mendukung perjuangan Palestina dan bangsa-bangsa lain yang masih berada di bawah penjajahan. Dengan persatuan yang kuat, kita dapat menghadapi kekuatan-kekuatan yang ingin mempertahankan status quo yang tidak adil.
Perjuangan Palestina bukan hanya isu regional, tetapi simbol perlawanan terhadap kezaliman global. Hari Al-Quds harus dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran dan solidaritas internasional dalam melawan penindasan. Dengan menggabungkan kekuatan politik, ekonomi, dan sosial, kita dapat membangun gerakan global yang mampu memberikan tekanan kepada negara-negara yang mendukung penjajahan Israel.
Semoga dengan semangat persatuan dan perjuangan yang terus kita kobarkan, Palestina dapat meraih kemerdekaannya dan keadilan dapat ditegakkan di seluruh dunia.
Materi ini disampaikan oleh Bapak Chua Tian Chang – Juru Bicara Sekretariat Solidariti Palestin Malaysia – Webinar Memperingati Hari Al-Quds



