Super Hero Imam Husein di Tanah Sumatera (3)
MM-Jejak syiah di Nusantara yang masih dirawat masyarakat nuasantara adalah di tanah Sumatera. Kepahlawanan Husein telah mentradisi dan mendarah daging di hati rakyat Sumatera bahkan tanpa sebutan syiah. Tapi jikapun disebut bukan tradisi syiah, lalu tradisi mana lagi?.
Acara Muharram di nusantara di daerah Sumatera disebut Tabut. Daerah Padang, Pariaman disebut Hoyak Tabuk Husen dan Tabut Pasar Minggu, masyarakat Bengkulu menyebut Tabot Hasan Husein, orang Aceh, Banten, orang minang menyebut Batabuik atau Hoyak Tabuik. Sementara masyaraka Jawa membuat bubur Suro Husein. (Iqbal; 172)
Orang Aceh juga menyebut bubur Suro, “kanji asyuro”, terbuat dari bahan beras, susu, kelapa, gula, buah-buahan, kacang tanah, papaya, delima, pisang-pisang dan akar akaran. Bubur dimasak di satu tempat kemudian dibawa ke masjid dan perempatan jalan. Setelah memanjatkan doa, kemudian dibagi ke masyarakat.
Masyarakat Aceh pada hari sepuluh asyura melarang penikahan, khususnya pernikahan gadis. Tidak ada kitanan, tidak berladang, dan tidak memanen ladang. Mereka menganggap sebagai bulan api, bulan musibah dan kesedihan. Di beberapa tempat melakukan ma’tam sambil mengelilingi api. Masyarakat Jawa di bulan Suro juga menunda pernikahan, pembuatan rumah, acara pergi hingga lewat bulan suro.
Orang india menyebut bubur suro, “khiochri” (semacam sup yang terbuat dari beras dan kacang- kacangan). Sementara di Kairo, Mesir disebut “hubbub”, terbuta dari biji bijian, jagung, kacang tanah, kelapa dan beras.
Orang Makasar memperingati dengan membuat sajian bubur sembilan tujuh warna dan suguhan sokko (nasi ketan) bersama loka tira (pisang raja). Orang Betawi menyebut lebaran Yatim, dan di
Jawa Barat sedekah sambil mengusap kepala anak yatim. Semua ekpresi itu dalam kerangka memperingati Muharram, dan telah menjadi khazanah kekayaan budaya Islam di Nusantara. (Iqbal; 167)
Masuk bulan asyura, di Pariaman, lautan manusia hadir, mengadakan arak arakan Tabut. Berbagai perlombaan di adakan, seperti debus pencak silat, balap perahu. Bagi calon pasangan, terkenal dengan ungkapan, apakah kamu di acara Tabuik ini sudah menentuan pasangan hidupmu. (Iqbal; )190
Agar tergambar lebih detil, kaitan peringatan Muharram di dalam dan luar Indonesia, peneliti akan memaparkan prosesi secara lebih detil, salah satu ritus Muharram di daerah Bengkulu.
Muharram di Bengkulu
Masyarakat Bengkulu sejak dahulu sudah memperingati Muharram. Masyarakat setempat memperingati dengan membuat “Tabut”. Atau Tabot dalam dialek masyarakat Bengkulu.
Tabut atau altabut (التابوت) adalah peti mati persegi empat, dibuat dari anyaman bambu atau burung- burungan buraq yang terbuat dari kayu yang dibawa berarak pada peringatan terbunuhnya Hasan- Husein (tanggal 10 Muharam). Tabut dihiasi kertas kaligrafi warna warni dan nama-nama keluarga Rasulullah (ahlulbayt) yang gugur di medan Karbala. Tabut berbentuk Menara kuda bersayap. diyakini sebagai buroq Imam Husein. Bahanya terbuat dari rotan dan bambu, Tinggi tabut 6-16 meter, lebar sekitar 2.5 meter. (Iqbal; 174)
Para pengarak, khususnya anak-anak muda memakai kaos seragam hitam dan kuning bertulis, ya husein.
Setidaknya terdapat 17 Tabut di Bengkulu di arak sepanjang jalan kota Bengkulu. Tabut dibuat berbagai ukuran. Masing-masing Tabut mewakili keluarga besar keturunan Syekh Burhanudin atau Imam Senggolo. Hingga penelitian ini di rancang, keluarga besar Tabut sudah memasuki keturunan yang ke enam. Imam Senggolo adalah tokoh yang mengenalkan tradisi Tabut di
Bengkulu. Makamnya di Karabela, Bengkulu menjadi salah satu tempat prosesi Muharram. Ada juga yang berpendapat yang memperkenalkan Muharram di Bengkulu adalah pasukan dari Benggali, India.
Diantara nama Tabut adalah Sakral, Bangsal, Sakral, Bekas, Pasar, Pembangunan, Cuki, Gerga, naik Pangek, Bersanding, Tebuang dll). Para “keluarga Tabut” berbaris di depan memimpin arak- arakan Ritual Tabut. Setiap tahun pada 1-10 Muharram puluhan ribu warga Bengkulu dari segala usia dan profesi turun ke jalan-jalan menyambut arak-arakan Tabut menuju tempat pembuangan, Karabela.
Malam pertama hingga keempat Muharram, setiap hari dari ashar hingga maghrib, masyarakat Bengkulu menabuh dol, gendang dan gong dengan suara keras di deket gerga (Tabut Suci). Mereka memainkan musik khas perang dan penuh kesedihan, menyimbolkan persiapan Imam Husein untuk perang. Masyarakat setempat menyebut beruji (persiapan). Masyarakat mengambil tanah dari sungai, kemudian dimasukan dalam belanga untuk memasak nasi (payu), diikat dengan sehelai kain putih, kemudian di letakkan dalam daraga berukuran 3×3.` Kemudian di sekelilinginya ditempelkan bambu di lilit kain putih. Daraga adalah lambang makam Imam Husein. (Iqbal; 117)
Memasuki hari ke 5 Muharram, dari pukul 3 sore hingga azan magrib tiba di dekat gerga. Gendang dan gong di tabuh dengan suara keras. Masyarakat setempat membuat replika lambang lima jari Imam Husein dibuat dari campuran emas dan logam, kemudian di cuci dengan air wangi.
Masyarakat setempat kemudian menempatkan pada wadah, kemudian membawa kerumah masing- masing untuk keberkahan dan penyembuhan orang sakit. Mereka bernazar dengan membuat bubur palu kuning, tujuh air minum, buah-buahan, kering, pisang, gula batu, kopi pahit, minum dan susu sapi dan bubur merah putih. Setelah itu dibagi bagikan kepada masyarakat setelah doa. Bubur merah artinya simbol darah dan keberanian Imam Husein, bubur putih simbol kesucian ruh Imam Husein. Saat malam hari, masyarakat pergi mencari ikatan pisang, kemudian disabet dengan sekali tebas. Hal ini melambangkan keberanian Imam Qasim, putra Hasan yang tak tertandingi saat perang dengan pasukan Yazid di padang Karbla.
Hari ke 5 hingga 7 Muharram, menggambarkan peristiwa tragedi antara Imam Husein dan pasukan Yazid. Hari ke 6 Muharram, kelompok “tabuk berkas” menyerang tabut bangsal. Pada hari ke 7 Muharram, giliran kelompok Tabut Bangsal menyerang Tabut Bekas. Pertunjukan dilaksanakan di alun laun kota dan di saksikan ribuan orang. Setiap kelompok membawa gendang, gong, bendera, senjata-senjata perang dan replika pedang Zulfikar (pedang Imam Ali) yang diberikan pada putranya, Muhammad Hanafiah.
Muhammad Hanafiah turut ke padang Karbala membela Imam Husein dan rombongan dari serangan Yazid. Gendang, gong di tabuh dengan keras hingga pertengahan malam. Juga dimainkan alat musin piano, gitar dan alat-alat tradisional mengiringi tarian tradisional Masyarakat. (Muhammad Iqbal; 199)
Hari ke 7 dan 8 Muharram, acara mengeluarkan replika lambang lima jari-jari Imam Husein yang terbuat dari tembaga, terbungkus kain dimasukkan dalam Tabut Gerga (Tabut Suci). Acara ini disebut ma’tam lima jari. Setelah itu di letakkan dalam Tabut kecil bernama Cuki (empat sudut). Sebelum membawanya, mereka bernazar dan niyaz (sedekah). Untuk jari-jari Imam Husein nazarnya kopi pahit tanpa gula dan minuman, sementara sorban Imam Husein bubur Palau Kuning, telor ayam yang matang dan bubur dari tujuh sayuran. Mereka berdoa dan memakanya, setelah itu Tabut Cuki di arak ke gang-gang dan pasar sambal menangis.
Malam ke 8-9 Muharram, prosesi arakan sorban Imam Husein, Tabut Cuki juga di bawa. Gendang gong di tabuh. Kelompok Tabut Berkas dan Cuki berhadap hadapan, saling bertukar sebagai hadiah, saling memberi salam, dan menghormati, lalu berpisah ke tempat masing-masing.
Pukul 6 subuh hingga 12 siang hari 9 Muharram, tidak ada kegiatan, suasana tenang, masyarakat setempat menamakan “waktu kesedihan”. Hari ke 9 Muharram pukul 7 malam setelah menunaikan shalat isya, mereka memulai acara arak arakan Tabut dengan khusuk. ( Iqbal: hal. 200)
Tabut tertua disebut “Tabut Berkas”. Masyarakat mengambil tanah dari salah satu sungai, kemudian mengambil tanah dari sungai lain. Masyarakat Bengkulu juga membuat boneka sebagai simbol tubuh suci Imam Husein as. Mereka bernazar dan berdoa dengan membuat bubur merah
putih dari gula, tujuh lembar daun sirih, daun tembakau, kopi pahit, susu murni dan air selasih. Saat tiba pukul 10 malam diakhiri dengan baca doa untuk kebaikan dan keberkahan. Kemudian meletakan tanah di satu tempat Bernama Tabut Gerga. Di kelilingi di lilit kain sutra berwarna putih, Tabut Gerga danggap benteng pertahanan Imam Husein.
Tahapan pelaksanaan ‘aza (duka) di Bengkulu disebut “Tabut Naik Pankek”. Akhir acara, beragam Tabut kemudian di pilih berdasarkan bentuk, warna, hiasan, tinggi, suara gendang dan gong yang terbaik oleh juri. Pukul 3 subuh acarapun selesai. Acara ini disebut dengan Tabut Bersanding (beristirahat).
Prosesi terakhir pada hari ke 10 Muharram, ribuan peziarah beriringan menuju padang Karabela, Bengkulu, daerah Padang Jati, tempat di makamkan Syekh Burhanuddin atau Imam Sanggulu. Setelah itu meghanyutkan Tabut ke laut yang sebelumnya di kumpulkan di alun alun kebebasan kota Bengkulu.
Tabut diarak waktu siang, “Tabut bangsal” berada di barisan terdepan, “Tabut Berkas” di belakang.
Seluruh Tabut tiba dipasar Minggu, kemudian masyarakat beristirajat sejenak. Dari sini “Tabut Berkas” berposisi di barisan depan. Sewaktu sampai di padang Karabela Bengkulu, Tabut berkas dimasukkan ke makam syekh Burhanuddin, sementara Tabut yang lain dibawa ke laut. Yang berhak memasuki wilayah Karabela hanya pengurus tabut dan keluarga. Setelah itu, prosesi terakhir acara adalah ‘aza (duka).
Setelah acara selesai, masyarakat yang melihat mengambil sesuatu dari “Tabut Berkas”, kemudian membuanganya ke laut. Ritus ini digambarkan seperti hidangan malam bagi orang terasing yang tersembunyi dibalik gelap malam. Seluruh peziarah aza’ kembali ke rumah dalam keadaan menangis. Tragedi syahidnya Imam Husein adalah tragedi cucu nabi, seorang Imam yang terasing dan teraniyaya.



