Annisa Eka Nurfitria,Lc,M.Sos Anak-anak Gaza hari ini hidup dalam bayang-bayang kehancuran dan kehilangan. Mereka adalah saksi atas kebiadaban penjajahan, yatim yang ditinggalkan oleh para syuhada, dan generasi yang dipaksa dewasa lebih cepat akibat perang yang tak berkesudahan. Sejak agresi besar-besaran yang dimulai pada 7 Oktober 2023, jumlah anak yatim di Palestina meningkat drastis. Setiap hari ada ayah yang gugur, ibu yang terbunuh, dan keluarga yang hancur lebur oleh serangan brutal Zionis. Suara tangisan mereka menggema di antara puing-puing rumah yang runtuh, mengingatkan kita pada sosok yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai pelindung anak yatim: Imam Ali bin Abi Thalib.
Imam Ali gugur sebagai seorang syahid pada malam 21 Ramadan setelah dipukul dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam pada 19 Ramadan. Dalam keadaan terluka parah, kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya tetap penuh hikmah, doa, dan kepedulian terhadap umat. Imam Ali selalu dikenal sebagai pemimpin yang mengutamakan keadilan, membela kaum tertindas, dan memperhatikan anak-anak yatim dengan kasih sayang yang mendalam. Beliau sering terlihat menggendong anak-anak yatim, membawakan makanan bagi mereka, dan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang merasa terabaikan.
Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan untuk memperhatikan dan menyantuni anak yatim:
“Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa menelantarkan anak yatim atau membiarkan mereka menderita adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Gaza hari ini adalah bukti nyata bagaimana dunia telah mengabaikan perintah Allah ini. Ribuan anak kehilangan orang tua mereka akibat serangan tanpa henti, sementara dunia seolah menutup mata terhadap penderitaan mereka.
Imam Ali bin Abi Thalib adalah contoh nyata dari bagaimana Islam memperlakukan anak yatim. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa beliau sering berjalan di tengah malam membawa sekarung gandum di pundaknya untuk dibagikan kepada anak-anak yatim dan orang miskin. Beliau tidak ingin mereka merasa lapar atau terabaikan. Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali berkata:
“Demi Allah, seandainya aku bermalam dalam keadaan terikat di atas duri-duri atau diseret dalam rantai-rantai, itu lebih aku sukai daripada bertemu Allah dan Rasul-Nya pada hari kiamat sebagai seseorang yang telah menzalimi seorang hamba-Nya atau merampas sesuatu dari mereka.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 224)
Cinta Imam Ali terhadap anak yatim begitu besar, hingga ketika beliau syahid, anak-anak yatim di Kufah menangis kehilangan sosok yang selama ini datang di malam hari, mengusap kepala mereka, dan memastikan mereka tidak kelaparan. Mereka baru menyadari bahwa orang yang selama ini mengunjungi mereka dalam kegelapan malam adalah pemimpin mereka sendiri.
Gaza hari ini adalah Kufah di masa Imam Ali. Ribuan anak Palestina menunggu uluran tangan yang penuh kasih sayang, namun dunia membiarkan mereka sendiri dalam penderitaan. Mereka berpuasa tanpa sahur, berbuka tanpa keluarga, dan tidur dalam ketakutan tanpa tahu apakah esok mereka masih hidup.
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mengusap kepala anak yatim karena Allah, maka Allah akan menuliskan untuknya kebaikan sebanyak jumlah rambut yang disentuh tangannya.” (Musnad Ahmad, Hadis 22215)
Jika kita ingin mengikuti jejak Rasulullah dan Imam Ali, kita tidak bisa hanya berhenti pada doa dan simpati. Kita harus bergerak. Hari Quds yang akan kita peringati di penghujung Ramadan 2025 bukan sekadar demonstrasi, tetapi juga momentum untuk membuktikan bahwa kita tidak melupakan mereka yang ditinggalkan.
Quds Day adalah peringatan yang diwariskan oleh Imam Khomeini untuk membangkitkan kesadaran umat Islam terhadap perjuangan Palestina. Beliau mengatakan:
“Hari Quds bukan sekadar hari Palestina, tetapi hari Islam. Hari kebangkitan Islam. Hari ketika kebenaran menghadapi kebatilan.”
Hari Quds bukan hanya soal demonstrasi di jalan-jalan, melainkan juga refleksi atas bagaimana kita bisa lebih berperan dalam perjuangan Palestina. Apa yang telah kita lakukan untuk anak-anak yatim Gaza? Sudahkah kita membantu mereka dalam bentuk nyata? Ataukah kita hanya menangis di depan layar tanpa tindakan?
Malam 21 Ramadan adalah malam kepedihan, sebagaimana setiap malam di Gaza adalah malam kesedihan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua mereka. Namun, perjuangan Imam Ali tidak berhenti di Kufah, dan perjuangan rakyat Palestina tidak akan berhenti di Gaza. Anak-anak yatim mereka akan tumbuh menjadi generasi perlawanan, mengingat bahwa ayah mereka gugur bukan sebagai korban, tetapi sebagai syuhada yang memperjuangkan kebebasan.
Lailatul Qadr adalah malam di mana segala takdir ditetapkan, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)
Jika malam ini lebih baik dari seribu bulan, maka inilah saatnya kita berdoa dan berbuat sesuatu untuk mereka yang menderita di Gaza. Lailatul Qadr bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga tentang bagaimana kita mengubah takdir umat.
Imam Ali pernah berkata:
“Jika ada seorang miskin yang kelaparan di sekitar kita, maka itu bukan karena Allah tidak memberi rezeki kepadanya, tetapi karena orang-orang kaya menahan hak mereka.”
Begitu pula dengan anak-anak yatim Gaza. Mereka tidak seharusnya menderita jika umat Islam bersatu untuk membantu mereka. Namun, kita masih terpecah, sibuk dengan urusan masing-masing, sementara mereka terus berjuang melawan ketidakadilan seorang diri.
Jika kita benar-benar mengikuti jejak Imam Ali, kita harus memastikan bahwa anak-anak Gaza tidak terabaikan. Kita harus menjadi tangan yang mengusap kepala mereka, menjadi suara yang membela hak mereka, dan menjadi barisan yang berdiri melawan kezaliman. Sebab, di dalam mereka, kita melihat warisan Ali, dan dalam perjuangan mereka, kita melihat jalan menuju kebebasan Palestina.



