Houthi: Perlawanan dalam Kemiskinan dan Solidaritas Syiah untuk Palestina
Annisa Eka Nurfitria, Lc, M.Sos – Di tengah blokade dan kelaparan yang melanda Yaman, kelompok Houthi tetap tegak sebagai salah satu kekuatan yang paling vokal dalam membela Palestina. Tanpa kekayaan minyak seperti negara-negara Teluk, tanpa perlindungan dari kekuatan dunia, mereka berani menghadapi Israel dan sekutu-sekutunya. Sejak 7 Oktober 2023, ketika Israel melancarkan agresi brutal ke Gaza, Houthi aktif menyerang kepentingan Zionis di Laut Merah. Mereka menargetkan kapal-kapal yang terafiliasi dengan Israel dan meluncurkan serangan rudal ke wilayah pendudukan. Ini mengejutkan dunia, karena bagaimana mungkin Yaman, negara yang miskin dan hancur oleh perang bertahun-tahun, bisa menjadi ancaman nyata bagi kekuatan militer terbesar di dunia?
Perlawanan Houthi lahir dari kesadaran ideologis dan spiritual yang berakar dalam ajaran Ahlul Bait. Dalam tradisi Islam Syiah, membela yang tertindas adalah kewajiban. Imam Husain telah mengajarkan bahwa menegakkan kebenaran harus dilakukan meskipun dalam kondisi lemah dan terkepung. Houthi memahami bahwa Palestina bukan hanya isu Arab, tetapi simbol perlawanan global terhadap ketidakadilan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa bangun pagi tanpa peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka.” (Kanzul Ummal, hadis 766). Prinsip ini tertanam dalam perjuangan mereka.
Di tengah embargo dan agresi yang menghancurkan Yaman, mereka tetap mengirimkan rudal ke arah Israel dan sekutunya. Mereka tidak melihat kemiskinan sebagai alasan untuk diam. Sebaliknya, justru di tengah penderitaan itu, mereka merasa lebih dekat dengan rakyat Palestina yang juga menghadapi blokade dan serangan tanpa henti. Kesamaan nasib ini memperkuat tekad mereka. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketahuilah, hak tidak akan ditegakkan kecuali dengan kesabaran.” (Nahjul Balaghah, Hikmah 176). Houthi membuktikan bahwa meskipun dalam kondisi sulit, mereka tidak akan mundur dalam membela keadilan.
Yaman adalah salah satu negara termiskin di dunia, namun negara-negara Arab kaya seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi justru menjalin hubungan dengan Israel. Di saat negara-negara Muslim lainnya memilih diam atau bahkan berkompromi, Houthi mengambil sikap konfrontatif. Mereka memahami bahwa melawan Zionisme bukan hanya soal militer, tetapi juga perjuangan moral. Imam Khomeini pernah berkata, “Jika seluruh umat Islam bersatu dan masing-masing membuang satu ember air, maka Israel akan tenggelam.” Semangat ini yang menggerakkan mereka untuk tidak tunduk kepada dominasi Barat dan tetap mendukung Palestina meskipun harus menghadapi konsekuensi berat.
Banyak yang bertanya, mengapa kelompok-kelompok Syiah seperti Houthi dan Hizbullah begitu berani menghadapi Israel, sementara banyak negara Muslim lain memilih untuk tidak terlibat? Jawabannya ada dalam sejarah panjang perjuangan Islam Syiah melawan ketidakadilan. Dari Imam Ali yang melawan kaum munafik dan penguasa zalim, hingga Imam Husain yang menolak tunduk kepada kekuasaan Yazid, Syiah selalu berada di garis depan dalam menentang tirani. Doktrin mereka bukan sekadar retorika, melainkan komitmen nyata yang mereka jalankan meskipun harus berhadapan dengan risiko besar.
Ketika Houthi mulai menyerang kapal-kapal Israel di Laut Merah, Amerika dan sekutunya langsung merespons dengan serangan udara terhadap Yaman. Mereka menggunakan dalih kebebasan navigasi, tetapi pada kenyataannya, mereka takut Houthi benar-benar bisa mempengaruhi jalur perdagangan global dan merugikan ekonomi Israel. Serangan balasan ini tidak membuat Houthi gentar. Sebaliknya, mereka justru semakin agresif dalam menargetkan kepentingan Zionis dan Barat di kawasan tersebut.
Perlawanan Houthi juga bukan sekadar simbolik. Mereka telah menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan militer yang cukup untuk mengancam kepentingan Israel di kawasan. Mereka menggunakan drone, rudal balistik, dan serangan maritim yang terbukti efektif dalam mengganggu jalur perdagangan dan komunikasi Israel. Hal ini juga menjadi bukti bahwa meskipun teknologi militer mereka tidak sebanding dengan Israel atau Amerika, tekad dan keberanian mereka menjadikan mereka ancaman yang nyata.
Sejak 7 Oktober 2023, solidaritas untuk Palestina semakin menguat, tidak hanya di kalangan negara-negara Muslim, tetapi juga di seluruh dunia. Namun, yang membedakan Houthi dari banyak kelompok lain adalah tindakan nyata mereka dalam melawan Israel. Banyak negara Muslim yang mengutuk serangan Israel ke Gaza tetapi tetap berhubungan diplomatik dengan Tel Aviv. Sebaliknya, Houthi mengambil langkah lebih jauh dengan melakukan serangan langsung terhadap kepentingan Israel dan sekutunya.
Dukungan Houthi terhadap Palestina juga sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya membela kaum tertindas. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu’?” (QS. An-Nisa: 75).
Ayat ini menegaskan bahwa membela kaum tertindas adalah kewajiban bagi umat Islam, dan inilah yang dilakukan oleh Houthi dalam konteks perjuangan mereka untuk Palestina. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Ketika dunia melihat penderitaan rakyat Gaza yang dibombardir oleh Israel, Houthi tidak tinggal diam. Mereka memahami bahwa sekadar mengutuk di media tidak akan mengubah situasi. Oleh karena itu, mereka memilih jalur konfrontasi, meskipun itu berarti menghadapi risiko serangan dari Amerika dan sekutunya.
Di tengah perlawanan ini, mereka juga menghadapi tantangan dari dalam negeri. Koalisi pimpinan Saudi masih terus menekan mereka, sementara blokade yang diberlakukan terhadap Yaman membuat rakyat mereka menderita. Namun, bagi Houthi, perjuangan untuk Palestina bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Mereka memahami bahwa membela Palestina adalah bagian dari jihad melawan penindasan global.
Dalam Islam, perjuangan melawan kezaliman bukan hanya tugas segelintir orang, tetapi kewajiban seluruh umat. Sebagaimana sabda Imam Husain di Karbala, “Jika kalian tidak memiliki agama, setidaknya jadilah manusia yang bebas.” Houthi telah menunjukkan bahwa meskipun dunia ingin membungkam mereka, mereka tetap bebas dalam tekad dan perjuangan mereka. Dan selama Palestina belum merdeka, perlawanan mereka tidak akan berhenti.
Meskipun dunia mengecam langkah-langkah mereka, Houthi tetap teguh dalam komitmen mereka terhadap Palestina. Mereka telah menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk menyerah dalam membela keadilan. Justru, dari keterbatasan mereka, muncul kekuatan dan tekad yang semakin menginspirasi perlawanan global terhadap Zionisme.



