
Irfan (عرْفَان) adalah kosakata Arab. Kata ini berasal dari kata kerja ‘arafa (عَرَفَ). Terkait dengan makna kata ‘arafa ini, para ulama memiliki pendapat yang beragam. Raghib Isfahani, misalnya, berpendapat bahwa `arafa bermakna “mengetahui sesuatu dengan cara berpikir dan merenungi kesan-kesannya”. Makna ini lebih khusus dari makna `ilm, sebab kata ‘alima tidak menjangkau maf`ul (objek yang dikenali). Karena itu, menurut Isfahani, keliru jika dikatakan ‘fulan ya`lamullaha’ (seseorang tahu tentang Allah), tapi benar jika dikatakan ‘fulan ya`rifullaha’ (Seseorang mengenali Allah). Hal ini disebabkan, makrifat kepada Allah terwujud dengan merenungi tanda-tanda kuasa-Nya, bukan mengetahui atau menyaksikan zat-Nya secara langsung. Begitu juga, benar jika dikatakan ‘Allah ya`lamu kadza’ (Allah tahu sesuatu), tapi keliru jika dikatakan ‘Allah ya`rifu kadza, (Allah mengenal sesuatu)’ sebab kata `arafa hanya digunakan pada pengetahuan terbatas yang diperoleh dengan cara berpikir.[1]
Sementara itu, Khajah Abdullah Anshari mengatakan,”Makrifat adalah mengetahui sesuatu itu sendiri apa adanya.” Dalam komentar atas definisi ini, Abdur Razzaq Kasyani menulis:”Makrifat adalah mengetahui hakikat sesuatu dengan zat dan sifat-sifatnya apa adanya, bukan dengan gambaran tambahan yang serupa dengan sesuatu tersebut. Berbeda dengan ilmu yang berarti pengetahuan atas sesuatu dengan gambaran tambahan pada zat sesuatu tersebut. Jadi, makrifat adalah bersatunya `arif (yang mengenali) dengan ma`ruf (yang dikenali). Artinya, mereka berdua adalah satu, atau zat ma`ruf ada pada `arif. Maka, engkau tak mungkin mengenali sesuatu kecuali melalui bagian darinya yang ada padamu, atau melalui bagian dari dirimu yang ada padanya. Berarti, makrifat adalah ‘mencicipi’, sedangkan ilmu justru adalah ‘hijab.’”[2]
Adapun Imam Khomeini r.a. berpendapat, ”Dalam bahasa, ilmu dikhususkan pada hal-hal general (kulliyat), sedangkan makrifat dikhususkan pada hal-hal parsial (juziyat) dan personal (syakhshiyat). Disebutkan bahwa `arif billah adalah orang yang mengenal Allah dengan penyaksian langsung (musyahadah hudhuriyah), dan `alim billah adalah orang yang mengenal Allah dengan argumen-argumen filosofis.”[3]
Dengan memperhatikan berbagai pendapat di atas, tampaknya makna masing-masing dari dua kata ini (ilmu dan makrifat) bergantung pada cara penggunaannya. Artinya, tak satupun dari makna bahasa dan istilah yang membatasi makna-makna dua kata ini pada hal tertentu. Pada kenyataannya, kata ilmu juga digunakan dalam mengetahui juziyat, dan kata makrifat juga dipakai dalam mengetahui syakhshiyat. Kata ilmu dipakai dalam ilmu hushuli dan juga hudhuri, seperti ayat-ayat Alquran yang menjelaskan ilmu Allah pada makhluk: “Dan Dia mengetahui (ya`lamu) apa yang ada di langit dan bumi.”[4]
Begitu pula halnya kata makrifat. Sebab itu, Khajah Nashir Thusi memaknai makrifat dengan ‘pengenalan’, yang pengenalan ini memiliki banyak tingkatan. Dia menyebut makrifat hudhuri kepada Allah sebagai puncak makrifat kepada-Nya, yang dalam tahap ini, sang ‘arif akan menjadi fana, sama seperti orang yang terbakar dengan api dan hancur lebur.[5] Dalam sejumlah ayat Alquran, kata makrifat digunakan dalam makrifat hushuli.[6]
Ragam-ragam Irfan dan Makrifat
Dengan memerhatikan makna-makna bahasa dan istilah kata irfan dan makrifat, diketahui bahwa disebabkan penggunaannya, kata ini memiliki dua makna terkait pengenalan Allah:
- Makrifat Hushuli
Para ahli mendefinisikan hushuli dalam konteks makrifat sebagai “mengenali sesuatu melalui gambaran atau konsepnya, atau indra, atau argumentasi”. Terkait pengenalan terhadap Allah (ma’rifatu billah), jika yang digunakan adalah prinsip-prinsip rasional, maka argumentasinya murni bersifat rasional dan filosofis. Menurut Syahid Muthahhari, jika yang menjadi landasan argumentasi adalah prinsip-prinsip kasyfi (‘penyaksian’ atas Zat Allah) yang dijelaskan dengan bahasa rasional, maka itu disebut irfan teoritis (irfan nazhari). Pada hakikatnya, irfan teoritis membahas soal penafsiran wujud terkait Allah, dunia, dan manusia. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan argumentasi-argumentasi irfani itu seperti hal-hal yang diterjemahkan dari bahasa lain. Maksudnya, irfan, setidaknya berdasarkan klaimnya, menjelaskan semua yang dilihatnya dengan mata hati dengan bahasa akal. Berbeda dengan filsafat yang ditulis dengan suatu bahasa dan ditelaah dengan bahasa yang sama.[7]
Jika dikaitkan dengan irfan teoritis dan para perintis ilmu ini,[8] pendapat ini bisa dibenarkan. Namun, setelah ilmu ini diajarkan dan dipelajari, tetap saja ia akan berubah menjadi ilmu teoritis murni, yang perbedaannya dengan filsafat adalah dalam hal subjek dan metode analisis masalah. Kecuali orang-orang yang telah melakukan jihad an-nafs dan mata hati mereka terbuka, sehingga bisa menggapai pengetahuan-pengetahuan itu dengan penyaksian hati, sesuai kadar kebersihan batin dan kelapangan jiwa mereka. Di saat yang sama, masalah-masalah perdana tentang wujud dan ketuhanan harus diikuti dengan argumen-argumen rasional. Setelah itu, baru masuk pada irfan teoritis, karena asas ilmu ini juga adalah mengkaji masalah-masalah rasional dan mendapatkan ketelitian pandangan dengan perantaraan prinsip-prinsip rasional.
- Makrifat Hudhuri
Berbeda dengan hushuli, pengertian hudhuri dalam konteks makrifat adalah “mengenali sesuatu tanpa perantaraan gambar atau konsep darinya”. Makrifat hudhuri itu seperti pengenalan manusia pada dirinya, kekuatannya, perbuatannya, dan kondisi dirinya.[9] Pengetahuan ini tidak diperolehnya melalui salah satu dari kekuatan wujudi-nya, melainkan menyaksikan hal-hal tersebut dengan keseluruhan jiwanya. Meski demikian, dengan perantaraan akal, manusia bisa menarik sebuah konsep dari diri atau kondisinya, lalu mengubahnya menjadi bentuk general, dan menyampaikannya kepada orang lain. Konsep yang ditariknya ini juga bisa diterapkan pada orang lain. Melalui daya penglihatannya, sebuah gambar dari anggota-anggota tubuhnya juga akan terpatri di benaknya.[10]
Terkait dengan pengenalan pada Allah, asma, sifat, dan zat-Nya, dikatakan bahwa manusia, sesuai kapasitas wujudinya, bisa memperoleh makrifat hudhuri tentang-Nya. Tentu, karena ilmu hudhuri atas sesuatu tidak terpisah dari sesuatu tersebut, seperti ilmu hudhuri manusia yang tak terpisah dari tingkatan wujudinya, maka makna makrifat hudhuri tentang Allah adalah bahwa manusia, setelah menempuh sejumlah jalan dan sesuai kapasitas wujudinya, bisa menyaksikan ‘kehadiran’ hakiki Allah, asma, sifat, dan perbuatan-Nya. Ini tidak berarti bahwa ada sesuatu yang muncul pada pengetahuan ini, sebagaimana yang terjadi pada tersingkapnya fakta-fakta ilmiah bagi ilmuwan empiris.
Jalan yang ditempuh untuk sampai kepada makrifat hudhuri ini disebut dengan sair wa suluk. Tentu saja, jalan tersebut hanya bisa ditempuh setelah manusia memiliki pengetahuan tentang hal itu. Dari sisi ini, tiap manusia atau makhluk sebenarnya memiliki makrifat hudhuri fitri tentang Allah. Hanya saja, sadar atau tidak, dia tidak mengetahui keberadaan makrifat ini. Namun, dengan memperoleh pengetahuan rasional dan menempuh jalan praktis yang terpercaya, serta bersandar pada wahyu Ilahi, manusia bisa menyingkap tirai kelalaian dari hatinya sehingga hakikat itu bisa menunjukkan dirinya dengan jelas kepada manusia. Secara istilah, makrifat ini disebut irfan praktis (irfan `amali), yang merupakan buah dari amalan-amalan khusus lahiriah dan batiniah.
[1] Mufradat Raghib, kata `arafa.
[2] Syarh Manazil as-Sairin, hal 246.
[3] Cehl Hadits, hadis 37.
[4] Al Imran 29.
[5] Aushaf al-Asyraf 130-134.
[6] Al-Baqarah 89,146, 273 dan Al-An`am 20. Pembahasan mengenai makna hudhuri dan hushuli akan disampaikan pada bagian berikutnya
[7] Dikutip dari Ashenai ba Olume Eslami (Kalam-Erfan), pelajaran 2. Maksudnya, jika filsafat adalah menjelaskan dengan argumentasi rasional apa yang menurut akal memang ada (tanpa perlu menyaksikannya), sedangkan ‘irfan nazhari adalah menjelaskan dengan argumentasi rasional apa yang disaksikan oleh mata hati, pen.
[8] Seperti Muhyidin Arabi dalam Fushush al-Hikam dan penulis komentar atas Tamhid al-Qawa`id.
[9] Contohnya adalah pengetahuan manusia bahwa ia sedang lapar. Ia tidak perlu berpayah-payah menggunakan akal dan penalaran untuk tahu bahwa ia sedang lapar, sebab lapar adalah sesuatu yang langsung dirasakan manusia (pen).
[10] Misalnya, manusia bisa membuat teori tentang ciri-ciri orang lapar, berdasarkan kepada apa yang dirasakannya (pen).
Diterjemahkan dari buku “Aseman-e Touhid” dan diktat “Rahnama-ye Ayatullah Baqir Tahriri”



