Sayyid Hassan Nasrallah; Ikon Perlawanan-Ditakuti, Dicintai dan Gugur sebagai Pemenang

Lautan Massa Pelayat Buat Israel Ketar-Ketir
Lebanon menjadi saksi lautan massa yang membanjiri pemakaman mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, pada Minggu, 23 Februari 2025. Prosesi ini berlangsung di Stadion Camille Chamoun Sports City, Beirut, dan dihadiri oleh jutaan massa pendukungnya dari sekitar 80 negara. Dalam kesempatan itu, Sekjen Hizbullah saat ini, Syekh Na’im Qassem, menyebut anggota kelompok tersebut sebagai ‘Anak-Anak Imam Khomeini dan Imam Khamenei.’ Di awal upacara, pesan dari Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, dibacakan, di mana ia menegaskan bahwa perjuangan perlawanan akan terus berlanjut.
Upacara pemakaman Sayyid Hassan Nasrallah dan Sayyid Hashim Safiuddin- penggantinya yang hanya sempat memimpin Hizbullah dalam waktu singkat- berlangsung di stadion olahraga terbesar di Lebanon, yang terletak di pinggiran selatan Beirut. Dalam upacara tersebut, Syekh Na’im Qassem tidak hadir secara langsung, tetapi pidatonya disiarkan melalui video dari lokasi yang dirahasiakan.
Sebelumnya, Hizbullah mengumumkan bahwa pencarian jenazah mengalami penundaan akibat ancaman serangan lanjutan dari Israel. Akhirnya, pada 24 Oktober, mereka secara resmi mengonfirmasi kesyahidan Sayyid Nasrallah. Seorang mantan pejabat Mossad mengungkapkan bahwa dalam operasi ini, militer Israel tidak hanya mengandalkan citra satelit atau rekaman visual. Ia menegaskan bahwa sumber intelijen manusia telah digunakan untuk memastikan keberadaan Nasrallah di dalam gedung yang menjadi target serangan. Menurutnya, informasi tersebut bisa berasal dari mata-mata elit Israel atau agen lokal yang memiliki dendam pribadi terhadap Nasrallah.
Menjelang pemakaman, militer Israel melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah di Lebanon, termasuk Beirut, Baalbek, dan Lebanon Selatan. Jet tempur Israel bahkan terlihat melintas di atas Beirut saat prosesi berlangsung. Namun, alih-alih takut dengan teror Israel, massa pelayat justru menunjukkan kemarahan mereka dengan meneriakkan slogan anti-Israel dan anti-Amerika: ‘Mampus Israel dan Mampus Amerika!” Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan peringatan bagi siapa pun yang dianggap mengancam Israel.
Kehilangan Para Tokoh, Hizbullah Tetap Kokoh Lanjutkan Perjuangan
Hizbullah, yang telah kehilangan banyak tokoh militer dan politiknya dalam konflik terbaru dengan Israel, tetap menegaskan komitmennya terhadap perjuangan perlawanan. Syekh Na’im Qassem, Sekjen Hizbullah saat ini, dalam pesan videonya menyatakan: ‘Kami tidak akan tinggal diam sebagai penonton ketika kami diserang dan tanah kami diduduki. Kami tidak akan meninggalkan perlawanan, bahkan jika rumah-rumah kami dihancurkan di atas kepala kami.’ Sebagaimana diberitakan, Sayyid Nasrallah gugur pada 27 September 2024 dalam serangan udara Israel terhadap Markas Komando Hizbullah di Dahieh, Beirut Selatan. Sebelumnya, komandan Hizbullah Fuad Shukr dan Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, juga terbunuh dalam serangan terpisah. Selain itu, Abbas Nilforushan, Wakil Komandan Operasi Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), turut gugur. Sekitar satu pekan kemudian, penggantinya, Sayyid Hashim Safiuddin, juga gugur dalam serangan lain pada 4 Oktober dan jenazahnya dimakamkan di Tyre, Lebanon Selatan.
Syekh Qassem menegaskan kesetiaannya kepada Sayyid Nasrallah dengan berkata, ‘Kami adalah anak-anak Khomeini dan Khamenei.’ Salah satu serangan terbesar dan paling berdampak yang dilakukan Israel dalam beberapa tahun terakhir adalah serangan terhadap Markas Komando Hizbullah pada 27 September lalu. Serangan itu menyebabkan gugurnya Sayyid Nasrallah, yang telah memimpin Hizbullah selama 30 tahun. Upacara pemakamannya diadakan lima bulan setelah kesyahidannya. Dalam pesannya pada upacara tersebut, Ayatullah Ali Khamenei menyatakan bahwa spirit dan jalan kesyahidan Sayyid Nasrallah akan semakin terpancar dari hari ke hari, menerangi jalan para pengikutnya serta membangkitkan semangat perlawanan melawan penjajahan, ketidakadilan, dan kesombongan yang akan terus berlanjut hingga tercapai tujuan akhir.
Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat memperingatkan warganya untuk menjauh dari area upacara, termasuk di sekitar bandara, di mana pada saat yang sama, operasional penerbangan di Bandara Beirut dihentikan. Sebelumnya, menjelang pemakaman Sayyid Nasrallah, pemerintah Lebanon telah memperpanjang penangguhan penerbangan dari Iran ke Lebanon untuk waktu yang tidak ditentukan. Namun, menurut laporan The Washington Post, meskipun penerbangan komersial Iran ke Lebanon dibatalkan, para pendukung Sayyid Nasrallah tetap melakukan perjalanan ke Beirut melalui Irak demi menghadiri upacara pemakaman
Pemimpin Karismatik dan Berpengaruh
Sayyid Nasrallah, pemimpin karismatik dan berpengaruh dari kelompok perlawanan Islam Lebanon, memainkan peran yang tak tertandingi dalam memperkuat dan mengembangkan poros perlawanan melawan penjajahan dan ketidakadilan. Dengan visi strategis dan kepemimpinan yang menginspirasi, ia berhasil mentransformasi perlawanan Islam dari kekuatan terbatas menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan.
Menurut laporan ISNA, Sayyid Nasrallah adalah salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam poros perlawanan, yang mendedikasikan hidupnya untuk jihad demi kebebasan dan kemerdekaan Lebanon serta dunia Islam. Dengan kepemimpinan yang bijaksana, manajemen strategis yang cermat, dan semangat juang yang tak kenal lelah, ia berhasil menjadikan Hizbullah sebagai kekuatan utama yang menentukan dinamika kawasan.
Meskipun musuh-musuhnya berulang kali berusaha menghabisinya, Sayyid Nasrallah selalu berhasil menghindari bahaya berkat kecerdasan dan kewaspadaannya. Namun, pada akhirnya, ia mencapai kesyahidan dalam perjuangan perlawanan dan jihad. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi poros perlawanan, tetapi jalan yang telah ia rintis tetap berlanjut, dan warisannya terus bersinar sebagai inspirasi bagi kelompok perlawanan dan generasi pejuang.
Memperkokoh Fondasi Perlawanan
Salah satu pencapaian terbesar Sayyid Nasrallah adalah memperkuat struktur organisasi dan militer perlawanan. Di bawah kepemimpinannya, Hizbullah Lebanon tumbuh dari sebuah kelompok kecil menjadi organisasi yang kompleks dan terstruktur, dengan sistem intelijen, militer, politik, dan sosial yang kuat. Kemampuan ini menjadikan perlawanan sebagai kekuatan yang tak bisa diremehkan dalam dinamika kawasan. Selain itu, ia selalu menekankan pentingnya pelatihan, disiplin organisasi, dan penguatan persenjataan bagi para pejuang perlawanan, serta membangun jaringan terkoordinasi yang siap menghadapi segala ancaman
Di bawah kepemimpinan Sayyid Nasrallah, Hizbullah membangun jaringan terowongan bawah tanah di Lebanon selatan serta mendirikan pangkalan perlawanan di lokasi-lokasi strategis sebagai bentuk pertahanan terhadap agresi Israel. Selain itu, ia juga menginisiasi pelatihan pasukan elite, seperti Unit Ridwan, yang berperan penting dalam operasi infiltrasi terhadap pasukan Israel
Kemenangan Bersejarah atas Zionis
Salah satu pencapaian paling luar biasa dari Sayyid Nasrallah adalah kepemimpinannya dalam Perang 33 Hari pada tahun 2006, yang berakhir dengan kekalahan strategis bagi rezim Zionis. Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisi perlawanan di Lebanon dan kawasan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi gerakan perlawanan lainnya di dunia Islam. Perang ini membuktikan bahwa perlawanan Islam memiliki kapasitas untuk membela tanah airnya dan menghadapi salah satu militer terkuat di dunia.
Dalam konteks ini, di bawah kepemimpinan Sayyid Nasrallah, Hizbullah berhasil menerapkan taktik perang gerilya yang sangat efektif. Serangan rudal ke Haifa dan pusat-pusat ekonomi utama Israel, serta keberhasilan menghancurkan tank Merkava—kebanggaan militer Israel—menjadi pukulan telak bagi musuh. Penangkapan dua tentara Israel dalam sebuah operasi pada tahun 2006 menjadi pemicu perang ini, yang akhirnya berujung pada kemenangan strategis Hizbullah.
Pengembangan Poros Perlawanan di Kawasan
Warisan besar Sayyid Hassan Nasrallah adalah memperluas dan memperkuat poros perlawanan di kawasan. Ia tidak hanya mendukung kelompok-kelompok perlawanan di Palestina, Suriah, Irak, dan Yaman, tetapi juga membangun front persatuan melawan penjajahan dan terorisme. Langkah-langkah strategisnya mengubah perlawanan dari sekadar gerakan lokal menjadi kekuatan regional yang berpengaruh.
Dukungan Hizbullah terhadap kelompok perlawanan Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam, dalam pengadaan senjata, pelatihan, dan intelijen militer, memainkan peran kunci dalam memperkuat perlawanan Palestina. Selain itu, kehadiran pasukan Hizbullah di Suriah untuk membantu tentara Suriah dalam perang melawan teroris ISIS dan Al-Nusra adalah salah satu contoh dan bukti nyata dari pengaruh besar poros perlawanan di bawah kepemimpinan Sayyid Nasrallah..
Membakar Semangat Perlawanan di Hati Rakyat
Selain kepemimpinannya di bidang militer dan politik, Sayyid Nasrallah memainkan peran signifikan dalam membangkitkan semangat perlawanan di tengah masyarakat. Pidato-pidato heroiknya tidak hanya menjadi sumber inspirasi bagi para pejuang, tetapi juga bagi rakyat biasa. Ia mampu menjadikan budaya perlawanan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Islam dan nasional di Lebanon serta di berbagai belahan dunia.
Sebagai contoh, selama Perang 33 Hari, pidatonya yang terkenal tentang kehancuran kapal perang Israel ‘Sa’ar 5’, dengan kalimat legendaris ‘Lihatlah bagaimana kapal itu terbakar’, memberikan dampak psikologis yang besar bagi rakyat Lebanon dan para pejuang perlawanan. Selain itu, komitmennya terhadap persatuan antara Sunni dan Syiah serta seruannya untuk menghindari perpecahan sektarian memainkan peran penting dalam mencegah konflik internal di Lebanon. Dalam setiap pidatonya, tidak ditemukan kata-kata selain ajakan bagi kaum Muslimin dan masyarakat dunia untuk bersatu, serta membakar semangat perjuangan mereka melawan kezaliman dan penjajahan.”
Kegigihannya dalam membela rakyat Palestina dan tanah air, sikap tegasnya yang tak kenal kompromi terhadap musuh, serta perhatiannya terhadap kaum tertindas dan sesama kelompok perlawanan, tercermin dalam pidato-pidato heroiknya dan aksi nyata di garda terdepan medan pertempuran. Baginya, tidak ada waktu untuk berbicra sia-sia, apalagi membahas isu-isu perselisihan mazhab yang hanya akan melemahkan persatuan dan perjuangan. Setelah mengabdikan seluruh hidupnya untuk agama, perjuangan, kemerdekaan Palestina, dan tanah air, ia gugur sebagai syahid dengan nama yang harum. Kepergiannya tidak hanya dicintai dan ditangisi oleh masyarakat Lebanon, tetapi juga oleh masyarakat dunia yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan menolak segala bentuk penindasan. Alih bahasa Ali Za
sumber: https://www.iranintl.com/202502231239/,
https://www.isna.ir/news/1403120503093/



