

Suroyya Solehah Zainal, Lc. M.A- Di era digital saat ini, kekuatan fiksi semakin menancap dalam benak masyarakat. Tayangan Squid Game menjadi fenomena global setelah dirilis kembali pada 27 Juni 2025—bukan hanya karena ketegangan permainannya, tetapi karena berhasil menggambarkan penderitaan, dilema moral, dan perjuangan hidup dalam balutan permainan yang kejam. Di musim ketiganya, Sky Squid Game menyuguhkan kisah dramatis tentang pengorbanan, pilihan, dan makna kemanusiaan yang dibungkus dalam alur penuh darah dan air mata. Salah satu adegan paling menyentuh adalah ketika Jun Hee, pemain nomor 222, memilih mengorbankan hidupnya agar anaknya diselamatkan—adegan ini mampu mengguncang perasaan penonton.
Namun di balik layar hiburan, muncul satu pertanyaan penting: Mengapa penderitaan fiktif bisa terasa begitu dekat dan menyentuh kita, sementara kisah-kisah nyata yang jauh lebih agung dan suci seringkali hanya menjadi sekadar nama dalam sejarah? Apakah tangisan seorang anak dalam drama bisa lebih melukai hati daripada jeritan nyata seorang bayi di pelukan ayahnya di tengah panas terik padang Karbala?
Di sinilah kisah Ali Asghar bin Husain memasuki ruang kesadaran kita—bukan sebagai cerita fiksi, melainkan sebagai kenyataan paling suci yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Seorang bayi enam bulan yang tak bersalah, diangkat tinggi oleh ayahnya di tengah kepungan musuh, hanya untuk memohon setetes air. Namun, jawaban yang datang bukanlah belas kasih, melainkan panah bermata tiga yang membelah langit dan menembus tenggorokan mungilnya. Dengan suara pilu namun penuh wibawa, Imam Husain berseru: “Wahai kaumku, jika kalian tidak kasihan kepadaku, maka kasihanilah bayi ini. Tidakkah kalian melihat ia kehausan, membuka mulutnya dan menggeliat di tanganku? Ia tidak berbuat salah, dan tidak ikut berperang.” (Nafas al-Mahmūm). Ali Asghar memang tidak memenangkan permainan dunia; tak ada sorak-sorai atau kamera yang menyorotnya. Namun ia adalah pemenang sejati dalam sejarah penderitaan dan kemanusiaan—hujjah abadi atas kezaliman yang membakar Karbala. Para ulama besar Iran, seperti Ayatullah Syahid Muthahhari dan Allamah Tehrani, menyebutnya bukan sekadar syahid termuda, tetapi simbol tertinggi dari ketidakadilan mutlak yang tak bisa dibantah oleh nurani mana pun. Dalam keheningan kematiannya, ia mengajarkan kepada dunia makna terdalam dari pengorbanan dan kemenangan sejati—yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang masih hidup.
Fiksi, dengan segala kejutan sadis dan ketegangan emosionalnya, memang mampu menyentuh hati, namun realita Karbala menyentuh hingga ke kedalaman jiwa. Jika fiksi hanya mengejutkan dan meninggalkan jejak sementara dalam ingatan, maka Karbala membentuk kesadaran moral dan menanamkan cinta ilahi yang abadi. Tragedi ini bukan hasil imajinasi penulis atau sutradara, melainkan sejarah nyata yang melampaui skenario drama mana pun—tanpa panggung buatan, tanpa naskah, hanya iman murni dan pengorbanan sejati. Seperti dijelaskan oleh Dr. Rasul Jafarian dalam Dāstān-e Karbalā, peristiwa Karbala adalah “madrasah ruhani” yang menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan perlawanan terhadap kezaliman; bukan sekadar kisah tragis untuk dikenang, tetapi realita transenden yang terus membentuk jiwa-jiwa pencari kebenaran.
Kesyahidan Ali Asghar tidak pernah disambut sorak, karena ia bukan kemenangan yang dirayakan dunia, melainkan keagungan yang dikenang dalam keheningan. Dalam tradisi Ahlulbait, keheningan bukan berarti ketiadaan makna, tetapi bentuk penghormatan tertinggi terhadap pengorbanan yang suci. Tangisan dan majlis duka atasnya adalah manifestasi cinta sejati, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya untuk kesyahidan Husain ada panas di hati orang beriman yang tidak akan pernah padam.” (Mustadrak al-Wasā’il, jilid 10). Di sisi lain, dunia fiksi seperti Squid Game memperlihatkan ironi zaman: para “pemenang” yang hancur secara moral, kosong secara batin, dan jauh dari makna sejati kemenangan. Mereka menang secara teknis, namun kalah sebagai manusia. Realita Karbala membalikkan semua itu—bahwa mereka yang gugur demi kebenaran justru meraih kemenangan abadi. Allah SWT pun menegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan jangan sekali-kali kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka, diberi rezeki.” (QS. Āli ‘Imrān: 169). Maka, Ali Asghar—yang tak bersuara namun menjadi saksi paling keras atas kezaliman—adalah pemenang sejati, tanpa sorak, tapi disambut kemuliaan di sisi Tuhan.
Ali Asghar bin Husain juga mengajarkan bahwa menjadi penolong agama tidak bergantung pada usia—bahkan seorang bayi pun mampu menjadi cahaya abadi dalam perjuangan suci. Ia tidak memiliki pedang, tidak mampu berbicara, namun seluruh keberadaannya menjadi hujjah yang membungkam kezaliman. Imam Husain mempersembahkannya bukan karena kelemahan, melainkan karena cinta sejati menuntut pengorbanan atas sesuatu yang paling dicintai. Maka, Ali Asghar menjadi penolong Imam di zamannya dengan seluruh jiwanya yang masih suci. Di tengah dunia yang memuja kemenangan dengan sorak dan gemerlap, Karbala justru membisikkan makna sejati: bahwa mereka yang dianggap kalah di mata dunia bisa jadi pemenang di sisi Tuhan. Dan saat fiksi mengguncang hati kita dengan kisah tragis, Karbala menggugah jiwa kita dengan kebenaran yang lebih dalam. Ali Asghar tetap menang—tanpa sorak, tanpa panggung, namun dengan cahaya cinta dan pengorbanan yang tak akan pernah padam.
Daftar Pustaka:
- Hwang, Dong-hyuk. Squid Game (Season 3). Seoul: Netflix Original Series, dirilis 27 Juni 2025.
- Jafarian, Rasul. Dāstān-e Karbalā: Barrasī-ye tārīkhī-ye qiyām-e Imām Ḥusayn (a.s) [Kisah Karbala: Kajian Historis tentang Revolusi Imam Husain]. Tehran: Nashr-e Elm, Cet. ke-5, 1394 Hs / 2015 M. (Bahasa Persia)
- Hurr al-‘Āmilī, Muḥammad ibn al-Ḥasan. Mustadrak al-Wasā’il wa Mustanbaṭ al-Masā’il, Jilid 10. Beirut: Muʾassasah Āl al-Bayt li-Iḥyā’ al-Turāth, 1408 H / 1987 M. (Bahasa Arab)
- Muṭahharī, Murtaḍā. Ḥamāsah-ye Ḥusaynī [Epos Husaini]. Tehran: Sadra Publications, 1398 Hs / 2019 M. (Bahasa Persia)
- Tehrānī, Sayyid Muḥammad Ḥusayn Ḥusayni. Maʻārif-e Qurʾānī dar Ravāyat-e Karbalā [Nilai-nilai Qur’ani dalam Narasi Karbala]. Qom: Intishārāt-e Ḥikmat, 1392 Hs / 2013 M.



