IKMAL Gelar Ngaji Pesan Rahbar: Refleksi Strategis Satu Abad Hauzah Ilmiah Qom

Bogor, 29 Mei 2025 – Dalam rangka memperingati Satu Abad Hauzah Ilmiah Qom, Ikatan Alumni Jami’ah Al-Musthafa (IKMAL) menyelenggarakan kegiatan bertajuk Ngaji Pesan Rahbar, yang berlangsung pada hari Kamis, 29 Mei 2025 di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Musthafa, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.
Acara ini merupakan bentuk respon aktif alumni atas seruan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei atau yang biasa disebut sebagai Rahbar dalam Payam Rahbar (Pesan Rahbar) yang disampaikan pada momen peringatan satu abad berdirinya Hauzah Ilmiah Qom.
Kegiatan ini dihadiri oleh 82 peserta dari kalangan alumni Jami’ah Al-Musthafa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hadir sebagai pembicara utama:
- Dr. Hossein Mottaghi – Direktur Al-Musthafa International University Perwakilan Indonesia
- Dr. Umar Shahab – Alumni Al-Musthafa International University
- Ustadz Abdullah Beik, M.A. – Alumni Al-Musthafa International University
Kegiatan ini dimoderatori oleh Ustadz Muhammad Ilyas, dan berlangsung dalam suasana khidmat serta penuh antusiasme dari para peserta.
Pesan Rahbar: Manifesto Spiritual dan Strategis
Refleksi Dr. Umar Shahab
Mengawali sesi penyampaian materi, Dr. Umar Shahab menyoroti kedalaman dan bobot spiritual dari Pesan Rahbar. Ia menegaskan bahwa belum ada padanan kata dalam bahasa Indonesia yang mampu mewakili makna dan urgensi pesan tersebut secara utuh. Bahkan istilah seperti manifesto atau tsiqah masih terlalu ringan untuk menggambarkan substansi pesan tersebut.
Yang istimewa, lanjut beliau, adalah cara pesan tersebut disusun. Tidak seperti kebanyakan dokumen strategis yang dibuat oleh tim ahli, Rahbar menulisnya sendiri dalam keadaan berkhalwat—menyendiri dan tidak menerima kunjungan selama beberapa hari. Hal ini menunjukkan bahwa pesan tersebut lahir dari perenungan batin dan proses spiritual yang mendalam.
Dr. Umar menekankan bahwa Pesan Rahbar adalah seruan agar Hauzah melakukan lompatan besar di tengah derasnya arus perubahan zaman. Bila tidak, Hauzah berisiko tertinggal. Dalam sejarahnya, Hauzah telah memainkan peran penting, termasuk saat reformasi yang dilakukan Syekh Araki hingga munculnya tokoh besar seperti Imam Khomeini.
Dua fondasi utama dalam Pesan Rahbar yang menjadi sorotan Dr. Umar adalah:
- Ta’lim wa Tahzib – Proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter dan ruh perjuangan (harakah). Seorang penuntut ilmu dituntut menjadi agen perubahan dan penolak kezaliman.
- ‘Amil al-Zamân wa al-Makân – Dalam ilmu ushul fiqih, dimensi waktu dan tempat harus menjadi pertimbangan dalam istinbath hukum. Artinya, ijtihad harus relevan dengan realitas sosial dan konteks zaman.
Sebagai alumni Hauzah, lanjut Dr. Umar, tugas kita adalah menerjemahkan pesan ini ke dalam gerakan konkret di tengah masyarakat Indonesia, khususnya dalam membina komunitas Syiah dan umat Islam pada umumnya.
Hauzah sebagai Saromad: Poin-Poin Kunci dari Ust. Abdullah Beik
Narasumber kedua, Ustadz Abdullah Beik, M.A., melanjutkan dengan memaparkan dua poin utama dari empat yang telah ia siapkan. Ia mengakui bahwa sebagian sudah dibahas oleh Dr. Umar, sehingga ia fokus pada hal-hal yang belum disinggung.
Pertama, ia menyebutkan bahwa Hauzah harus tampil sebagai saromad—yakni pelopor perubahan dalam masyarakat. Dalam forum pembacaan Pesan Rahbar di Qom, ia menyaksikan berbagai makalah dan pembahasan yang disusun oleh komisi-komisi ilmiah. Namun, sayangnya, sebagian besar makalah itu hanya tersedia dalam bahasa Persia. Ia menyesalkan hal ini karena bila disajikan dalam bahasa Arab atau Inggris, pesan tersebut akan menjangkau umat Islam yang lebih luas secara global.
Kedua, Ust. Abdullah mengangkat urgensi pengakuan akademik dari Hauzah, baik dalam bentuk gelar formal seperti S1, S2, dan S3, atau dalam bentuk ijazah ilmiah. Hal ini sangat dibutuhkan di Indonesia agar alumni Hauzah bisa mendapatkan pengakuan formal di lembaga-lembaga akademik nasional. Tanpa legitimasi ilmiah dari Hauzah, alumni akan kesulitan untuk berkiprah di institusi pendidikan tinggi di dalam negeri.
Selain itu, Ust. Abdullah juga menekankan pentingnya rekrutmen murid Hauzah dari kalangan muda. Menurutnya, alumni harus aktif menjaring calon pelajar dari kalangan SMP dan SMA. Dengan sekitar 300 kabupaten dan lebih dari 3000 kecamatan di Indonesia, dibutuhkan ribuan dai dan mubaligh yang siap turun langsung ke masyarakat.
Hawzah dan Pesantren: Analisis Komparatif Dr. Hossein Mottaghi
Sebagai narasumber ketiga, Dr. Hossein Mottaghi memberikan perspektif makro dan komparatif antara Hauzah di Qom dan pesantren di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa inti dari Pesan Rahbar bukan sekadar dipahami, tetapi harus diamalkan secara nyata dalam bentuk program dan gerakan.
Dr. Mottaghi mengapresiasi langkah IKMAL yang telah menjadi pelopor dalam mengkaji Pesan Rahbar. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia justru lebih dahulu menggelar kajian Pesan Rahbar dibandingkan Hauzah di Qom sendiri, yang menunjukkan semangat luar biasa para alumni di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa Hauzah memiliki tiga tugas utama, yaitu:
- Menjaga esensi Islam dari distorsi.
- Mencetak ulama pewaris Nabi.
- Merumuskan pandangan baru yang relevan dengan zaman, sekaligus mengkritisi pemikiran lama.
Dalam sejarahnya, selama dua hingga tiga abad terakhir, baik Hauzah maupun pesantren di Indonesia memiliki tiga tanggung jawab besar:
- Melawan penjajahan asing.
- Melawan arus pemikiran sekuler Barat.
- Menjaga kehidupan spiritual umat Islam.
Dr. Mottaghi menyamakan perjuangan Hauzah di Iran yang lahir dari tekanan rezim Qajar dan Pahlevi, dengan pesantren di Indonesia yang tetap eksis meski berada di bawah penjajahan Belanda dan tekanan misi Kristen. Setelah Indonesia merdeka pun, pesantren tetap bertahan sebagai penjaga moral, keilmuan, dan identitas Islam bangsa ini.
Dr. Mottaghi mengakhiri dengan menegaskan bahwa alumni Hauzah hari ini harus meneladani tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Ayatullah Burujerdi, dan Imam Khomeini. Mereka tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga pengaruh luas dan kemampuan untuk mengubah masyarakat.
Beliau menyerukan dengan penuh semangat:
“Kita semua adalah Mutahhari, Burujerdi, Khomeini, bahkan Ustaz Husain Al-Habsyi zaman ini.”
Ia menekankan bahwa Pesan Rahbar harus menyatu dalam diri kita, menjadi arah hidup, bukan hanya bahan diskusi. Ia berharap IKMAL dapat membentuk forum kajian rutin, agar Pesan Rahbar tidak berhenti di wacana, tetapi membuahkan langkah-langkah strategis dan aksi nyata.
Kegiatan Ngaji Pesan Rahbar menjadi momentum penting bagi IKMAL untuk memperkuat peran alumni Hauzah sebagai agen transformasi umat. Dengan merespons Pesan Rahbar secara serius, alumni tidak hanya menjaga kesinambungan tradisi ilmiah Hauzah, tetapi juga membuka jalan bagi gerakan intelektual dan spiritual yang kontekstual dengan tantangan zaman.
Melalui kegiatan ini, IKMAL menegaskan komitmennya sebagai jaringan alumni yang visioner, terorganisir, dan siap memimpin perubahan demi kemajuan umat Islam di Indonesia dan dunia. [Nasrotu Rahma]





