Perempuan dan Keluarga

Figur Ayah dalam Membangun Keluarga Maslahah

Keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat, sehat, dan berperadaban. Dari lingkungan keluargalah seseorang pertama kali mengenal nilai, moral, kasih sayang, serta tanggung jawab. Karena itu, kualitas sebuah keluarga akan sangat menentukan kualitas generasi yang lahir darinya. Di dalam keluarga, sosok ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pemimpin, pendidik, pelindung, sekaligus teladan bagi seluruh anggota keluarga. Islam memandang peran ayah sebagai amanah yang sangat besar dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dalam momentum Hari Keluarga Nasional, penting untuk kembali mengingat bahwa keberhasilan membangun keluarga maslahah sangat bergantung pada hadirnya figur ayah yang mampu menjalankan perannya secara utuh.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan seorang ayah tidak hanya diukur dari kemampuannya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga dari keberhasilannya membimbing istri dan anak-anak menuju kehidupan yang penuh keberkahan.

Peran ayah dalam Islam bersifat multidimensional. Ia hadir sebagai penjaga kehidupan keluarga dari aspek biologis, psikologis, ekonomis, sosiologis, ideologis, dan spiritual. Ayah memenuhi kebutuhan dasar keluarga, memberikan rasa aman, membentuk karakter anak, membangun hubungan sosial yang sehat, menanamkan nilai-nilai kehidupan, sekaligus membimbing seluruh anggota keluarga menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena itu, peran ayah tidak dapat dipersempit hanya sebagai pencari nafkah, melainkan sebagai pemimpin yang mengarahkan keluarganya menuju kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat.

Al-Qur’an menghadirkan banyak teladan tentang figur ayah. Nabi Ibrahim AS mengajarkan tauhid dan ketaatan kepada putranya melalui dialog yang penuh hikmah. Nabi Ya’qub AS memperlihatkan kesabaran dan kasih sayang yang luar biasa kepada anak-anaknya. Nabi Zakariya AS mengajarkan pentingnya doa untuk memperoleh keturunan yang saleh, sementara Rasulullah SAW menjadi contoh paling sempurna dalam kelembutan, kasih sayang, pendidikan, dan pembinaan keluarga. Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa ayah ideal bukanlah sosok yang hanya memiliki kewibawaan, tetapi juga mampu menghadirkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadis-hadis Nabi semakin memperjelas luasnya tanggung jawab seorang ayah. Seorang ayah diperintahkan mendidik agama, mengajarkan Al-Qur’an, memberikan nama yang baik, memenuhi nafkah yang halal, berlaku adil kepada seluruh anak, menjaga keamanan keluarga, meluangkan waktu bersama anak-anak, menjadi tempat mereka berbagi cerita, serta menjadi teladan dalam akhlak dan ibadah. Dengan demikian, keberhasilan seorang ayah tidak hanya diukur dari keberhasilan ekonomi, tetapi juga dari kualitas hubungan emosional, pendidikan, dan spiritual yang dibangunnya bersama keluarga.

Konsep keluarga maslahah tidak dapat dipisahkan dari tujuan syariat Islam. Dalam kajian ushul fikih, para ulama seperti Imam al-Ghazali, al-Syathibi, Izzuddin ibn Abd al-Salam, Najmuddin al-Tufi, dan Ibn Asyur menjelaskan bahwa syariat diturunkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Tujuan tersebut diwujudkan melalui penjagaan terhadap lima kebutuhan pokok manusia, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam konteks keluarga, ayah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kelima aspek tersebut terpelihara melalui pendidikan agama, perlindungan keluarga, pembentukan karakter, pengelolaan ekonomi yang halal, serta pembinaan generasi yang saleh.

Islam juga memandang bahwa ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Ayah memimpin, melindungi, membimbing, dan menyediakan nafkah, sedangkan ibu menjadi pusat pengasuhan, pendidikan emosional, dan penjaga kehangatan keluarga. Ketika keduanya menjalankan amanah sesuai perannya dan saling bekerja sama, akan lahir keluarga yang dipenuhi ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Keluarga seperti inilah yang menjadi pondasi lahirnya generasi berakhlak mulia dan masyarakat yang kuat.

Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru bagi para ayah. Di era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), anak-anak tumbuh di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kondisi ini menghadirkan berbagai tantangan seperti kecanduan gawai, krisis identitas, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, hingga menurunnya interaksi sosial. Oleh karena itu, ayah masa kini tidak cukup hanya memahami agama, tetapi juga harus mampu menjadi mentor digital, pendamping penggunaan teknologi, penyaring informasi, dan pembangun literasi digital bagi keluarganya. Nilai-nilai Al-Qur’an dan teladan Rasulullah SAW harus tetap menjadi kompas dalam menghadapi perubahan zaman.

Peran ayah memang mengalami perkembangan sesuai perubahan zaman. Jika dahulu ayah lebih dikenal sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga, kini ia juga dituntut menjadi sahabat anak, mitra pengasuhan bagi istri, komunikator yang baik, serta pembimbing dalam menghadapi tantangan dunia digital. Meski bentuk perannya berkembang, hakikat tanggung jawab seorang ayah tetap tidak berubah, yaitu menghadirkan keluarga yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, keluarga maslahah tidak lahir dengan sendirinya. Ia dibangun melalui kepemimpinan yang dilandasi iman, ilmu, hikmah, kasih sayang, komunikasi yang sehat, kedisiplinan, dan keteladanan. Seorang ayah bukan hanya pemimpin rumah tangga, tetapi juga penjaga nilai, pendidik generasi, pelindung keluarga, dan pewaris akhlak. Ketika ia menjalankan seluruh amanah tersebut dengan baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga melahirkan masyarakat yang harmonis, bangsa yang kuat, dan peradaban yang bermartabat. Sebagaimana ditegaskan dalam keseluruhan materi presentasi, tujuan akhir dari peran ayah adalah menghadirkan keluarga yang sakinah, mawaddah, rahmah, serta memperoleh ridha Allah SWT.

Disampaikan oleh Prof Abdul Mujib pada webinar Hari Keluarga Nasional yang diselenggarakan oleh PP Muslimat NU

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button