Arba’in: Momentum Pemulihan Sosial Bangsa Irak di Tengah Gejolak Geopolitik
Namun setiap tahun dunia justru menyaksikan fenomena yang sangat berbeda ketika jutaan peziarah Imam Husain memasuki Irak menuju Karbala. Negara yang selama ini sering diberitakan sebagai kawasan konflik berubah menjadi pusat pelayanan kemanusiaan terbesar di dunia.

Annisa Eka Nurfitria,Lc,M.Sos- Irak merupakan salah satu negara yang paling banyak mengalami guncangan geopolitik dalam sejarah modern Timur Tengah. Selama beberapa dekade terakhir, negara ini harus menghadapi Perang Iran Irak, Perang Teluk, embargo ekonomi internasional, invasi Amerika Serikat pada 2003, konflik sektarian, hingga perang melawan ISIS. Rangkaian konflik tersebut menghancurkan infrastruktur, melumpuhkan perekonomian, merenggut jutaan nyawa, dan memaksa jutaan warga meninggalkan kampung halaman mereka. Tidak banyak negara yang mampu bertahan setelah mengalami tekanan politik, militer, dan sosial dalam waktu yang begitu panjang.
Dalam banyak kasus, perang berkepanjangan biasanya meninggalkan trauma kolektif yang sulit dipulihkan. Konflik cenderung melahirkan ketidakpercayaan, memperlemah hubungan antarmasyarakat, serta mengikis semangat gotong royong. Namun setiap tahun dunia justru menyaksikan fenomena yang sangat berbeda ketika jutaan peziarah Imam Husain memasuki Irak menuju Karbala. Negara yang selama ini sering diberitakan sebagai kawasan konflik berubah menjadi pusat pelayanan kemanusiaan terbesar di dunia.
Puluhan juta peziarah dari berbagai negara datang melalui berbagai jalur menuju Karbala. Mereka berasal dari latar belakang budaya, bahasa, dan kebangsaan yang berbeda. Namun setibanya di Irak, mereka disambut oleh masyarakat setempat dengan pelayanan yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Ribuan pos pelayanan atau mawkib berdiri di sepanjang jalur peziarah. Rumah-rumah warga dibuka bagi orang asing. Makanan dan minuman tersedia tanpa dipungut biaya. Tempat istirahat disiapkan sepanjang perjalanan. Layanan kesehatan diberikan secara cuma cuma. Semua dilakukan secara sukarela tanpa mengharapkan keuntungan ekonomi.
Pelayanan tersebut tidak berhenti pada kebutuhan dasar. Banyak relawan yang mencuci pakaian para peziarah, memperbaiki sandal yang rusak, menyediakan kursi roda bagi lansia, hingga memijat kaki peziarah yang telah berjalan ratusan kilometer. Semua itu dilakukan dengan penuh penghormatan. Bagi masyarakat Irak, para peziarah bukan sekadar tamu biasa, melainkan tamu Imam Husain yang harus dimuliakan.
Fenomena ini tidak dapat dipahami hanya sebagai tradisi keagamaan. Dari perspektif sosial, Arba’in menjadi momentum pemulihan sosial bagi masyarakat Irak. Peristiwa ini tentu tidak menghapus luka akibat perang maupun menyelesaikan seluruh persoalan politik yang masih dihadapi negara tersebut. Namun setiap tahun Arba’in mampu menghidupkan kembali nilai nilai yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat, yaitu solidaritas, kepedulian, pengorbanan, dan semangat melayani sesama.
Yang membuat fenomena ini semakin luar biasa adalah kenyataan bahwa sebagian besar pelayanan tersebut berasal dari masyarakat sipil. Negara memang memiliki peran dalam pengamanan dan pengaturan lalu lintas, tetapi penyediaan makanan, minuman, tempat tinggal, hingga berbagai kebutuhan peziarah didominasi oleh masyarakat. Ribuan keluarga secara sukarela membuka rumah mereka sebagai tempat menginap. Banyak di antara mereka memasak sejak dini hari agar para peziarah dapat menikmati makanan hangat. Tidak sedikit pula yang mengubah halaman rumah, toko, bahkan kebun menjadi tempat beristirahat bagi orang orang yang sama sekali belum pernah mereka kenal.
Di balik pelayanan yang tampak sederhana itu terdapat pengorbanan ekonomi yang sangat besar. Banyak keluarga mulai menabung sejak Arba’in tahun sebelumnya berakhir. Selama berbulan bulan mereka menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli beras, daging, sayuran, air minum, teh, susu, dan berbagai kebutuhan logistik lainnya. Para petani menyumbangkan hasil panennya. Para pedagang menyisihkan keuntungan usahanya. Pemilik usaha meminjamkan kendaraan, generator listrik, dan perlengkapan memasak untuk mendukung pelayanan kepada jutaan peziarah.
Tidak sedikit masyarakat yang memilih meliburkan aktivitas pekerjaan mereka selama sekitar satu pekan. Sebagian toko tutup sementara. Sebagian usaha mengurangi jam operasional. Banyak keluarga mendedikasikan seluruh waktunya untuk melayani peziarah Imam Husain. Dalam sudut pandang ekonomi, keputusan tersebut mungkin dianggap sebagai kehilangan pendapatan. Namun bagi masyarakat Irak, menjamu para peziarah merupakan kehormatan yang nilainya jauh melampaui keuntungan materi.
Dari sudut pandang geopolitik, Arba’in memperlihatkan sesuatu yang jarang dibahas. Selama bertahun tahun Irak dikenal sebagai arena persaingan berbagai kekuatan regional dan internasional. Dunia lebih sering melihat Irak melalui berita perang, konflik politik, aksi terorisme, atau perebutan pengaruh negara negara besar. Namun setiap Arba’in berlangsung, masyarakat Irak menunjukkan wajah yang sama sekali berbeda. Mereka memperlihatkan bahwa bangsa yang pernah berkali kali dihantam perang masih memiliki modal sosial yang sangat kuat.
Puluhan juta orang dapat bergerak menuju satu kota dalam waktu yang hampir bersamaan. Kebutuhan pangan, air bersih, tempat istirahat, hingga berbagai layanan dasar dapat dipenuhi melalui partisipasi masyarakat secara sukarela. Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan sosial, budaya berbagi, dan semangat gotong royong tetap bertahan meskipun negara tersebut telah melewati berbagai konflik besar selama puluhan tahun.
Arba’in juga menjadi bukti bahwa perang tidak selalu berhasil menghancurkan karakter suatu bangsa. Pengalaman menghadapi invasi, embargo, konflik bersenjata, dan terorisme tidak membuat rakyat Irak kehilangan rasa kemanusiaannya. Justru pengalaman tersebut membentuk masyarakat yang memahami arti penderitaan dan pentingnya membantu sesama. Mereka pernah merasakan kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal, hidup dalam pengungsian, serta menghadapi ketidakpastian selama bertahun tahun. Pengalaman itu melahirkan empati yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada jutaan peziarah.
Ironinya, sisi inilah yang justru jarang menjadi perhatian dunia. Ketika terjadi ledakan bom atau konflik politik, Irak selalu menjadi sorotan utama media internasional. Namun ketika rakyatnya berhasil menyelenggarakan salah satu pelayanan masyarakat terbesar di dunia secara damai setiap tahun, perhatian tersebut jauh lebih kecil. Padahal dari perspektif sosiologi maupun geopolitik, Arba’in merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat sipil mampu membangun ketahanan sosial di tengah tekanan politik yang berkepanjangan.
Arba’in juga menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari besarnya anggaran militer, pertumbuhan ekonomi, atau posisi strategis dalam percaturan politik internasional. Ada kekuatan lain yang sering diabaikan, yaitu modal sosial. Kepercayaan, solidaritas, budaya berbagi, dan kesediaan berkorban merupakan fondasi yang memungkinkan masyarakat tetap bertahan meskipun negaranya berkali kali dihantam perang.
Karena itu, Arba’in tidak dapat dipahami semata sebagai ritual keagamaan. Ia merupakan fenomena sosial yang memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa membangun kembali solidaritasnya setiap tahun. Jika perang memecah masyarakat, maka Arba’in menyatukan mereka dalam satu tujuan bersama. Jika konflik melahirkan ketidakpercayaan, maka Arba’in membangun kembali kepercayaan melalui pelayanan tanpa pamrih. Momentum inilah yang menjadikan Arba’in sebagai ruang pemulihan sosial bagi rakyat Irak.
Di tengah berbagai tantangan politik dan keamanan yang masih dihadapi hingga hari ini, rakyat Irak membuktikan bahwa penderitaan tidak selalu melahirkan kebencian. Sebaliknya, pengalaman panjang menghadapi perang justru melahirkan masyarakat yang mampu menjadikan kepedulian sebagai identitas bersama.



