BERITA

Strategi Statistik

Fajruddin Muhtar- Orang Syiah terbiasa mengkalkulasi perang bukan hanya berdasarkan jumlah korban yang jatuh, tetapi lebih kepada efek yang ditimbulkan. Lihat saja kisah Imam Husain as yang mengobarkan perlawanan di Karbala dengan hanya 72 pasukan setianya. Pasukan kecil ini melawan 3000 tentara yang didukung oleh kekuatan pemerintah yang luar biasa. Secara hitung-hitungan, pasukan Imam Husain sudah kalah. Namun, sejarah membuktikan bahwa apa yang diperjuangkan oleh Imam Husain tetap abadi. Sebagaimana sabda Nabi, “Perjuangan Husain adalah api abadi yang tak akan pernah padam selamanya.” Keberanian dan keteguhan hatinya bukan hanya memberi dampak pada zamannya, tetapi menginspirasi hingga hari ini.

Perjuangan semacam ini juga tercermin dalam sejarah perjuangan Indonesia. Ketika Jakarta dikuasai oleh Belanda, para founding fathers kita mengungsi ke Yogyakarta dan menjalankan pemerintahan dalam keterbatasan. Dari ruang-ruang kecil, mereka mengirimkan siaran radio RRI dengan tujuan agar suara Indonesia terdengar ke seluruh dunia. Begitulah perjuangan. Meski tampak kecil dan terbatas, suara itu mampu mengubah konstelasi politik dunia. Dengan sedikit sumber daya dan banyak tekad, mereka berhasil menyuarakan kemerdekaan Indonesia ke seantero jagat.

Kini, para penerus Imam Husain berjuang melawan Zionis yang didukung oleh negara-negara penjajah. Secara statistik, kelihatannya mereka jauh tertinggal. Namun, itu bukan tujuan mereka. Iran ingin menunjukkan itmamul hujjah, bahwa ada negara Islam yang berani melawan kezaliman, di saat negara-negara Islam lainnya lebih memilih mencari kehangatan di pelukan Amerika. Kalaupun Iran kalah, sejarah akan mencatat bahwa ada pemerintah Islam yang berjuang dan yang lainberkhiana. Ada juga umat Islam yang menjadi rayap, merusak kemuliaan Islam dari dalam. Iran tidak memilih jalan selemah iman. Mereka ingin melakukannya dengan cara yang paling ksatria: menantang Goliath dan melawan dengan kekuatan.

Iran membuktikan bahwa kehebatan Amerika Serikat dan Zionis hanyalah mitos yang sengaja diciptakan oleh penjajah untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak melawan. Beberapa tahun lalu, orang-orang mengagungkan sistem pertahanan Iron Dome yang tampak tak tertembus. Namun, mitos tersebut dipatahkan oleh Iran dengan teknologi sederhana yang jauh lebih murah. Iran menunjukkan bahwa dengan teknologi yang jauh lebih sederhana dan murah, mereka dapat meruntuhkan sistem pertahanan yang semula dianggap tak terkalahkan. Kini, Iron Dome tak lagi diagungkan seperti dulu. Bukankah itu sebuah kemenangan yang menumbuhkan kepercayaan diri?

Kepercayaan diri ini tentu tak akan tumbuh dari umat yang terlanjur menjadi buih. Umat yang tak memiliki keteguhan prinsip, hanya mengikuti arus tanpa pernah bertindak. Susah untuk meyakinkan buih tersebut bahwa gelombang lautan sedang kuat-kuatnya menerjang batu karang, melobangi sedikit demi sedikit titik lemah di karang itu. Buat umat yang terbiasa menjadi buih, mungkin menyenangkan hanya menjadi cheerleader dalam sebuah pertandingan. Merasa menjadi ksatria di lapangan, padahal yang dipakai adalah rok dan popok untuk menahan kencing. Mereka merasa aman di luar medan perjuangan, namun tidak pernah tahu bahwa di balik perjuangan, ada harga yang harus dibayar.

Di dunia ini, keberanian dan keteguhan dalam prinsip adalah kunci. Iran menunjukkan bahwa meskipun dunia mencatat mereka sebagai pihak yang kalah secara statistik, mereka tetap berhasil mengubah arah sejarah. Sejarah bukan hanya milik mereka yang menang dalam pertempuran fisik, tetapi juga milik mereka yang berjuang dengan hati dan tekad. Mereka yang berani melawan meskipun tampak mustahil.

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button