BERITA

Hari Quds dan Identitas Islam: Menjawab Tantangan Perjuangan Palestina

Dalam rangka memperingati Hari Quds Sedunia, Ikatan Alumni Jamiah Almustafa (IKMAL) bekerja sama dengan Majlis Talabah Malaysia (MAALA) mengadakan sebuah webinar internasional. Acara ini menghadirkan para cendekiawan dari berbagai negara yang membahas tantangan dan peluang dalam perjuangan pembebasan Palestina serta bagaimana identitas Islam memainkan peran penting dalam perjuangan tersebut.

Salah satu narasumber utama dalam webinar ini adalah Prof. Dr. Hossein Mottaghi, Direktur Almustafa International University perwakilan Indonesia menyampaikan apresiasi kepada para alumni Jamiah Almustafa dan para cendekiawan yang hadir. Ia menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan dalam hari-hari terakhir bulan Ramadan ini merupakan langkah berarti yang diharapkan mendatangkan berkah dan taufik dari Allah.

Mengenang Para Pejuang Palestina

Webinar ini juga menjadi ajang untuk mengenang para pejuang besar yang telah berjuang dan gugur demi kemerdekaan Palestina. Nama-nama seperti Syahid Hasan Nasrullah, Sayyid Hasyim Syafiyudin, serta para tokoh Hamas seperti Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar disebut sebagai simbol perlawanan yang tak kenal lelah.

“Memperingati Hari Quds bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah momentum bagi seluruh umat Muslim dan para pembela kebenaran di dunia untuk memperkuat perjuangan ini,” tegas salah satu pembicara.

Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa perjuangan Palestina harus dikaitkan dengan realitas kontemporer, baik dalam hal tantangan, peluang, maupun strategi menghadapi musuh.

Dari perspektif sejarah, Prof. Mottaghi menjelaskan bahwa Palestina telah lama menjadi pusat gejolak akibat ambisi pihak-pihak yang ingin menghancurkan identitas Islam. “Apa yang terjadi di Palestina hari ini bukanlah sekadar efek dari peristiwa tahun lalu, melainkan bagian dari rentetan sejarah panjang yang berakar pada upaya kolonialisme untuk menghilangkan identitas Islam dari tanah suci tersebut,” ujarnya.

Beliau juga menyoroti bahwa Palestina, sebagai negeri yang dihuni oleh Muslim, Kristen, dan Yahudi selama lebih dari 1400 tahun, memiliki identitas yang khas dan berakar kuat pada Islam. Namun, gerakan Zionis yang muncul dari kalangan Yahudi dan sebagian kelompok Kristen telah berusaha menghapus identitas tersebut demi kepentingan imperialisme.

“Salah satu krisis terbesar yang dihadapi dunia Islam saat ini adalah krisis identitas,” tegas Prof. Mottaghi. “Sayangnya, banyak seminar dan diskusi tentang Palestina yang hanya berfokus pada isu-isu umum tanpa mengangkat permasalahan inti, yaitu bagaimana keluar dari krisis ini.”

Menghadapi Krisis dengan Kepercayaan Diri

Prof. Mottaghi juga menyoroti dua unsur penting dalam menghadapi krisis: kemampuan mengelola krisis dan membangun kepercayaan diri.

“Dunia tidak akan pernah lepas dari krisis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi dan keluar dari situasi tersebut dengan strategi yang tepat,” katanya.

Dalam konteks Palestina, kepercayaan diri menjadi kunci utama dalam menghadapi musuh. Contohnya adalah bagaimana rakyat Palestina mampu bangkit dari kehancuran, bertahan dalam kondisi sulit, dan terus berjuang untuk mempertahankan tanah air mereka.

Untuk itu, beliau menekankan pentingnya dua bentuk jihad utama:

  1. Jihad Ilmiah, yaitu meningkatkan metodologi dakwah dan menyampaikan ajaran Islam yang sebenarnya kepada dunia.
  2. Jihad Media, yaitu melawan propaganda yang terus-menerus mendukung kepentingan Zionisme melalui narasi yang lebih kuat dan berbasis fakta.

Menemukan Solusi Nyata untuk Perjuangan Palestina

Webinar ini menggarisbawahi bahwa perjuangan Palestina bukan sekadar isu politik, tetapi juga pertarungan ideologi dan identitas. Jika seminar-seminar yang diadakan hanya berisi propaganda tanpa menyentuh permasalahan inti, maka mereka tidak akan berdampak signifikan terhadap perjuangan Palestina.

Prof. Mottaghi mengingatkan kembali tentang sebuah kisah dari seorang diplomat Inggris yang pernah mendengar suara azan di selatan Iran. Ketika ia bertanya apakah azan itu berdampak pada imperialisme Inggris, seseorang menjawab bahwa azan tidak memiliki pengaruh apa pun. “Kalau begitu, biarkan mereka azan sesuka mereka,” jawab diplomat tersebut.

Analogi ini digunakan untuk menjelaskan bahwa selama seminar dan diskusi tentang Palestina hanya sebatas retorika tanpa solusi konkret, Zionis tidak akan merasa terganggu. Oleh karena itu, para cendekiawan di IKMAL, MAALA, dan komunitas intelektual Muslim harus mulai membangun penelitian yang lebih dalam terkait krisis identitas dan strategi untuk mempertahankannya.

Dengan kepercayaan diri dan strategi yang tepat, perjuangan Palestina dapat terus diperjuangkan tidak hanya dalam ruang diskusi, tetapi juga dalam aksi nyata yang mengancam program-program Zionisme secara langsung.

 

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button