BERITAInformasiJamiatul Mustafa

Hauzah Ilmiyah Qom: Seratus Tahun Perkhidmatan Ilmu Ahlulbait

Membuka Renungan Seabad Makna

Seratus tahun silam, Qom adalah sebuah kota kecil yang tenang, dengan jalanan berdebu dan rumah-rumah sederhana dari tanah liat mengelilingi haram yang bercahaya, kubah emas Sayyidah Ma’sumah. Peziarah datang membawa doa dan harapan, dalam hening yang diselimuti aroma dupa dan gema azan. Saat itu, Qom adalah tempat jiwa mencari ketenangan, pusat spiritualitas yang menjaga warisan ruhani yang tak ternilai.

Siapa sangka, dari kesederhanaan tersebut, Qom berkembang menjadi lentera bagi dunia Syiah. Ia bukan hanya pusat ilmu, tetapi juga denyut semangat perjuangan dan tempat perenungan eksistensial. Hauzah Ilmiyah Qom, yang kini telah memasuki usia seabad, lebih dari sekadar lembaga pendidikan; ia adalah denyut nadi bagi pencari makna dalam cahaya Ahlulbait yang gemilang.

Pada tahun 1922, seorang alim besar dari Arak, Ayatullah Abdul Karim Ha’eri Yazdi, memindahkan majelis ilmunya ke Qom. Ayatullah Ha’eri tidak hanya seorang ulama yang zuhud dan tawadhu’, tetapi juga memiliki visi besar untuk menghidupkan kembali kejayaan ilmu Syiah, yang pernah tersebar di Najaf. Ia merangkul murid-muridnya, membangun atmosfer spiritual yang menjadi roh dari Hauzah Qom hingga hari ini.

Namun, seratus tahun bukanlah sekadar angka; ia adalah sebuah pertanyaan. Apa yang telah tertanam dalam perjalanan waktu ini? Apa warisan yang akan datang setelahnya? Di tengah arus informasi yang begitu deras dan godaan duniawi yang tak terelakkan, mampukah Qom tetap menjadi oase spiritual, menjaga kesejukan dan keberanian untuk tetap bertahan?

Cahaya di Tengah Gulita
Tak banyak pusat ilmu yang mampu melampaui sekadar menjadi menara gading akademik. Hauzah Qom, dalam seabadnya, tak hanya mencetak faqih dan mufassir, namun juga gelombang kesadaran. Ia menjadi persimpangan teks-teks klasik dan gelisah zaman; tempat thalabeh belajar bukan hanya kerendahan hati pada ilmu, namun juga menegakkan kepala di hadapan tirani.

Imam Khomeini adalah nahkoda babak ini. Bukan sekadar marja’ dengan keluasan ilmu fikih dan hikmah, namun juga revolusioner yang menjadikan Qom sebagai pangkalan perubahan sosial. Dari sinilah Wilâyat al-Faqîh lahir, teori kepemimpinan ruhani yang meletakkan tanggung jawab moral di pundak ulama, bukan untuk bersembunyi di balik kitab, namun menuntun umat menuju keadilan. Dakwah Imam tak lahir dari mimbar kosong, namun dari bilik-bilik sederhana tempat ia mengajar, mendengar, dan membangkitkan.

Bersama Imam, hadir pula Syahid Muthahhari, jembatan antara tradisi dan modernitas, yang merangkai hikmah Islam dalam bahasa zaman kini. Dan Allamah Thabathaba’i, dengan Tafsîr al-Mîzân, membangun tradisi tafsir filosofis yang menjadi suluh hingga kini.

Lalu ada tokoh yang muncul setelahnya, dengan tugas monumental untuk melanjutkan warisan keilmuan dan perjuangan ideologis yang telah diletakkan oleh Imam Khomeini. Imam Ali Khamenei, sebagai penerus kepemimpinan, mengambil peran yang sangat penting dalam menjaga arah Hauzah Qom. Beliau tidak hanya memperluas pengaruhnya sebagai marja’ yang dihormati, tetapi juga sebagai pemimpin politik yang visioner.

Imam Khamenei, meskipun fokus utama beliau adalah pengembangan spiritual dan intelektual, juga menegaskan pentingnya keterlibatan sosial-politik ulama dalam kehidupan umat. Dalam pandangannya, Hauzah Qom harus tetap menjadi cahaya yang menyinari umat, baik dalam bidang ilmu, akhlak, maupun dalam mengatasi tantangan dunia modern. Di bawah kepemimpinan Imam Khamenei, Hauzah Qom berkembang pesat, tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai tempat pengembangan intelektual yang memberi respons terhadap isu-isu global.

Revolusi Islam Iran dan Pengaruhnya di Indonesia
Revolusi Islam Iran tahun 1979, yang dipimpin oleh Imam Khomeini, tidak hanya mengubah peta politik dunia, tetapi juga membawa dampak besar pada perkembangan pemikiran Islam di dunia, khususnya di Indonesia. Revolusi ini menyebarkan pesan perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjajahan, serta menghidupkan kembali semangat Islam yang bersih dari intervensi Barat.

Di Indonesia, Revolusi Iran memberikan inspirasi baru bagi banyak intelektual Muslim, aktivis, dan pemuda yang mencari cara untuk mengintegrasikan ajaran Islam dengan tantangan zaman. Revolusi ini memperkenalkan konsep Wilâyat al-Faqîh sebagai alternatif model kepemimpinan yang menggabungkan aspek spiritual dan sosial-politik dalam satu kesatuan.

Hauzah Ilmiyah Qom, sebagai pusat pendidikan dan pemikiran yang menjadi fondasi Revolusi Iran, menjadi titik referensi utama bagi banyak ulama dan pelajar Indonesia yang terinspirasi oleh perubahan besar ini. Melalui seminar, kuliah, dan publikasi, ide-ide dari Qom mengenai Islam politik, hak asasi manusia, dan pemerintahan yang adil mulai masuk ke dalam diskursus pemikiran Islam Indonesia.

Para pemikir dan aktivis seperti KH. Jalaluddin Rakhmat, Nurcholish Madjid, Gus Dur, dan tokoh-tokoh Islam lainnya mulai menanggapi pemikiran Imam Khomeini dan sistem politik yang dia ajukan, meskipun dengan interpretasi yang berbeda. Namun demikian, pengaruh Qom tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan organisasi kemasyarakatan yang terinspirasi oleh visi revolusioner ini, yang kemudian mengembangkan diskursus keagamaan dengan lebih terbuka dan berani menghadapi isu-isu kontemporer.

Revolusi Iran juga memberikan dampak besar pada kesadaran politik umat Islam Indonesia. Banyak kalangan yang menganggap bahwa Revolusi Iran adalah contoh bagaimana umat Islam bisa berperan dalam membentuk tatanan sosial dan politik yang adil dan Islami, tanpa harus tunduk pada sistem Barat.

Sebagai hasil dari pengaruh tersebut, banyak generasi muda Indonesia yang mulai menggali lebih dalam pemikiran-pemikiran revolusioner Islam yang lahir dari Hauzah Ilmiyah Qom dan Revolusi Iran. Mereka memandang pentingnya membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan berlandaskan pada ajaran Islam yang hakiki.

Dengan demikian, pengaruh Hauzah Ilmiyah Qom melalui Revolusi Iran telah membentuk banyak aspek pemikiran dan perjuangan umat Islam di Indonesia, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi, yang terus berkembang hingga kini.

Qom Mendunia: Merajut Peta Islam
Setelah seratus tahun, Qom menjadi pusat ilmu yang melampaui batas-batas negara. Dengan kurikulum yang memadukan akhlak, fikih, dan khazanah Syiah, Qom telah menarik perhatian umat Islam dari seluruh dunia, dari Andorra hingga Indonesia, Oregon hingga Nigeria. Ribuan penuntut ilmu datang dengan tujuan yang sama: mencari cahaya ilmu yang hakiki, yang tak hanya terhenti pada teori, tetapi juga dalam praktik kehidupan.

Jami’atul Musthafa al-‘Alamiyah menjadi jembatan Qom dengan dunia. Di sinilah para thalabeh tak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga mengamalkannya, membawa perubahan bagi masyarakat mereka setelah kembali ke tanah air.

Tak hanya terbatas pada ruang kelas, Hauzah Qom juga memanfaatkan teknologi untuk membuka pintu dakwah ke seluruh dunia. Dengan hadirnya website, aplikasi, dan media sosial, Qom telah menjangkau umat Islam yang lebih luas, memungkinkan kitab-kitab klasik seperti Sahifah Sajjadiyah dan al-Kâfî tersedia dalam berbagai bahasa dan dapat diakses oleh siapa saja yang ingin mendalami warisan intelektual Ahlulbait.

Abad Kedua: Menelisik Kekuatan dan Jalan Pembaruan
Memasuki abad kedua, Hauzah Ilmiyah Qom harus meluangkan waktu untuk merenung, mengevaluasi perjalanan panjangnya. Ini bukan saat untuk berpaling dari masa lalu yang gemilang, namun untuk merefleksikan pencapaian serta kekuatan yang harus terus diperkuat, sambil mengakui tantangan dan kelemahan yang perlu diperbaiki.

Hauzah Qom harus terus mempertanyakan dirinya: Apakah ia masih memegang teguh warisan intelektual yang mendalam? Apakah ia cukup terbuka terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan ruh asli dari ajaran Islam Syiah? Kritik terhadap Hauzah, baik dari dalam maupun luar, adalah bukti dinamisnya tradisi keilmuan yang hidup. Kritik tersebut bukanlah untuk meruntuhkan, tetapi untuk menghidupkan kembali semangat kritis dan inovatif, agar Hauzah Qom tetap menjadi mercusuar bagi dunia Islam yang mengedepankan keberanian intelektual dan respons terhadap tantangan sosial.

Pada seabad yang penuh berkah ini, kami mengucapkan selamat atas perjalanan panjang Hauzah Ilmiyah Qom dalam menyalakan cahaya ilmu dan spiritualitas. Semoga Hauzah terus berkiprah, menerangi umat Islam dengan pencerahan yang hakiki dan menjadi mercusuar pemikiran bagi dunia.
Semoga Hauzah Ilmiyah Qom tetap menjadi tempat bagi pencari ilmu untuk menggali kebenaran dan keadilan, terus berkembang dengan keberanian intelektual, dan menegakkan kedamaian serta keadilan sosial bagi umat manusia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap perjuangan yang lahir dari Qom, menjadikannya sebagai cahaya yang tak pernah padam bagi umat Islam di seluruh dunia. Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa ‘ala Âli Sayyidina Muhammad. ( Muhammad Fajrudin)

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button