Laut Akan Terbuka, Kezaliman Akan Tenggelam: Janji Allah bagi Palestina

Annisa Eka Nurfitria, Lc, M.Sos- Kisah Nabi Musa dan Laut Merah adalah salah satu peristiwa paling menginspirasi dalam sejarah manusia, bukan sekadar cerita, tetapi pelajaran abadi tentang harapan, keteguhan iman, dan pertolongan Allah yang datang di saat paling genting. Ketika Nabi Musa dan Bani Israel dikejar oleh Fir’aun dan pasukannya, mereka tiba di tepi Laut Merah. Di depan mereka membentang lautan luas, sementara di belakang mereka, pasukan Fir’aun semakin mendekat dengan kekuatan besar. Dalam kondisi yang tampak mustahil untuk selamat, sebagian pengikut Nabi Musa mulai merasa putus asa. Mereka berkata, “Kita pasti akan tertangkap!” (QS. Asy-Syu’ara: 61). Namun, Nabi Musa, dengan penuh keyakinan kepada Allah, menjawab dengan tenang, “Sekali-kali tidak akan! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62). Saat itu, wahyu Allah turun memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya. Dengan kuasa-Nya, laut pun terbelah, menciptakan jalan kering di tengahnya, memungkinkan Nabi Musa dan kaumnya untuk melintasi laut dengan aman. Setelah mereka melewati laut, Fir’aun dan pasukannya dengan penuh kesombongan ikut masuk ke dalam celah yang terbuka itu, tetapi Allah kemudian menutup kembali laut tersebut dan menenggelamkan mereka seluruhnya.
“Dan (ingatlah) ketika Kami belah lautan untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikutnya, sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50).
Kisah ini adalah simbol harapan di saat segalanya tampak buntu. Ini adalah pengingat bahwa ketika seseorang berpegang teguh pada kebenaran dan bersabar dalam menghadapi kesulitan, pertolongan Allah akan datang, bahkan dengan cara yang di luar dugaan manusia. Dalam konteks Palestina hari ini, rakyat Gaza mengalami situasi yang mirip dengan apa yang dialami Bani Israel di tepi Laut Merah. Mereka dikepung dari segala arah, menghadapi blokade yang membuat mereka kelaparan dan tanpa akses terhadap kebutuhan dasar. Serangan militer Israel tak henti-hentinya menggempur mereka, membunuh ribuan orang, termasuk anak-anak dan perempuan. Dunia seolah menutup mata terhadap penderitaan mereka, seperti halnya para pembesar Mesir yang membiarkan Fir’aun bertindak sewenang-wenang terhadap Bani Israel.
Namun, sebagaimana kisah Nabi Musa, kezaliman yang dilakukan oleh Israel tidak akan bertahan selamanya. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap kekuatan tirani akan menemui ajalnya, dan pertolongan Allah akan datang pada saat yang tepat. Meskipun rakyat Palestina tampaknya terdesak tanpa jalan keluar, mereka tidak kehilangan harapan. Mereka terus berjuang dengan keberanian yang luar biasa, meski menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar. Hari ini, kita menyaksikan tanda-tanda bahwa “laut akan terbuka” untuk rakyat Palestina. Semakin banyak negara dan kelompok perlawanan yang bangkit membela mereka. Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, serta pejuang dari berbagai penjuru dunia telah menunjukkan solidaritas mereka dengan aksi nyata. Blokade yang selama ini menekan Gaza mulai berbalik menjadi bumerang bagi Israel, yang kini kehilangan citranya di mata dunia.
Fir’aun dalam kisah Nabi Musa merasa tak terkalahkan, begitu juga Netanyahu dan pemimpin Israel lainnya. Mereka percaya bahwa mereka dapat terus menindas rakyat Palestina tanpa konsekuensi. Namun, mereka lupa bahwa kekuasaan mereka tidak abadi. Allah telah berfirman dalam QS. Yunus: 92 bahwa jasad Fir’aun diawetkan sebagai bukti bagi generasi setelahnya bagaimana penguasa zalim pasti akan hancur: “Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu, agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Namun, kebanyakan manusia tetap lalai terhadap tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
Israel, dengan segala kebrutalannya, mungkin merasa seperti Fir’aun yang tak terkalahkan. Namun, seperti Fir’aun, mereka tidak akan bisa lari dari keadilan Allah. Saat ini, mungkin kita belum melihat laut itu terbelah, tetapi tanda-tandanya sudah ada. Kita hanya perlu bersabar dan tetap berjuang, sebagaimana Nabi Musa mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak putus asa. Rakyat Palestina, dengan iman dan keteguhan mereka, sedang berdiri di “tepi Laut Merah.” Mereka mungkin merasa terdesak dan tanpa jalan keluar, tetapi pertolongan Allah pasti akan datang, sebagaimana datang kepada Nabi Musa. Ini bukan sekadar optimisme kosong, tetapi janji yang sudah berkali-kali terbukti dalam sejarah. Sebagaimana Fir’aun tenggelam di Laut Merah, demikian pula kezaliman Israel akan tenggelam oleh keadilan yang ditegakkan oleh tangan-tangan yang beriman dan berjuang.
Allah telah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang zalim tidak akan selamanya menang. Dalam QS. Al-An’am: 135, Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui siapa (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.'”
Kezaliman Netanyahu dan pemimpin Israel lainnya adalah cerminan dari sejarah panjang keangkuhan para penguasa yang merasa tidak akan tersentuh oleh hukum Allah. Mereka lupa bahwa Fir’aun yang jauh lebih kuat pun akhirnya hancur. Mereka mungkin memiliki teknologi militer yang canggih, dukungan dari negara-negara adidaya, dan propaganda yang menyebar luas, tetapi semua itu tidak akan mampu melawan keadilan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dalam QS. Al-Isra: 4-7, Allah menjelaskan bahwa Bani Israil telah dua kali melakukan kezaliman besar di muka bumi, dan setiap kali itu terjadi, Allah menghancurkan mereka dengan azab yang dahsyat. Ayat ini menjadi peringatan bahwa apa yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina tidak akan berlangsung selamanya.
Hari ini, umat Islam di seluruh dunia menyaksikan perlawanan yang tak terduga dari bangsa Palestina. Mereka mungkin miskin, kelaparan, dan tanpa perlengkapan perang canggih, tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: iman dan keberanian. Sebagaimana Nabi Musa mengangkat tongkatnya dan memukul laut, rakyat Palestina juga mengangkat perjuangan mereka dengan keyakinan bahwa kemenangan bukan hanya soal kekuatan material, tetapi soal siapa yang berada di pihak kebenaran.
Laut akan terbuka, sebagaimana terbuka untuk Nabi Musa. Tirani akan tenggelam, sebagaimana Fir’aun tenggelam. Netanyahu dan rezim Zionis mungkin merasa tak terkalahkan hari ini, tetapi kezaliman mereka telah mencatatkan sejarah kehancuran mereka sendiri. Firman Allah tidak pernah meleset, dan janji-Nya pasti akan terwujud: bahwa kaum yang tertindas akan menang dan penguasa zalim akan jatuh. Rakyat Palestina telah berdiri di tepi laut sejarah, dan saatnya akan tiba ketika gelombang keadilan akan menenggelamkan semua bentuk kezaliman.



