
Jakarta, 29 Juni 2025 — Suasana haru, khidmat, dan semangat spiritual menyelimuti Husainiyah Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Sabtu siang, saat ratusan pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul dalam rangka memperingati hari syahadah Ali Akbar bin Husain AS, dalam kegiatan bertajuk Ali Akbar’s Day. Majelis ini merupakan bagian dari rangkaian acara nasional yang digelar secara serentak di enam kota besar di Indonesia, dan dipandu dengan penuh kehangatan oleh Muhammad Mahdi.
Acara dibuka dengan sambutan mendalam dari Direktur ICC Jakarta, Prof. Dr. Muhammad Syarifani, yang mengangkat tema reflektif tentang empat hal yang menentukan martabat hidup manusia: harga diri, kehormatan, umur, dan masa muda. Ia menyampaikan bahwa harga diri bukan ditentukan oleh harta atau jabatan, tetapi oleh prinsip hidup yang tidak bisa dibeli. Kehormatan adalah sesuatu yang harus dijaga, karena sekali hilang, ia sulit kembali. Umur adalah perjalanan menuju akhir, dan masa muda adalah masa paling berharga yang sering kali disia-siakan.
“Ada dua nikmat besar dalam hidup manusia yang sering baru disadari ketika sudah berlalu: nikmat waktu dan nikmat masa muda. Waktu tidak bisa dibeli kembali. Ia berjalan tanpa henti, dan banyak orang menyesali kebaikan yang tidak dilakukan ketika waktunya masih ada. Demikian juga masa muda, ia penuh semangat, namun juga penuh ujian. Maka siapa yang mampu menjaga keduanya, dia telah menggenggam kemuliaan hidupnya,” ujar Prof. Syarifani
Dalam sambutannya, ia juga menekankan bahwa Ali Akbar adalah pengejawantahan dari kepribadian Rasulullah SAW. Akhlak, ucapan, dan keberanian Ali Akbar mencerminkan ruh kenabian yang diwariskan dari kakeknya, Rasulullah SAW. Beberapa riwayat bahkan menyatakan bahwa seandainya tidak gugur dalam peristiwa Karbala, maka Ali Akbar adalah sosok yang akan mewarisi imamah sepeninggal ayahandanya, Imam Husain AS.
“Ali Akbar bukan hanya putra biologis Imam Husain, tetapi juga pewaris spiritual, akhlak, dan ilmu Ahlulbait. Dalam dirinya, Rasulullah seakan hadir kembali dalam bentuk yang lain,” imbuhnya.
Selanjutnya, ketua panitia acara Muhammad Shahab menyampaikan rasa syukur dan haru atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Alhamdulillah, atas rahmat Allah SWT, pada siang menjelang sore ini kita bisa berkumpul dalam majelis mulia untuk memperingati syahadah Ali Akbar AS. Kegiatan ini tidak sekadar seremoni, tetapi momentum spiritual untuk menyadari bahwa kehidupan pemuda tidak boleh dihabiskan tanpa arah. Sosok Ali Akbar mengajarkan bahwa pemuda mampu menjadi pelita perjuangan dan keteladanan.”
Ia menambahkan bahwa acara ini merupakan bagian dari program nasional yang diadakan secara serentak di enam daerah secara offline dan juga disiarkan secara daring (online) agar bisa menjangkau khalayak lebih luas. Enam kota yang menyelenggarakan acara ini yaitu: Jakarta, Jepara, Balikpapan, Malang, Tegal, dan Bandung.
Acara ini terselenggara berkat dukungan dan kolaborasi banyak pihak, di antaranya: icc, ikmal, Dana mustadafin, ulcis, iss, pandu abi, Huzah Khatum nabiyyin, hauzah siddiqoh zahro, hauzah ilmiah almustafa dan forum putra putri ikmal
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua IKMAL, Ustadz Husein Nahrawi, yang menyampaikan seruan reflektif tentang misi perjuangan Imam Husain AS yang menjadi warisan nilai kemanusiaan universal.
“Ayat ini (QS. Al-Hajj: 40) adalah fondasi dari misi agung yang diperjuangkan oleh Aba Abdillah al-Husain. Imam Husain membangkitkan fitrah manusia yang tertidur oleh kekuasaan zalim dan dunia yang membungkam nurani. Gerakannya bukan milik satu mazhab atau bangsa, tetapi milik siapa saja yang masih memiliki hati.”
Beliau menekankan bahwa kesadaran spiritual dan perjuangan nilai adalah benteng penting di era saat ini, di mana banyak propaganda yang mencoba menjauhkan pemuda dari nilai-nilai ilahiah.
“Kita hidup di tengah arus informasi yang deras. Banyak yang tampak menarik namun sejatinya menjauhkan kita dari nilai dan kesucian. Maka tugas amar ma’ruf dan nahi munkar adalah bentuk perlindungan: untuk diri kita, keluarga kita, dan komunitas kita. Ini bukan semata tanggung jawab sosial, tetapi kebutuhan pribadi agar tetap hidup dengan kehormatan dan kesadaran.”
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga lingkungan yang mendidik dan membentuk karakter remaja yang tumbuh dalam majelis-majelis Asyura, yang bukan hanya pertemuan ritual, tetapi ladang pendidikan ruhani dan pembentukan jati diri.
Dalam sesi penutup sambutannya, Ustadz Husein menggambarkan kemuliaan sosok Imam Ali Akbar AS sebagai pemuda paripurna:
“Al-Imam Ali Akbar adalah pemuda yang dalam sejarah Islam dikenal dengan kepatuhannya yang luar biasa, keilmuan, ketakwaan, dan ketawaduan. Dalam dirinya, seolah ruh Rasulullah hidup kembali. Maka jika kita ingin meneladani beliau, itu harus diwujudkan dengan perjuangan menuntut ilmu, meningkatkan takwa, dan membangun basīrah—yaitu pandangan hati yang tajam untuk membedakan kebenaran sejati dari tipuan dunia.”
“Ketika kita menjadikan Imam Ali Akbar AS sebagai teladan, itu bukan hanya tentang kebanggaan emosional, tapi juga tentang komitmen untuk hidup dalam cahaya nilai yang beliau wariskan,” pungkas Ustadz Husein.
Acara ditutup dengan pembacaan doa Ziarah Warits, diiringi lantunan syair-syair duka yang menggema di ruang husainiyah. Tangis haru para peserta pecah dalam keheningan yang menyatu dengan suasana duka dan cinta kepada Ahlulbait.
Majelis ini meninggalkan kesan mendalam, memperkuat pesan bahwa pemuda bukan hanya generasi penerus, tetapi juga generasi pelopor yang mampu menyalakan kembali semangat Karbala dalam kehidupan modern. Ali Akbar’s Day di ICC Jakarta bukan hanya peringatan sejarah, tetapi panggilan jiwa bagi setiap anak muda untuk hidup dalam keberanian, ilmu, dan cinta ilahi.



