BERITA

Quds Day 2025: Perlawanan Semakin Kuat, Palestina Semakin Dekat dengan Kemenangan

Annisa Eka Nurfitria,Lc,M.Sos  Quds Day atau Hari Al-Quds, yang diperingati setiap Jumat terakhir di bulan Ramadan, telah menjadi simbol perlawanan global terhadap penjajahan Zionis. Sejak dideklarasikan oleh Imam Khomeini pada 7 Agustus 1979, Quds Day tidak hanya berfungsi sebagai ajakan solidaritas untuk Palestina, tetapi juga sebagai panggilan bagi dunia Islam untuk bersatu melawan ketidakadilan dan kezaliman yang dilakukan oleh Israel serta para pendukungnya. Di berbagai belahan dunia, terutama di Iran, Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman, Quds Day dirayakan dengan demonstrasi besar-besaran. Masyarakat turun ke jalan, membawa bendera Palestina, membakar bendera Israel dan Amerika, serta meneriakkan slogan-slogan perlawanan seperti “Matilah Israel” dan “Matilah Amerika”. Peristiwa ini menegaskan bahwa perlawanan terhadap Zionisme bukan hanya sekadar wacana, tetapi telah menjadi gerakan nyata yang semakin kuat dari tahun ke tahun.

Quds Day 2025 berlangsung dalam konteks yang jauh lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Serangan besar yang dilakukan kelompok perlawanan Palestina pada 7 Oktober 2023, yang dikenal sebagai Operasi Badai Al-Aqsa, telah mengubah peta konflik di Timur Tengah. Dalam serangan tersebut, pejuang Palestina berhasil menembus pertahanan Israel, menewaskan lebih dari seribu tentara dan warga Zionis, serta menghancurkan mitos superioritas militer Israel. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan brutal ke Gaza yang hingga kini masih berlangsung. Lebih dari 40.000 warga Palestina telah gugur, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Blokade total yang diberlakukan membuat Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan, dengan kelaparan dan penyakit yang semakin meluas. Namun, perlawanan terhadap Israel tidak hanya datang dari Gaza. Hizbullah di Lebanon meningkatkan serangan terhadap wilayah utara Israel, meluncurkan ratusan rudal setiap minggu ke pangkalan-pangkalan militer Zionis. Di Tepi Barat, operasi-operasi perlawanan semakin intensif, sementara kelompok Ansarullah di Yaman mulai menargetkan kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel di Laut Merah. Quds Day 2025 menjadi bukti bahwa perjuangan untuk membebaskan Palestina tidak hanya semakin besar, tetapi juga semakin mendekati kemenangan. Namun, perjuangan ini juga menuntut pengorbanan besar.

Dunia perlawanan berduka atas gugurnya Sayyid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah, yang syahid dalam serangan udara Israel pada 27 September 2024. Serangan yang menargetkan markas utama Hizbullah di Beirut itu menyebabkan beliau gugur bersama beberapa komandan utama perlawanan lainnya. Jenazahnya telah dimakamkan dengan penuh penghormatan, diiringi lautan manusia yang datang dari seluruh penjuru Lebanon dan dunia Islam. Gugurnya Nasrallah menjadi pukulan besar bagi perlawanan, tetapi seperti yang telah berulang kali ditegaskan olehnya, Hizbullah bukanlah gerakan yang bergantung pada satu individu. Di bawah kepemimpinannya, Hizbullah telah tumbuh menjadi kekuatan yang ditakuti oleh Israel. Dari kemenangan pada tahun 2000 yang mengusir Israel dari Lebanon, hingga perang 33 hari pada 2006 yang mempermalukan Zionis, Nasrallah telah menjadikan Hizbullah sebagai pilar utama perlawanan di kawasan. Kini, Naim Qassem, yang sebelumnya menjabat sebagai wakilnya, telah mengambil alih kepemimpinan dan berjanji untuk melanjutkan perjuangan hingga Palestina benar-benar merdeka.

Dengan semakin panasnya konflik di Timur Tengah, Quds Day 2025 diperkirakan akan menjadi yang terbesar dalam sejarah. Para pejuang perlawanan, dari Gaza hingga Beirut, dari Damaskus hingga Sana’a, akan menjadikannya sebagai momentum untuk mengirim pesan kuat kepada dunia: bahwa Zionisme tidak akan bertahan lama, dan kehancuran Israel adalah kepastian sejarah. Di Iran, peringatan Quds Day tahun ini akan menjadi ajang bagi rakyat dan pemimpin negara untuk menegaskan kembali dukungan tanpa syarat terhadap perjuangan Palestina. Sementara itu, di Lebanon, Quds Day akan menjadi penghormatan bagi Sayyid Hassan Nasrallah, yang telah mengorbankan hidupnya demi membela Palestina dan menegakkan keadilan di dunia Islam. Di Gaza dan Tepi Barat, peringatan Quds Day akan digelar di tengah reruntuhan bangunan yang hancur akibat agresi Israel. Namun, meskipun mereka telah kehilangan rumah, keluarga, dan tanah air, semangat perjuangan mereka tidak akan pernah padam.

Hari Al-Quds bukan sekadar seruan simbolis, tetapi juga strategi perlawanan nyata. Perlawanan Palestina yang semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa Israel bukanlah kekuatan yang tak terkalahkan. Setiap Quds Day, dunia menyaksikan bagaimana perjuangan ini semakin membesar, dan bagaimana perlawanan melampaui batas geografis. Dari kelompok perlawanan di Gaza hingga Hizbullah di Lebanon, dari kelompok-kelompok muqawamah di Irak hingga Ansarullah di Yaman, semuanya bergerak dalam satu barisan yang sama: menentang penjajahan dan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan, tetapi juga penuh harapan. Meskipun Israel terus berusaha mempertahankan dominasinya dengan kekuatan militer dan dukungan dari Barat, gelombang perlawanan semakin sulit dibendung. Dengan gugurnya Sayyid Hassan Nasrallah, para pejuang perlawanan justru semakin bertekad untuk melanjutkan jalan yang telah ia tempuh. Kematian seorang pemimpin tidak akan menghentikan perjuangan ini, tetapi justru akan menjadi bahan bakar yang memperkuat tekad para pejuang.

Di Iran, jutaan orang diperkirakan akan turun ke jalan dalam peringatan Quds Day 2025. Mereka tidak hanya menyerukan kebebasan bagi Palestina, tetapi juga mengirim pesan kepada dunia bahwa perlawanan akan terus berlanjut hingga cita-cita yang diperjuangkan Imam Khomeini benar-benar terwujud. Di berbagai negara lain, termasuk di Eropa dan Amerika, aksi solidaritas terhadap Palestina semakin besar, meskipun ada upaya keras dari pemerintah Barat untuk membungkamnya. Rakyat dunia semakin sadar bahwa isu Palestina bukan hanya isu regional, tetapi isu keadilan global.

Hari itu semakin dekat. Quds Day 2025 bukan hanya sebuah peringatan, tetapi deklarasi bahwa perlawanan akan terus berlanjut hingga Palestina benar-benar bebas. Seperti yang selalu ditegaskan oleh Nasrallah: “Israel lebih lemah dari sarang laba-laba. Dengan keteguhan, kesabaran, dan perjuangan, kita akan menyaksikan kehancurannya.”

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button