FilsafatKajian

Filsafat dan Kehidupan Diri Kita Part-2

Dr. Fardiana Fikria Qur’any, M.ud- Diri (al-nafs) dalam diri manusia memiliki keunikan tersendiri. Akal dan hati menjadi satu alat epistemologi mendasar bagi manusia. Meskipun pada aktualitasnya hati menunjukkan dirinya terlebih dahulu daripada aktualitas akal. Hal ini dapat kita lihat manusia dalam fase-fase awal kehidupannya sebagai bayi.

Manusia memulai hidupnya sebagai bayi dengan mengaktivasi secara bertahap alat pengetahuannya, terutama panca Indera; mata, telinga, hidung, kulit, lidah. Pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan pada fase awal juga adalah pengetahuan inderawi yaitu, pengetahuan yang diperoleh melalui interaksi antara panca Indera dengan objek-objek inderawi. Pengetahuan yang terjadi karena ada perantaraan gambaran di pikiran manusia. Semua pengetahuan manusia pada awalnya adalah persepsi inderawi, persepsi psikologis seperti (marah, sedih, Bahagia, dll) ada dalam tingkat yang sangat sederhana. Dalam fase ini, seluruh tindakannya didorong oleh keinginannya (hasratnya) seperti hasrat makan, Hasrat tidur, dll). Dalam fase ini juga manusia sudah memiliki akal material (al-Aql al-Maddah) artinya secara potensial wadahnya sudah ada untuk manusia melakukan aktivitas berpikirnya.

Selain persepsi psikologis, keinginan-keinginan manusia saat usia bayi fokus pada keinginan memenuhi kebutuhan dirinya yang sederhana seperti pemenuhan rasa lapar, rasa haus, rasa panas, rasa tidak nyaman dan setelah manusia berusia 18 bulan ke atas, anak sudah memiliki rasa keinginan untuk memutuskan sesuatu dengan sendiri. Misalnya, ingin memilih baju sendiri, ingin makan sendiri. Dalam tahap ini manusia kecil yang disebut sebagai Batita (Bawah Tiga Tahun) sudah mulai menggunakan fungsi akalnya untuk menghimpun data dan informasi dari apa yang dilihat, didengar bahkan disentuh olehnya. Meski pada fase ini, aktivitasnya masih didominasi dengan keinginannya. Keinginan tanpa ada nilai baik-buruk pada dirinya. Dengan demikian, orangtua memiliki ruang besar pada diri anak untuk mengkonstruk nilai di pikiran anak-anaknya. Karena sejak awal, nilai bukan sesuatu yang secara otomatis muncul di dalam pikiran anak.

Sejak usia 3 tahun, anak sudah bisa diajak bicara soal baik-buruk dan benar-salah. Orangtua perlu memberikan pengetahuan apa yang baik dan buru juga benar dan salah pada anak-anaknya, sehingga anak perlahan mulai bisa menilai dirinya sendiri. Meski tentu sikap dan tindakannya akan tetap memiliki kecenderungan pada keinginan-keinginannya. Setelah lewat 3 tahun, anak akan berpegang-teguh pada apa yang dia anggap benar dengan tentu masih adanya kecenderungan pada keinginan-keinginannya. Sebagai contoh, seorang anak diberitahu bahwa memakan permen terlalu banyak akan membuat gigi menjadi rusak. Seorang anak yang mendengar pernyataan tersebut tidak akan lagi memakan permen saat itu, tapi bisa jadi setelah lupa akan pernyataan tersebut, anak itu akan tetap memakannya, karena kecenderungannya tetap pada keinginannya.

Begitulah gambaran manusia sejak kecil hingga usia lima tahun dan ternyata setelah penulis merefleksikan bahwa manusia hingga mendewasa selalu berdinamika dengan dirinya, jiwanya dan kecenderungan-kecenderungannya. Dalam Filsafat Islam, kita mengenal potensialitas hati yang positif dan di sisi lain negatif. Al-Qur’an memberikan informasi mengenai hati. Hati sebagai lokus pertemuan hamba dengan Tuhan sekaligus tempatnya seluruh penyakit hati seperti iri, dengki. Dalam kajian kosmologi Sachiko Murata dijelaskan bahwa segala hasrat dan keinginan yang ada di dalam diri manusia bersumber dari hati yang menghadap ke alam semesta sehingga menghasilkan tarikan yang kuat pada diri ke alam semesta. Dengan demikian, kecenderungannya cenderung pada hasratnya sebagai manusia.

 Hasrat manusia secara irfani adalah sesuatu yang bersifat suci karena segala sesuatu yang ada ini tidak lain dan tidak bukan hanya dari Allah SWT, dengan demikian hasrat memiliki nilai kesucian tersendiri seperti hasrat makan, hasrat memimpin, hasrat pada keindahan, hasrat seksual, hasrat berilmu. Namun hasrat ini tidak dibiarkan begitu saja sendirian, hasrat membutuhkan akal atau hati permukaan dalam untuk memberikan hasrat jalannya yang benar, sehingga tidak menghilangkan dimensi kesuciannya. Misalnya, hasrat makan pada awalnya baik, karena tujuan dari makan memberikan manusia energi untuk bergerak, beribadah, dll. Tetapi hasrat makan bisa menjadi buruk ketika mendominasi diri manusia itu sendiri.

Dengan demikian, hasrat atau dorongan alamiah dalam diri senantiasa bekerja dalam diri manusia dalam tiap fase usia atau tahapan perkembangan manusia. Mulai dari anak-anak hingga lansia. Oleh karena itu, pengelolaan hasrat menjadi hal penting terutama saat memasuki tingkatan akal aktualnya. Akal memiliki tugas dan peran penting dalam pengelolaan hasrat. Misalnya, hasrat makan jika tidak dikelola oleh akal akan mengakibatkan kerugian bagi manusia seperti mengidap penyakit bahkan kematian. Begitu juga dengan hasrat seksual, pengelolaannya harus dilakukan secara rasional agar tidak terjadi perilaku kekerasan seksual, pelecehan seksual.

Dinamika antara hasrat dan akal mengingatkan penulis pada sebuah hadis yang meriwayatkan tentang Jihad al-Akbar. Jihad al-Akbar adalah perjuangan untuk menaklukan hasrat dan memenangkan akal atas dominasi hasrat. Perjuangan ini perlu diajarkan secara bertahap sejak anak mulai bisa membuat keputusan-keputusan atas dirinya sendiri. Membuat keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar, sehingga manusia terhindar dari penguasaan hasrat atas dirinya. Dalam filsafat, akal memiliki ruang yang besar untuk membantu jiwa dalam pengelolaan hasrat, karena akal akan menghantarkan manusia pada kesadaran eksistensialnya dan kesadaran eksistensial akan menghantarkan manusia pada kesadaran akan tindakan yang benar.

Pertanyaan selanjutnya, sampai kapankah kita sebagai manusia melakukan perjuangan menaklukan hasrat diri? Selama kita masih memiliki hasrat dan memberikan kesadaran lebih pada hasrat, maka sampai kapanpun kita akan terus melakukan perjuangan untuk menaklukkan hasrat dengan akal kita sendiri.

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button