Filsafat dan Hidup Kita Sendiri Part-1
Dr. Fardiana Fikria Qur’any, M. Ud- Belajar filsafat seperti belajar ilmu lainnya, memunculkan satu pertanyaan mendasar yaitu, untuk apa mempelajari filsafat? Sebagai sebuah ilmu, filsafat berisi pemikiran para tokoh mulai dari Yunani sampai Islam yang membahas tentang segala sesuatu atau realitas yang ada di alam ini.[1] Sebagai sebuah metode, filsafat menggunakan metode dialektika[2] dalam memperoleh jawaban dari setiap pertanyaan. Salah satu tema yang dibahas oleh hampir semua filsuf ialah, manusia; pengetahuan dan jiwanya.
Pengetahuan manusia dibahas secara menyuruh dalam kajian epistemologi, sementara filsafat jiwa menjadi bagian penting dalam pembahasan ontologi dan juga dalam kaitannya dengan pengetahuan. Dengan demikian, kajian filsafat erat kaitannya dengan diri manusia itu sendiri. Pertanyaannya kemudian, apa pentingnya mengenal diri dengan mempelajari filsafat ? karena filsafat mengajarkan manusia untuk bertanya tentang dirinya sendiri secara dialektis sehingga menghantarkan dirinya pada pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang diri menghantarkan manusia pada tindakan berdasarkan pengetahuan yang benar. Lebih dari itu, mengenal diri menghantarkan manusia pada pengenalan akan Tuhannya.[3] Dengan demikian, hadirnya filsafat dalam kehidupan manusia menjadi hal yang sangat penting.
Pentingnya filsafat bagi kehidupan kita akan terpahami dengan baik melalui penjabaran dua bidang yang telah disebut di atas yaitu, pengetahuan manusia dan jiwanya. Pertama, terkait pengetahuan manusia dalam kajian epistemologis, Murtadha Muthahhari dalam karyanya Pengantar Epistemologi Islam[4] menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan manusia mulai dari membahas hubungan antara epistemologi, pandangan dunia dan ideologi hingga membahas neraca pengetahuan (ukuran benar-salahnya pengetahuan). Keseluruhan pembahasan epistemologi bertujuan agar pembaca punya struktur berpikir epistemik dan bisa menilai salah dan benar dengan ukuran yang pasti.
Berpikir epistemik, berpikir rasional, menilai salah-benar secara rasional bukanlah sesuatu yang serta merta terjadi dalam diri manusia. Kriteria nilai pengetahuan tidak langsung terbentuk begitu saja pada pikiran manusia sejak awal dilahirkan, oleh karena itu perlu dikonstruks oleh pengetahuan itu sendiri. Lebih tepatnya pengetahuan tentang pengetahuan itu sendiri atau teori pengetahuan. Hal ini terbukti, ketika orangtua berusaha mengkonstruk anaknya nilai benar-salah juga baik-buruk atas tindakan anaknya. Membangun kriteria nilai adalah kerja akal manusia. Akal merupakan entitas tersendiri yang ada di dalam jiwa manusia.
Ibn Sina mengklasifikasi jiwa manusia berdasarkan potensialitas dirinya. Setidaknya ada tiga klasifikasi jiwa manusia menurut Ibn Sina yaitu, jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyyah), jiwa binatang (al-nafs al-haywaniyyah) dan jiwa rasional (al-nafs al-natiqiyyah). Jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyyah) adalah jiwa manusia yang memiliki potensialitas tumbuh. Hal ini terbukti bahwa diri manusia senantiasa tumbuh dan melalui fase-fase pertumbuhan itu sendiri. Seorang bayi sebelum menjadi seutuhnya seorang bayi, ia tumbuh dari satu proses reproduksi seorang ibu di dalam janinnya yang bertumbuh hingga menjadi seorang bayi. Begitu pun bayi mengalami satu pertumbuhan yang luar biasa hingga ia menyempurna di usia batita (bawah tiga tahun) hingga usia anak, remaja, dewasa dan lansia. Itu adalah potensialitas jiwa tumbuhan.
Kedua, jiwa binatang. Jiwa ini tidak hanya memiliki potensi untuk bertumbuh tetapi juga berkehendak. Kehendak pada jiwa binatang (al-nafs al-haywaniyyah) inilah yang membedakan jiwa binatang dengan jiwa tumbuhan. Selain berkehendak, jiwa binatang ini juga mulai punya potensi merasakan yang umumnya sering dibahasakan dengan ‘insting’. Hewan memiliki insting yang kuat dalam merasakan gejala bencana alam.
Ketiga, jiwa rasional (al-nafs al-natiqiyyah). Jiwa ini memiliki potensialitas tertinggi diri manusia yaitu, berpikir rasional. Dengan berpikir rasional, manusia bisa mengkonstruk nilai benar-salah (logika), baik-buruk (moral). Kemampuan ini hanya dimiliki oleh manusia saja. Sedangkan tumbuhan hanya memiliki jiwa tumbuhan dan hewan hanya memiliki jiwa tumbuhan dan hewan, sedangkan manusia memiliki seluruh jiwa yang dimiliki oleh tumbuhan dan hewan sekaligus memiliki potensialitas yang lebih tinggi daripada sekedar bertumbuh dan merasa, berkehendak, tetapi juga bisa membangun nilai atas setiap pertumbuhan, kehendak dan geraknya berdasarkan kriteria kebenaran dan kebaikan yang dikonstruk.
Jiwa rasional tidak semata-mata aktual begitu saja dalam diri manusia, melainkan perlu diasah sehingga potensi berpikir rasional menjadi aktual. Ibn Sina dalam klasifikasi lainnya, membagi tahapan kemampuan berpikir manusia menjadi empat (4) yaitu. Akal material (al-Aql al-Maddi), akal potensial (al-Aql al-Malaka), akal aktual (al-Aql bil fi’il) dan akal perolehan (al-Aql al-Mustafad). Pertama, akal material (al-Aql al-Maddi),
Akal material (al-Aql al-Maddi) adalah potensialitas dasar manusia utk melakukan aktivitas berpikir. Adapun akal potensial (al-Aql al-Malaka) adalah manusia mulai menerima berbagai macam informasi berupa gambaran dan konsep-konsep sederhana yang ada di pikirannya yang merupakan hasil interaksi dirinya dengan lingkungan di luar dirinya. Ini adalah fungsi pertama dari rasio manusia, setelah itu ada tingkatan setelahnya yaitu akal aktual (al-Aql bil fi’il), fungsi akal pada tahap ini sudah menjadi aktivitas berpikir yang lebih tinggi lagi dari sekedar menghimpun gambaran, tetapi juga melakukan proses klasifikasi hingga penilaian benar-salah, baik buruk. Terakhir ada akal perolehan (al-Aql al-Mustafad), akal ini berhubungan dengan akal aktif yang memberikan informasi secara langsung.
Akal berperan penting dalam membuat keputusan-keputusan yang didasari oleh pengetahuan yang benar. Akal sebagai bagian dari entitas jiwa punya peran besar dalam menentukan sikap dan tindakan seseorang, oleh karena itu mengenal akal beserta fungsinya dan juga cara kerjanya akan membuat manusia bisa memilah apa yang benar dan salah.
[1] Referensi untuk mengenal filsafat Barat bisa merujuk pada buku dari Bertrand Russel yang berjudul A History of Western Philosophy dan rujukan falsafah Islam mengacu pada buku A History of Muslim Philosophy karya M.M. Syarif.
[2] KBBI mendefinisikan dialektika sebagai “hal berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara menyelidiki suatu masalah.
[3] Man arafa nafsah, faqad arafa rabbah (siapa mengenal dirinya, maka dia telah mengenal Tuhannya)
[4] Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam (Jakarta: Sadra Press, 2010).



