AkhlakBERITAKajian

Ibadah Qurban; Melepaskan Kepemilikan & Keterikatan Terhadap Dunia

Euis Daryati

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati Hari Raya Idul-Adha dengan melaksanakan ibadah qurban menyembelih hewan ternak sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Namun, lebih dari sekadar ritual penyembelihan, ibadah qurban menyimpan pelajaran spiritual yang sangat dalam. Ibadah qurban diambil dari peristiwa perintah penyembelihan Nabi Ismail as oleh ayahnya, Nabi Ibrahim as.


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Shaffat [37]: 102)

Allah SWT tidaklah memberikan perintah yang membahayakan manusia. Dia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya dalam rangka menguji kepatuhan dan kecintaan Nabi Ibrahim as kepada-Nya. Nabi Ibrahim as setelah sekian lama menanti kehadiran seorang anak, namun ketika anak yang ditunggu-tunggu tersebut tumbuh dewasa, kemudian Allah SWT memerinthakan untuk menyembelihnya. Di sinilah kepatuhan dan cinta Nabi Ibrahim as tengah diuji, apakah akan patuh atas perintah Tuhannya dan lebih mencintai-Nya, ataukah lebih mencintai putranya? Apakah menganggap putranya sebagai miliknya, ataukah sebagai amanah dan titipan-Nya sehingga cinta kepada putra-Nya tidak akan mengalahkan cinta kepada Tuhannya..

Qurban dan Makna Kepemilikan

Hewan qurban yang disembelih bukanlah sesuatu yang sepele. Ia dibeli dengan harta yang sah, hasil jerih payah, bahkan terkadang menjadi hewan peliharaan yang dicintai. Namun, dalam qurban, semua itu dikorbankan bukan karena tidak berharga, tapi justru karena yang berharga itulah yang paling tepat untuk diuji keikhlasannya.

Allah SWT berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)

Melalui qurban, seorang muslim belajar bahwa segala sesuatu yang dimilikinya bukan miliknya sepenuhnya, melainkan titipan Allah SWT yang bisa diminta kapan saja. Harta, tahta, keluarga adalah titipan yang kapan saja harus siap akan diambil. Ini adalah latihan spiritual untuk tidak terlalu melekat pada dunia. Segala yang ada di sisi kita dan semua yang kita miliki adalah titipan yang sewaktu-waktu akan diambil oleh pemilik sejatinya, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun; semua berasal dari Allah SWT dan akan Kembali kepada-Nya.

Qurban; Latihan Melepaskan Dunia

Cinta dunia, jika tidak dikendalikan, dapat melahirkan keserakahan, kedengkian, dan keengganan untuk berbagi. Segala kekacauan yang terjadi karena sangat terikat dan sangat mencintai dunia. Qurban hadir sebagai rem untuk menyeimbangkan kecintaan terhadap dunia dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ketika seseorang bersedia melepaskan sebagian hartanya untuk ibadah qurban, ia sedang menyembelih ego, nafsu kepemilikan, dan keterikatan berlebihan terhadap dunia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan (hubbud dunya ra’su kulli khatiah).”
(HR. Baihaqi)

Meneladani Ketundukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Ibadah qurban juga mengingatkan kita pada pengorbanan besar Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim bersedia menyembelih anaknya sendiri karena perintah Allah SWT. Nabi Ismail pun menerima perintah tersebut dengan lapang dada. Peristiwa ini adalah simbol puncak ketundukan dan pelepasan terhadap segala keterikatan duniawi.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Shaffat [37]: 102)

 

Keduanya mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT lebih utama daripada rasa kepemilikan atas apa pun, bahkan terhadap anak sendiri.

Membangun Jiwa Sosial dan Kepedulian

Qurban juga memperkuat kepedulian sosial. Daging hewan qurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat luas, mempererat ukhuwah dan meratakan rasa syukur. Ini adalah bentuk nyata bahwa harta yang kita miliki juga ada hak orang lain di dalamnya.

Ibadah qurban adalah momentum tahunan yang seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi menjadi titik awal untuk menyembelih rasa kepemilikan, keserakahan, dan keterikatan terhadap dunia. Qurban adalah pelajaran tentang ikhlas, tentang memberi, dan tentang kembali kepada Allah SWT dengan hati yang lebih bersih.

Mari kita jadikan qurban sebagai sarana mendidik jiwa, bukan hanya menunaikan kewajiban lahiriah. Sebab hakikatnya, yang Allah SWT terima bukan daging dan darah hewan qurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan kita.

 

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

 

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button