BERITA

Imam Khomeini dan Palestina: Mengapa Amerika Disebut Setan Besar?

Dina Y. Sulaeman

          Banyak yang mempertanyakan, mengapa Iran terus menyuarakan pembelaan pada Palestina? Apakah ini karena Iran ingin “ambil muka” di Dunia Islam? Banyak yang mempertanyakan, “Mana bukti bahwa Iran anti-Israel? Hingga kini tidak ada satu peluru pun yang diarahkan Iran ke Israel!”

          Ketika akhirnya Iran, sebuah negara yang diembargo habis-habisan oleh Barat, berhasil membangun kekuatan teknologi militernya dan membuat sendiri rudal hipersonik yang mampu menembus jantung pertahanan udara Israel, tuduhan bergeser, “Itu aksi pura-pura saja, buktinya, rudal itu tidak menghancurkan Israel!”

         Jika kita mempelajari sejarah, kita bisa melihat perlawanan Iran terhadap AS dan Israel tidak dimulai dari Palestina, melainkan dimulai dari dalam negeri. Bangsa Iran selama puluhan tahun menjadi korban penindasan ekonomi dan politik yang dilakukan AS dan Israel, dengan memanfaatkan tangan rezim Shah Pahlevi.

       Dalam berbagai orasi protesnya melawan rezim Shah, pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini sering menyebut kejahatan AS dan Israel terhadap bangsa Iran. Di antaranya:

Orasi Imam Khomeini tanggal October 26, 1964, di rumahnya di kota Qom:

Beberapa hari yang lalu, rancangan undang-undang itu dibawa ke majelis rendah Parlemen dan dilakukan pembahasan. Beberapa anggota dewan memang menyuarakan penolakan, tetapi rancangan itu tetap saja disahkan. Mereka mengesahkannya tanpa rasa malu, dan pemerintah pun dengan tanpa malu membela tindakan memalukan ini. Mereka telah merendahkan martabat rakyat Iran ke tingkat yang lebih rendah dari seekor anjing milik orang Amerika.

Jika seseorang menabrak seekor anjing milik orang Amerika, ia akan diadili. Bahkan jika Shah sendiri yang menabraknya, dia pun akan diadili. Tapi jika seorang juru masak Amerika menabrak Shah, atau menabrak marja‘ Iran (otoritas agama tertinggi), atau pejabat paling senior sekalipun, tidak seorang pun berhak mengajukan keberatan. Kenapa? Karena mereka menginginkan pinjaman dari Amerika, dan Amerika menuntut hal ini sebagai imbalannya! Tampaknya memang demikian.

Beberapa hari setelah undang-undang ini disahkan, mereka langsung mengajukan permintaan pinjaman sebesar 200 juta dolar dari Amerika, dan Amerika menyetujuinya. Disebutkan bahwa jumlah 200 juta akan dibayarkan kepada pemerintah Iran dalam jangka waktu lima tahun, dan Iran akan mengembalikan 300 juta kepada Amerika dalam jangka waktu sepuluh tahun. Apakah kalian paham apa arti semua ini?

Amerika akan menerima 100 juta dolar—atau 800 juta tuman—hanya sebagai bunga! Namun, lebih dari itu, Iran telah menjual dirinya sendiri demi memperoleh dolar-dolar ini! Pemerintah telah menjual kemerdekaan kita, merendahkan kita ke tingkat sebuah koloni, dan membuat bangsa Muslim Iran tampak lebih hina daripada kaum barbar di mata dunia! Mereka melakukan semua ini demi sebuah pinjaman sebesar 200 juta dolar, yang harus dibayar kembali sebesar 300 juta dolar! Apa yang harus kita lakukan menghadapi bencana seperti ini?

 Pada tanggal 22 Juni 1971, saat Imam Khomeini diasingkan Shah ke Irak, ia berorasi di masjid Shaykh Ansari, kota Najaf, mengomentari pesta besar yang akan diadakan Shah:

Menurut laporan, sebanyak 80 juta tuman akan dihabiskan hanya untuk Teheran dalam rangka mempersiapkan kota bagi perayaan tersebut. Para ahli telah diundang dari Israel untuk mengurus persiapan acara perayaan itu—dari Israel, negara yang merupakan musuh Islam, yang saat ini sedang berperang melawan Islam, yang telah menghancurkan Masjid al-Aqsa—sebuah kejahatan yang coba ditutup-tutupi oleh sebagian orang.

Selain itu, menurut siaran radio besar dunia, kapal-kapal tanker minyak Iran sedang dalam perjalanan menuju Israel, penuh dengan minyak Iran untuk sebuah negara yang sedang berperang dengan kaum Muslim!

        Dengan latar belakang kejahatan AS (dibantu Israel) terhadap bangsa Iran, dan kedua entitas itu juga melakukan penjajahan ekonomi dan politik di semua negara Muslim; serta mengadu-domba negara-negara Muslim, Imam Khomeini pun menyeru kepada negara-negara Muslim sedunia agar bersatu melawan AS dan Israel.

Dalam pidatonya tanggal 9 September 1964, di Masjid Azam, Qum, Imam Khomeini berkata:

Alasan mengapa kalian melihat satu pemerintahan menyerang pemerintahan lain, yang satu mengirimkan senjata untuk tentara yang lain, dan yang lain membalas dengan mengirimkan senjata ke pihak lainnya, adalah karena mereka tidak bersatu di bawah panji Islam.

Ini adalah sebuah kemalangan bagi pemerintahan-pemerintahan Muslim, bagi negara dan bangsa-bangsa Muslim, bahwa para imperialis telah mulai merancang rencana-rencana mereka sejak bertahun-tahun lalu. Selama waktu yang lama, pemerintah-pemerintah imperialis sibuk mencoba merendahkan Nabi Islam. Lalu mereka berusaha menyebarkan gagasan bahwa hukum-hukum Islam hanyalah milik masa seribu tahun yang lalu, dan sekarang sudah tidak relevan lagi.

Semua yang kami serukan hanyalah agar kalian bersatu; semua Muslim seharusnya bersatu. Kami memandang kalian semua sama. Semua Muslim, dalam pandangan kami, jika mereka menjalankan hukum-hukum Islam, maka mereka adalah saudara-saudara yang kami cintai.

Kami mencintai umat Islam, apakah mereka berasal dari Turki, Arab, Iran, atau negara mana pun, dari Afrika, Amerika, atau di mana saja. Kami mengatakan: bergandengan tanganlah; jangan membentuk front ketiga dan bersekutu dengan Israel …. Kalian semua seharusnya membentuk satu aliansi; kalian semua adalah Muslim, kalian seharusnya bersandar kepada Al-Qur’an.

       Dengan demikian, Imam Khomeini bisa disebut sebagai ideolog besar yang menggugah kesadaran umat Muslim terhadap wajah asli imperialisme global, yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Itulah mengapa ia meninggalkan sebuah warisan terminologis yang menggema hingga kini, yaitu julukan “Setan Besar” (Shaytān-e Bozorg) untuk Amerika Serikat. Julukan ini bukan sekadar retorika revolusioner, tetapi didasarkan pada pengalaman empiris panjang Iran dan bangsa-bangsa Muslim atas dominasi AS.

       Sebutan Setan Besar itu disampaikan Imam Khoeini pada 5 November 1979 (setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, dan Shah Pahlevi terguling):

 “Dalam revolusi ini, Setan Besar adalah Amerika, yang secara terang-terangan mengumpulkan setan-setan lainnya di sekelilingnya… Jika kita melihat Amerika Serikat, Setan Besar ini, mengangkat rantai dan mengumpulkan para setan di sekitarnya, itu karena cengkeraman Amerika atas negeri kita dan sumber daya kita telah terputus.”

 

Dunia Semakin Mengenali Wajah Setan Besar

       Setelah dua tahun terakhir dunia menyaksikan sendiri betapa kejamnya perilaku Israel terhadap warga Palestina, terutama di Gaza, topeng AS semakin terbuka. Dunia semakin menyadari bahwa Amerika Serikat adalah penopang utama kekejaman rezim Zionis. Delapan puluh persen senjata Israel disuplai oleh AS. AS juga memberikan hibah miliaran dollar kepada Israel dan menyediakan dukungan diplomatik. Yang terbaru, tanggal 4 Juni 2025, resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut agar Israel membuka perbatasan sehingga bantuan kemanusiaan bisa masuk, diveto oleh AS.

       Dunia kini semakin menyadari bahwa benar, rezim AS adalah Setan Besar. Rezim AS tidak hanya menindas bangsa Palestina, lewat tangan Israel, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia lewat penjajahan ekonomi dan politiknya, tetapi juga menindas rakyatnya sendiri. Uang pajak rakyat AS dipakai untuk membiayai Israel dan perang-perang di berbagai penjuru dunia. Karena itulah, dalam dua tahun terakhir aksi-aksi rakyat dunia, termasuk di AS sendiri, yang mengecam rezim Washington semakin meluas.

      Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dukungan Iran terhadap Palestina bukan sebatas kebijakan luar negeri, tetapi bagian dari identitas moral Iran. Secara umum, kebijakan luar negeri Iran adalah melawan kekuatan imperialisme global (mustakbirin) dan Palestina adalah garda terdepan dari pertempuran itu. Dan dalam medan perjuangan itu, AS adalah lambang kejahatan struktural yang harus dilawan oleh seluruh umat manusia yang menjunjung kemerdekaan, keadilan, dan harga diri.[]

Referensi

  • Sumber kutipan pidato Imam Khomeni tahun 1979: https://shorturl.at/UaeH6
  • Kutipan pidato tahun 1964 & 1971: Abdul Latif Parsons (ed). (2023). The Struggle of Imam Khomeini to Establish Islamic Republic of Iran – An Anthology of the Speeches of Imam Khomeini. International Resistance Publishers.

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button