Pesan Imam Ali Khamenei pada Refleksi Satu Abad Hauzah Ilmiah Qom : Menjadi Hauzah Terdepan – Part 1

Dalam pesan pentingnya yang disampaikan pada Konferensi Internasional peringatan 100 tahun berdirinya Hauzah Qom, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, menekankan pentingnya menjadikan Hauzah sebagai lembaga yang “terdepan dan unggul”. Menurut beliau, Hauzah tidak cukup hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi harus menjadi lembaga yang inovatif, tanggap zaman, dan berkontribusi aktif dalam merancang sistem masyarakat Islam yang modern. Beliau menyebut tugas utama Hauzah adalah “penyampaian yang lugas”, yakni kemampuan menyampaikan visi peradaban Islam dengan jelas, menyeluruh, dan membudayakannya dalam masyarakat.
Kemunculan Hauzah Qom pada awal abad ke-14 Hijriah menjadi titik penting dalam sejarah dunia Islam. Saat itu, wilayah Asia Barat tengah mengalami guncangan besar akibat campur tangan negara-negara kolonial pemenang Perang Dunia I. Dengan dalih stabilitas, mereka menguasai wilayah kaya sumber daya melalui kekuatan militer, politik, dan propaganda, serta menanamkan kekuasaan boneka di Irak, Suriah, Palestina, dan Iran.
Di Irak, Inggris membentuk monarki buatan. Di Syam, Inggris dan Prancis membagi wilayah pengaruh dan memperkuat dominasi dengan menindas rakyat serta para ulama. Di Iran, Reza Khan—seorang algojo haus kekuasaan—didorong menjadi raja dan menjalankan politik anti-agama. Di Palestina, proyek kolonisasi Zionis dimulai secara sistematis, membangun landasan bagi terbentuknya negara Israel. Siapa pun yang melawan—baik di Irak, Suriah, Palestina, atau Iran—akan dihabisi.
Kondisi sangat gelap itu menjadi latar munculnya bintang baru di Qom. Dengan ilham Ilahi, Ayatollah Abdul Karim Haeri, seorang ulama terkemuka yang saleh dan berpengalaman, hijrah ke Qom. Beliau menghidupkan kembali Hauzah yang sempat vakum, menanam kembali akar ilmu dan keimanan di tanah yang sulit, namun sarat berkah karena kedekatannya dengan makam putri Imam Musa bin Ja’far.
Meskipun Qom kala itu tidak kekurangan ulama besar, seperti Ayatollah Mirza Arbab atau Syekh Abul Qasim Kabir, namun seni mendirikan sistem Hauzah sebagai pusat keilmuan dan pendidikan keagamaan yang kokoh dan sistematis hanya bisa diwujudkan oleh tokoh sekelas Ayatollah Haeri. Beliau membawa pengalaman dari Hauzah Arak dan pengaruh dari Mirza Shirazi di Samarra. Gabungan ketekunan, strategi, dan semangat dakwah membawanya pada perjuangan yang sangat menantang.
Pada masa awal pendiriannya, Hauzah Qom harus menghadapi tekanan keras dari rezim Reza Khan, yang tanpa ampun membabat simbol-simbol keislaman. Namun Hauzah ini bertahan dan terus berkembang. Dari rahimnya lahir ulama besar seperti Ayatollah Ruhullah Khomeini, yang kelak memimpin revolusi dan menumbangkan dinasti korup Reza Pahlavi.
Para pelajar Hauzah pada masa itu hidup dalam kondisi sulit. Mereka harus menyembunyikan aktivitas belajar dari aparat, belajar di waktu fajar, berdebat diam-diam, dan kembali ke ruang-ruang gelap madrasah dengan penuh kehati-hatian. Namun Hauzah itu tak mati—ia justru menjelma menjadi pusat penyebar semangat perjuangan ke seluruh penjuru Iran, membangkitkan semangat pemuda yang terisolasi dan membakar harapan rakyat yang tertindas.
Pasca wafatnya Ayatollah Haeri, tongkat estafet dilanjutkan oleh Ayatollah Boroujerdi. Di bawah kepemimpinannya, Hauzah Qom menjelma menjadi pusat penelitian dan dakwah Syiah tingkat dunia. Kurang dari 60 tahun kemudian, Hauzah ini menjadi sumber kekuatan spiritual dan legitimasi rakyat Iran untuk menjatuhkan monarki kejam dan membangun pemerintahan Islam berbasis wahyu dan akal.
Ayatollah Khamenei memuji kontribusi besar alumni Hauzah Qom yang telah menjadikan Iran sebagai model kecintaan kepada Islam. Mereka, melalui ilmu, orasi, dan keberanian, membuktikan bahwa darah dapat mengalahkan pedang. Republik Islam Iran lahir dari rahim perjuangan keilmuan ini. Bangsa Iran, dengan bimbingan para ulama Hauzah, mampu mempertahankan negaranya dari berbagai serangan, dan terus berkembang dalam berbagai bidang.
Beliau mendoakan agar rahmat Allah senantiasa tercurah bagi Ayatollah Haeri, sang pendiri Hauzah yang penuh berkah. Menurut Khamenei, beliau adalah pribadi bijaksana, penuh keyakinan, dan menjadi pohon kebaikan yang hingga kini terus memberikan buahnya. Namun tugas Hauzah belum selesai. Maka muncullah pertanyaan utama: bagaimana Hauzah masa kini bisa terus menjadi lembaga yang “terdepan dan unggul”?
Ayatollah Khamenei mulai membedah fungsi Hauzah secara mendalam. Hauzah tidak sekadar tempat mengajar dan belajar, tapi adalah pusat peradaban yang terdiri dari lima elemen:
- Sebagai pusat ilmiah spesialis;
- Sebagai pembina kader umat yang beradab dan bermanfaat;
- Sebagai garda depan menghadapi musuh di segala bidang;
- Sebagai penyusun dan penjelas sistem sosial Islam;
- Sebagai pusat inovasi dan pencetus visi masa depan peradaban Islam.
Beliau menyatakan bahwa Hauzah Qom mewarisi kekayaan besar dari khazanah Syiah yang telah dikembangkan selama lebih dari seribu tahun oleh para ulama di bidang fikih, tafsir, hadis, teologi, dan filsafat. Namun kini, dengan munculnya tantangan dan dinamika baru di dunia modern, Hauzah harus mampu menjawab tantangan intelektual dan sosial yang belum pernah ada sebelumnya.
Ilmu fikih, sebagai inti dari tradisi keilmuan Hauzah, harus ditingkatkan secara substansial. Fikih tidak hanya menjawab kebutuhan ibadah personal, tetapi harus menanggapi isu-isu sosial kontemporer: hubungan negara dan rakyat, keadilan sosial, etika keluarga, bahkan ekologi dan lingkungan. Seorang fakih harus menguasai seluruh dimensi ilmu agama sekaligus memahami sosiologi, politik, dan psikologi manusia masa kini.
Namun ada masalah: sistem belajar di Hauzah masih terlalu panjang dan kurang efisien. Banyak kitab berat digunakan pada level awal, padahal lebih cocok untuk tingkat ijtihad. Hal ini justru memperlambat proses pembelajaran. Ayatollah Khamenei mencontohkan para ulama besar seperti Akhund Khorasani dan Sayyid Sadruddin Sadr yang pernah melakukan reformasi kurikulum.
Beliau juga mengkritik kecenderungan sebagian kalangan untuk menghabiskan waktu pada pembahasan fikih teknis yang tidak relevan. Energi dan sumber daya intelektual justru tersedot oleh perdebatan yang menjauh dari prioritas umat. Beliau menegaskan, “Ilmu yang hanya digunakan untuk reputasi dan pamer adalah hawa nafsu yang terbungkus jubah keulamaan.”
Dengan menekankan pentingnya penyampaian yang lugas dan relevan, Ayatollah Khamenei mendorong agar Hauzah aktif dalam membentuk narasi Islam modern, membangun jaringan dakwah, dan mengisi kekosongan budaya di tengah masyarakat. Dalam bagian selanjutnya, beliau akan menguraikan bagaimana Hauzah harus mencetak kader-kader dakwah yang mampu menghadapi tantangan zaman.



