Pesan Rahbar Refleksi Satu Abad : Hauzah sebagai Garda Perubahan: Akhlak, Perlawanan, dan Peradaban Part 2


Ayatollah Khamenei dalam pesannya mengajak para pelajar dan cendekiawan muda untuk memikul peran penting dalam mendidik generasi baru. Menurut beliau, perubahan besar harus dimulai dari dalam diri. Jika hati mereka bersih dan lisan mereka jujur, maka mereka akan mampu menjadi agen pembaruan akhlak umat. Kunci keberhasilan adalah keikhlasan—menutup pintu terhadap godaan kekuasaan, harta, dan status sosial. Dalam suasana yang sarat tantangan, perjuangan budaya bukanlah beban, melainkan tugas manis yang menumbuhkan tekad dan semangat.
Dalam konteks dakwah, Ayatollah Khamenei menekankan bahwa medan tabligh bukanlah panggung kosong tanpa kompetitor. Dunia saat ini dipenuhi narasi menyesatkan yang menantang nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, Hauzah harus selalu waspada dan siap menjawab setiap bentuk kekeliruan secara aktif dan terus-menerus.
Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan sumber daya manusia untuk tugas-tugas khusus: mulai dari dakwah, pengelolaan kelembagaan Hauzah, hingga keterlibatan dalam sistem kenegaraan. Semua itu memerlukan pembahasan strategis dan kurikulum yang tepat sasaran.
Masuk ke bagian selanjutnya, Ayatollah Khamenei menyampaikan satu dimensi penting dan sering dilupakan dari Hauzah: peran ulama sebagai barisan terdepan dalam menghadapi penjajahan dan tirani. Dalam 150 tahun terakhir, setiap gerakan reformasi dan revolusi besar di Iran maupun Irak selalu melibatkan ulama di garda terdepan. Tanpa kehadiran mereka, suara kebenaran tidak akan muncul. Dalam banyak kasus, suara para ulama inilah yang membangunkan masyarakat dan memicu gelombang perlawanan.
Bahkan tokoh sekuler seperti Kasravi mengakui bahwa gerakan konstitusional di Iran bermula dari kebijakan bijak dua ulama besar: Sayyid Behbahani dan Sayyid Tabataba’i. Di masa ketika kediktatoran berjaya, hanya ulama yang berani angkat suara. Kesepakatan-kesepakatan kolonial seperti Kontrak Reuters dan Tembakau pun dibatalkan atas tekanan para ulama: Molla Ali Kani, Mirza Shirazi, dan lainnya. Ulama-ulama Hauzah juga memimpin gerakan boikot terhadap tekstil asing, memperjuangkan Palestina, serta menolak penjajahan Inggris di Irak.
Ayatollah Khamenei menekankan bahwa kiprah Hauzah Qom, bersama Hauzah lain di Iran, dalam membentuk gerakan Islam, mengarahkan opini publik, dan membawa masyarakat turun ke jalan merupakan bukti kuat bahwa identitas jihad melekat erat dalam tubuh Hauzah. Santri dan cendekiawannya adalah orang-orang yang tanggap terhadap seruan perjuangan Imam, dan mereka rela terluka untuk menyampaikan nilai-nilai revolusi.
Imam Khomeini dalam pesannya yang mendalam pernah menyampaikan bahwa para ulama adalah pelopor kesyahidan dalam setiap gerakan rakyat. Mereka tidak hanya mengajarkan fikih, tetapi juga menghidupkan semangat perjuangan. Beliau menaruh harapan besar kepada generasi muda Hauzah yang memiliki semangat revolusi, dan pada saat yang sama mengecam mereka yang puas dengan belajar semata tanpa keterlibatan sosial.
Kekhawatiran Imam Khomeini cukup serius. Beliau mewaspadai gejala keterasingan Hauzah dari isu-isu umat, serta kecenderungan elitisme spiritual yang justru melemahkan fungsinya. Beliau menilai bahwa memisahkan agama dari politik adalah jebakan berbahaya yang justru disukai oleh kolonialisme dan rezim korup. Penampilan sok suci yang menjauh dari masyarakat justru menghalangi Hauzah dari peran historisnya sebagai pelopor perjuangan.
Ayatollah Khamenei mengingatkan bahwa kolonialisme dan arogansi global sangat terganggu dengan peran aktif ulama dalam perlawanan. Mereka selalu mencari cara untuk menghilangkan pengaruh ulama dari panggung politik. Oleh sebab itu, mempertahankan jati diri jihad Hauzah adalah keharusan.
Ia menyatakan bahwa kesucian agama bukan berarti pasif, tetapi justru harus terwujud dalam jihad di berbagai dimensi: intelektual, sosial, dan bahkan militer. Beliau mengutip teladan Nabi Muhammad saw ketika hijrah ke Madinah: tugas pertamanya adalah membangun pemerintahan dan menyatukan politik dan ibadah. Hauzah yang hendak menjaga integritas spiritualnya tidak boleh menjauh dari umat dan kehidupan mereka. Ia harus hadir dalam perjuangan di saat-saat krusial.
Lebih lanjut, Ayatollah Khamenei menyampaikan dimensi keempat dari peran Hauzah, yaitu: berpartisipasi aktif dalam penyusunan sistem sosial Islam. Semua masyarakat di dunia memiliki struktur sosial yang terbangun dalam berbagai sistem: politik, hukum, ekonomi, keluarga, administrasi, dan sebagainya. Sistem-sistem ini selalu didasari oleh landasan filosofis tertentu.
Dalam Islam, dasar sistem sosial bukan berasal dari tradisi Barat, tapi dari Al-Qur’an dan Sunnah. Meski fikih Syiah klasik belum membahas semua aspek ini secara eksplisit, tetapi prinsip-prinsip umum dalam fikih memiliki kapasitas untuk merancang sistem sosial Islam. Karya Imam Khomeini tentang Wilayat al-Faqih menjadi titik tolak penting dalam pengembangan ini.
Setelah berdirinya Republik Islam, upaya untuk merumuskan sistem sosial Islam terus berkembang, namun belum sepenuhnya berhasil atau terorganisir. Di sinilah Hauzah memiliki tugas utama: mengisi kekosongan tersebut dengan sistem yang terstruktur dan berbasis syariat.
Menurut Ayatollah Khamenei, Hauzah tidak bisa melakukan tugas ini sendirian. Ia harus bekerja sama dengan universitas dan lembaga akademik lainnya. Universitas dapat berperan menyaring mana konsep Barat yang valid dan mana yang bertentangan dengan nilai Islam. Sementara Hauzah bertugas menyusun dan membumikan konsep pemikiran keislaman ke dalam sistem sosial yang operasional.
Namun lebih dari itu, Hauzah harus menjadi motor penggerak peradaban. Beliau menyebutnya sebagai dimensi kelima: Inovasi Peradaban Islam Global. Inilah puncak visi Hauzah masa depan.
Bagi sebagian orang, membangun peradaban Islam mungkin terdengar seperti mimpi utopis. Tetapi sejarah telah membuktikan sebaliknya. Ayatollah Khamenei mengingatkan bagaimana Imam Khomeini, pasca tragedi penyerangan Faiziyah, menyampaikan kalimat penuh makna: “Mereka akan pergi, dan kalian akan tinggal.” Banyak yang menganggap itu angan-angan, tetapi waktu membuktikan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, rintangan terbesar pun bisa diatasi.
Peradaban Islam yang dimaksud bukan hanya simbol atau kemajuan teknologis, tapi struktur menyeluruh yang menyatukan ilmu, spiritualitas, keadilan sosial, dan martabat manusia. Ia bertolak belakang dari peradaban Barat yang dibangun di atas kolonialisme, ketimpangan sosial, dan eksploitasi sumber daya. Ayatollah Khamenei menyebut contoh nyata: ketimpangan antara kekayaan dan kelaparan di negara maju, kerusakan moral dalam keluarga, serta kekejaman yang terjadi di Palestina.
Peradaban Islam harus lahir sebagai jawaban alternatif atas semua itu. Hauzah dituntut untuk menyusun visi dan peta jalan, mulai dari prinsip hingga implementasi. Ini adalah bentuk paling mulia dari balagh mubin.
Ilmu fikih dan filsafat Islam harus berperan aktif dalam membangun fondasi peradaban ini. Ijtihad tidak bisa terlepas dari konteks ruang dan waktu. Ayatollah Sayyid Ali Khamenei mengutip Imam Khomeini: “Waktu dan tempat adalah dua unsur penting dalam ijtihad.” Artinya, hukum syariat dapat berubah sesuai perubahan kondisi sosial dan politik, asalkan tetap berpijak pada dalil-dalil sah.
Dengan cakrawala yang luas ini, Hauzah tidak hanya menjaga ilmu, tapi menghidupkan Islam dalam bentuk nyata—dalam sistem, budaya, dan peradaban. Inilah tantangan abad ke-21 bagi Hauzah Qom dan seluruh pelajar Islam.



