BERITA

Perlawanan Itu Kolektif, Bukan Kompetitif

Annisa Eka Nurfitria, Lc, M.Sos- Beberapa waktu lalu, ketika Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke arah Israel, suara-suara sinis bermunculan dari berbagai penjuru, termasuk dari sebagian masyarakat Muslim sendiri. “Iran lebay,” ujar sebagian. “Cuma buat konten.” Bahkan tak sedikit yang menyebut serangan itu “panggung sandiwara”, tanpa melihat konteks historis, geopolitik, dan nilai simbolik dari tindakan tersebut.

Dalam studi Hubungan Internasional, kita diajarkan bahwa dunia tidak dibentuk semata oleh fakta dan data, tetapi juga oleh narasi. Alexander Wendt, tokoh utama dalam teori konstruktivisme, menyatakan bahwa anarchy is what states make of it. Dengan kata lain, struktur dunia internasional dibentuk oleh makna sosial yang dibangun dan diulang oleh aktor-aktor global—bukan semata oleh kekuatan militer atau hukum internasional.

Di sinilah kita harus membaca ulang respons sinis terhadap Iran. Kenapa satu-satunya negara yang terang-terangan membela Palestina, yang secara terbuka mengirim dukungan militer, dana, dan perlindungan politik kepada Gaza, justru menjadi bulan-bulanan opini sinis? Mengapa sebagian orang—bahkan dari masyarakat Muslim di negara-negara yang mendukung Palestina—lebih mudah percaya bahwa serangan Iran adalah panggung daripada percaya bahwa itu bagian dari perlawanan?

Konstruktivisme memberikan jawabannya. Dalam pendekatan ini, tindakan aktor—baik negara maupun individu, dibentuk oleh identitas dan norma sosial yang terinternalisasi melalui narasi. Kita tidak netral saat menilai peristiwa. Kita membawa lensa, bingkai, dan bahasa yang diwariskan oleh lingkungan sosial, budaya, dan politik yang membentuk kita. Maka ketika narasi dominan global—yang selama puluhan tahun memusuhi Iran—menggambarkan negara itu sebagai ancaman, provokator, atau kekuatan destabilisasional, narasi itu tidak berhenti di media Barat. Ia merembes ke ruang sosial kita, ke pembicaraan sehari-hari, bahkan ke diskursus solidaritas Palestina.

Tanpa kita sadari, kita sering tidak sedang membaca fakta, tapi sedang mengulang bingkai yang diwariskan oleh musuh dari perlawanan itu sendiri.

Ketika Iran membalas serangan Israel dengan rudal, kita menyebutnya berlebihan. Tapi saat fasilitas nuklirnya disabotase, jenderalnya dibunuh, bahkan situs militernya diserang, kita tidak menyebut Israel lebay. Ketika Gaza blackout, kita menangis. Tapi ketika Iran menyuplai senjata agar Gaza bisa bertahan, kita curiga. Ada yang salah. Bukan pada datanya, tetapi pada konstruksi maknanya.

Iran memang tetap diserang. Tapi itu bukan bukti bahwa mereka gagal atau salah. Justru Iran diserang karena ia konsisten berdiri di garis perlawanan. Karena ia bukan hanya berbicara soal Palestina, tapi bertindak. Bukan hanya mengutuk, tapi mengirim. Dan itulah yang paling tidak disukai oleh kekuatan hegemonik global: aktor yang tidak hanya retoris, tapi aktif secara nyata melawan status quo. Bahkan pejabat Hamas secara terbuka mengatakan, “Tanpa dukungan Iran, kami takkan mampu bertahan sejauh ini.”

Namun yang lebih mengejutkan adalah bahwa sinisme terhadap Iran sering kali datang bukan dari masyarakat netral atau kelompok pro-Israel, melainkan dari dalam rumah umat Islam sendiri. Inilah yang oleh konstruktivis disebut sebagai internalisasi wacana hegemonik: ketika pihak yang tertindas justru menerima narasi lawannya dan mengulangnya dalam bentuk sinisme, keraguan, atau bahkan ejekan terhadap sekutunya sendiri.

Bentuk paling nyata dari perang saat ini bukan hanya serangan fisik, tapi perang narasi. Dan narasi bukanlah ranah netral. Ia menentukan siapa yang disebut korban, siapa yang disebut agresor. Ia menentukan siapa yang berhak membela, dan siapa yang harus disalahkan ketika membela. Ketika satu aktor yang secara konsisten membantu Palestina dibingkai sebagai pencitraan, maka yang sedang diserang bukan hanya Iran, tetapi seluruh jaringan solidaritas global.

Namun Iran bukan satu-satunya yang berdiri. Long march dari berbagai penjuru Eropa menuju Rafah, kapal bantuan kemanusiaan seperti Madleen, boikot ekonomi, protes kampus, hingga diplomasi akar rumput dari negara-negara Selatan menunjukkan bahwa perjuangan Palestina tidak berdiri sendiri. Solidaritas datang dari banyak arah, dari rakyat biasa, dari kelompok masyarakat sipil, dari jaringan transnasional.

Dan semua bentuk dukungan ini bukan saling menutupi. Mereka saling melengkapi. Long march tidak menjadi kurang berarti karena ada rudal Iran. Rudal Iran tidak menjadi tidak relevan karena ada aksi damai di universitas-universitas Barat. Justru kombinasi inilah yang membuat isu Palestina tetap hidup. Jika hanya ada satu jenis dukungan—misalnya demonstrasi tanpa tekanan militer—maka dunia akan menganggap perjuangan Palestina bisa ditekan tanpa konsekuensi. Sebaliknya, jika hanya ada perlawanan militer tanpa legitimasi sosial global, maka Israel akan terus membangun narasi bahwa semua penentangnya adalah teroris.

Konstruktivisme membantu kita memahami bahwa nilai dari perlawanan bukan hanya ada pada isi aksinya, tapi juga pada bagaimana aksi itu dibingkai, ditafsirkan, dan dibicarakan. Ketika kita menyebut long march sebagai heroik, itu membentuk kesadaran bahwa perjuangan ini punya simpati global. Ketika kita menyebut rudal Iran sebagai “panggung”, itu membentuk persepsi bahwa tidak ada kekuatan sejati yang membela Palestina, kecuali sekadar simbolisme.

Di sinilah pentingnya melawan sinisme dengan pengetahuan. Perlawanan terhadap genosida bukan hanya di medan tempur, tetapi juga di medan makna. Ketika kita mencurigai sekutu sendiri tanpa dasar, ketika kita ikut menyebarkan narasi musuh, maka kita sedang membantu pembunuhan makna dari solidaritas itu sendiri.

Kita tidak harus menyepakati semua taktik. Kritik itu perlu. Tapi kritik bukan sinisme. Kritik mengandung tawaran alternatif. Sinisme hanya melumpuhkan. Jika kita tidak melakukan apa-apa tapi menyinyir pada mereka yang berdiri, maka kita sedang menempatkan diri di posisi musuh, meskipun secara tidak sadar.

Hari ini, dari rudal yang ditembakkan ke Tel Aviv, dari langkah kaki yang menembus Eropa, dari kapal-kapal tanpa senjata yang mencoba menerobos laut, dari mahasiswa yang duduk di tenda-tenda protes, dari rakyat biasa yang mengirim sumbangan, semuanya berkata satu hal: Gaza tidak sendiri.

Dan narasi paling berbahaya adalah yang membuat seolah Gaza memang ditinggalkan.

Jika kita ingin berpihak, maka kita harus menolak narasi itu. Kita harus berani mengakui siapa yang berdiri, dan berdiri bersama mereka tanpa malu, tanpa ragu, tanpa sinis.

Karena dunia ini tidak dibentuk oleh data, tapi oleh makna.
Dan makna dibentuk oleh siapa yang berani menyuarakan yang benar.

+ posts

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button